Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
46. Gelisah


__ADS_3

"Sayang, tolong jangan bilang ke papa mu dulu ya, soal apa yang kita lakukan tadi di dalam mobil." pesan Anggara, sebelum Olive turun dari mobil.


Ia mengeluarkan jurus buaya nya, dengan menghapus bekas air mata di pipi Olive. Lalu mengecup keningnya. Hal itu sukses membuat Olive sedikit menerbitkan senyum di wajahnya.


"Tapi kamu harus janji lho, bakal bertanggung jawab."


"Iya. Aku juga akan bertanggung jawab. Jangan takut aku bakal kabur. Sekarang turunlah. Biar papa dan mama mu tidak curiga."


Olive menganggukkan kepalanya. Lalu turun dari mobil. Setelah mobil yang dikendarai Anggara keluar dari pelataran, barulah Olive masuk ke dalam rumah.


"Olive. Darimana saja kamu? Kenapa semalam ini baru pulang?"


Deg!


Jantung Olive bagai berhenti berdetak, mendengar suara papanya yang menggelegar. Dari awal, papanya memang kurang setuju jika dirinya menjalin hubungan dengan Anggara.


Tapi, Olive adalah gadis yang haus akan belaian laki-laki. Untuk terus mengejar Thoriq, ia juga sudah malas. Maka dari itu, ketika Anggara mendekati dan bahkan menyatakan cintanya, Olive menerima.


"Kenapa diam saja? Bukan kah tadi kamu keluar dengan Anggara?" cerca papa lagi.


"Eh, tadi habis dari makan siang, Olive ke salon, pa. Tahu sendiri, kalau di salon itu antriannya pasti lama." ujar Olive memberi alasan.


"Ya sudah, Olive ke kamar dulu pa. Mau cepat-cepat mandi terus perawatan deh." imbuh Olive lagi, sambil pura-pura menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Pak Sanusi menatap aneh dan merasa curiga dengan putrinya. Ia tampak memicingkan matanya.


Katanya habis dari Salon, tapi tidak ada perubahan dalam diri anaknya. Justru ia tampak lelah dan seperti habis menangis. Karena matanya bengkak.


Sementara itu, di dalam kamar. Olive mengunci pintunya, lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur.


Ia cukup menyesali, kenapa semudah itu ia melepas kehormatan satu-satunya yang di miliki. Padahal ia dan Anggara belum lama jadian.


Ia menangis, sampai akhirnya kecapaian dan kembali tidur.


**


Sementara itu, di rumah lain. Anggara baru saja sampai rumah. Saat ia masuk ke rumah, suara papanya juga begitu mengejutkannya.


"Angga... Habis makan siang, terus mengantar Olive ke salon pa. Yah, biar dia semakin cantik dan menarik."


"Kamu ada waktu untuk orang lain. Tapi tidak ada waktu untuk papa. Pekerjaan di perusahaan sampai menumpuk. Dan papa mengerjakannya seorang diri. Papa tidak mau tahu, besok kamu harus berangkat lebih pagi. Selesaikan semua pekerjaan yang ada di ruangan mu. Sebelum papa sampai kantor, semua harus sudah selesai."


"Apa!" pekik Anggara, ia sangat terkejut sampai membulatkan matanya.


"Itu hukuman untukmu. Agar tidak sembarangan keluar masuk kantor, dan seenaknya sendiri."


Brak!

__ADS_1


Papa melempar koran yang ia baca di atas meja. Anggara kembali tersentak kaget. Setelah kepergian papanya, Anggara kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Anggara menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia terus saja menggelengkan kepalanya.


Tak habis pikir, dengan apa yang telah ia lakukan pada Olive. Dan semua itu gara-gara membayangkan Tsamara.


"Huh. Dia kok bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Pakai pelet apaan sih?" gumam Anggara kesal. Lalu melempar bantal sofa ke sembarang arah.


"Aku sudah terlanjur memasukkan senjata ku ke pusaka nya milik Olive. Padahal aku ingin mendekati Tsamara. Di tambah lagi papa pakai acara menyuruh berangkat pagi. Duh, makin runyam saja deh urusannya. Kapan juga, aku mau cerita ke papa, soal tadi. Huh, pusing-pusing." Anggara memijat keningnya.


Tak berselang lama, ia membuka handphonenya. Lalu mencari foto masa kecilnya bersama dengan Tsamara.


Di galery nya terlihat foto seorang anak laki-laki tampan dan seorang anak perempuan yang di kuncir ekor kuda. Keduanya sama-sama tersenyum.


"Ah, andai saja aku tahu sebelumnya. Jika Tsamara badannya bisa kembali menjadi kurus dan jauh lebih hot. Aku mau tuh nungguin." gumamnya kecewa, sambil membuang nafas kasar.


Anggara mencari nomor telepon Tsamara, lalu membuka blokirnya. Sesaat ia ragu untuk menghubunginya atau tidak.


Karena semenjak peristiwa pembatalan pernikahan itu, ia dan Tsamara tidak pernah berkomunikasi. Karena Anggara sendiri lah yang memutuskan aksen komunikasi dengan keluarga Tsamara.


"Ah, Olive pikir nanti dulu lah. Bukan kah aku harus mendapatkan wanita idaman? Tentunya yang cantik, dan hot. Kayak Tsamara. Biar semua orang iri pada ku." gumam Anggara tanpa rasa bersalah.


Dengan penuh percaya diri, Anggara menghubungi Tsamara. Dengan menelponnya. Setelah beberapa kali menelpon tapi tidak di angkat. Akhirnya ia pun mencoba untuk mengirimkan pesan untuknya.

__ADS_1


Anggara memang adalah tipe lelaki yang tidak setia. Hanya mengutamakan bentuk fisik daripada hati. Bukan kah kecantikan fisik bisa memudar seiring berjalannya waktu? Dan kecantikan hati, akan dibawa sampai mati?


__ADS_2