
Tak berselang lama setelah kedatangan pak Anwar dan istrinya, mobil Olive berhenti di jalan yang cukup jauh dari kediaman Tsamara. Lantaran sebagian ruas jalan sudah di pakai untuk parkir mobil.
Sama seperti kedua orang tuanya , Anggara dan Olive pun juga tampak takjub sekaligus syok. Karena melihat design dekorasi pesta pernikahan Tsamara yang begitu, wow di mata keduanya.
"Kenapa dulu kita menikahnya tidak semewah ini?"
"Woi, sadar diri. Pesta pernikahan kita itu juga tidak kalah mewahnya dengan ini." Olive menoyor kepala suaminya.
"Sama? Sama di pandang dari sudut mana? Ya beda jauh lah."
"Makanya, kalau mau pesta pernikahan yang mewah, ya harus modal sendiri. Bukan malah minta di bayarin sama pihak perempuan. Lagian, jadi laki cuma modal burung doang."
Sstt.... Anggara menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri. Untuk menyuruh Olive diam.
Bagaimana pun juga, ia malu jika sampai ucapan Olive sampai di dengar oleh tamu undangan yang hadir bersamaan dengan mereka.
"Jaga bicaramu. Memang kamu mau, suami mu di olok-olok orang lain?"
Olive tidak menjawab, tapi hanya memutar bola mata malas, dan segera berjalan mendahului suaminya.
"Lhoh, kalian datang juga." Celetuk Farah, saat melihat kedatangan Anggara dan Olive.
"Jangan kege-eran. Kami datang juga karena terpaksa. Kakak kamu yang mengundang kami. Iya kan?" Anggara menyenggol lengan istrinya. Walaupun masih sedikit dongkol, Olive menganggukkan kepalanya.
"Masa sih? Oh, mungkin kakakku terlalu baik. Jadi meskipun kalian sudah jahat dengannya, kalian tetap di undang. Nih, souvernir untuk kalian berdua. Jangan rebutan." Ucap Farah, sambil mengulurkan dua mini gold berbentuk sepasang suami-istri dan dibungkus rapi dalam sebuah wadah kotak dan berbalut pita berwarna gold juga, ke arah Anggara dan Olive.
__ADS_1
Pria itu segera menerimanya dengan wajah yang berbinar. Karena kapan lagi akan mendapatkan souvernir dengan harga yang, wow. Sementara Olive terlihat cuek.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Anggara dan Olive berlalu pergi menuju ke kursi tamu undangan yang sudah penuh.
Namun baru dua langkah keduanya berjalan, Olive melakukan hal yang tak terduga. Ia menyerobot mini gold yang masih berada dalam genggaman tangan Anggara. Pria itu seketika terbengong menatap istrinya.
"Kamu laki-laki, tidak pantas menyimpan emas. Biar aku saja yang menyimpannya." Setelah berkata itu, Olive kembali mempercepat langkahnya. Dengan geram, Anggara pun menyusulnya.
Keluarga Tsamara dan beberapa orang tamu undangan yang kebetulan melihat hal itu, tak mampu untuk menahan tawanya.
**
Tamu undangan telah memenuhi tempat acara. Kedua calon pengantin juga telah selesai di rias. Salah satu team WO mendekati Thoriq yang sedang duduk dengan raut wajah tegang.
"Permisi, mas. Anda dipersilakan menghadap penghulu sekarang."
Semua mata memandang ke arah calon mempelai pria, yang di dampingi oleh dua orang laki-laki dari pihak WO.
Semakin jelas aura ketampanan yang terpancar dari wajahnya. Pria itu mengulas senyum tipis, untuk menghilangkan kegugupannya.
Namun hal itu justru menjadi daya tarik bagi setiap mata para wanita yang memandang, termasuk Olive.
"Senyumnya begitu menggoda sekali. Perasaan dulu saat masih kuliah, tampannya juga tidak kebangetan seperti itu. Semoga wajah tampannya menular ke anak dalam perutku." Gumam ibu hamil itu, sambil mengusap perutnya.
Ehem....
__ADS_1
Anggara sengaja berdehem keras. Agar istrinya itu sadar, jika laki-laki yang pantas untuk di puji hanyalah dirinya.
Kini Thoriq sudah duduk berhadapan dengan bapak penghulu. Ia mendapatkan beberapa pengarahan sebelum prosesi ijab qobul di mulai.
Dan, saat yang dinantikan pun tiba. Thoriq berjabat tangan dengan bapak penghulu. Semua orang menatap ke arahnya dengan raut wajah yang tegang.
"Saya nikah kan engkau, dan saya kawinkan engkau, Thoriq Wilver Al Malik dengan putri ku, Tsamara Asyifa dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan senilai dua milyar di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Tsamara Asyifa dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Ucap Thoriq dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya bapak penghulu.
"Sah. Sah."
Kata 'sah' bersahut-sahutan dari mulut para tamu undangan. Yang menggema memenuhi setiap sudut tempat acara.
Semua orang mengusap wajahnya penuh dengan rasa syukur, atas perjanjian Agung yang baru saja tercipta, antara hamba dan sang Penciptanya.
Tak terkecuali Tsamara. Gadis itu sampai menitikkan air mata, karena hatinya begitu terharu. Setelah sekian lama ia memendam perasaan ingin menikah, akhirnya hari ini terwujud juga.
Bukan tanpa sebab ia ingin segera menikah, mengingat umurnya yang hampir menginjak dua puluh tujuh tahun. Dimana gadis seumurannya sudah banyak yang menikah dan memiliki anak.
Thoriq pun sebagai seorang laki-laki juga ikut menitikkan air mata. Karena mulai saat ini ia memiliki tanggung jawab yang besar sebagai pemimpin rumah tangga.
Pak Abas dan kedua anaknya yang lain juga meneteskan air mata, karena rasa haru yang sama.
__ADS_1
Tapi, air mata yang berbeda justru di tunjukkan oleh Olive dan Anggara. Keduanya merasakan jika hari itu adalah hari berkabung sedunia. Karena pujaan hati masing-masing, telah mengikat janji suci dengan orang lain.
Keduanya juga sangat speechless, mendengar mahar yang diberikan jumlahnya sangat fantastis. Bahkan mahar yang diberikan oleh Anggara, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mahar yang diberikan oleh Thoriq pada Tsamara. Karena mahar yang diberikan Anggara hanya senilai dua juta rupiah.