
Kini Tsamara telah duduk di apit oleh papa dan Farah. Mereka berhadapan dengan Thoriq, untuk memberikan jawaban atas lamarannya.
Meskipun hanya tinggal mengulang jawabannya, lidah Tsamara terasa kelu. Sehingga untuk yang kesekian kalinya, ia harus menarik nafas.
"Iya, kak. Tsamara mau menerima lamaran kak Thoriq." Ucap gadis itu, dengan keyakinan penuh, yang diiringi dengan sebuah senyuman.
Mereka yang mendengar jawaban Tsamara mengucapkan syukur yang paling keras. Setelah itu, Thoriq membuka kotak bludru berwarna hitam dan mengeluarkan isinya.
"Tsamara, terimalah ini sebagai tanda yang pengikat kita berdua untuk sementara waktu."
"Bu-bukankah kemarin kamu sudah memberikannya untukku, kak? Nih." Tsamara memperlihatkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
Mereka terkikik pelan, melihat kepolosan Tsamara.
Ia memang sangat berbeda dengan gadis pada umumnya. Yang langsung berjingkrak bahagia, ketika mendapatkan banyak perhiasan dari pihak laki-laki.
Ia memang tidak terlalu suka mengenakan perhiasan dan accesoris wanita lainnya. Baginya, cincin pemberian Thoriq kemarin sudah cukup mewakili acara lamarannya. Tapi, ternyata pria itu masih memberikan cincin lagi.
"Itu aku memberikannya padamu saat lamaran belum resmi. Karena tidak ada anggota keluarga kita yang melihatnya. Kalau sekarang sudah ada anggota keluarga kita yang menyaksikan. Jadi aku memberikannya lagi padamu." Jelas Thoriq panjang lebar, dan barulah Tsamara paham.
__ADS_1
"Ulurkan tanganmu pada Thoriq, nak Tsamara. Agar kami tahu, bahwa kamu benar-benar menerimanya." Ucap Bu Husna dengan penuh kelembutan. Gadis itu menoleh ke arah papanya yang mengangguk pelan.
Perlahan Tsamara mengulurkan tangannya dihadapan Thoriq, lalu pria itu menggapai jemarinya yang begitu lembut.
Saat kedua tangan itu saling bersentuhan, terlihat kedua tangan mereka gemetaran. Apalagi saat cincin berlian itu akan disematkan. Sehingga keluarga mereka yang melihatnya kembali terkikik geli.
"Kak, kenapa tangan kalian gemetaran?" Celetuk Soffin dengan polosnya.
Terpaksa sekali mereka harus menahan tawa dengan pertanyaan konyol yang keluar dari mulut bocah kecil itu. Agar acara lamaran tetap berjalan lancar dan formal.
"Ssstt... Kamu bisa tanyakan itu nanti setelah acara selesai. Sekarang jangan berisik, kita saksikan saja dengan baik." Bisik Farah pelan, sambil membekap mulut adiknya, agar tidak lagi bertanya.
Setelah itu, mereka membahas tentang hari pernikahan keduanya. Kedua keluarga itu saling mengutarakan pendapat. Dan akhirnya, mereka akan mengadakan ijab qobul dan resepsi pernikahan sebulan lagi.
Thoriq sebagai seorang pria ingin memperlihatkan rasa tanggung jawabnya dengan membayar seluruh biaya pesta pernikahan yang akan di gelar di rumah Tsamara.
Tapi gadis itu dan papanya menolak. Keduanya tidak ingin memberatkan calon mempelai laki-laki. Thoriq pun tidak lagi memaksakan kehendaknya, karena tidak ingin menyakiti hati calon keluarga barunya.
Setelah acara lamaran dan pembahasan soal hari pernikahan selesai, acara dilanjutkan kembali dengan makan malam bersama.
__ADS_1
Mereka duduk lesehan di ruang keluarga, yang menjadi satu dengan tempat menonton televisi. Di hadapan mereka tersaji aneka menu yang menggugah selera.
Pak Abas mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan. Tampak sesekali Thoriq melirik gadis cantik yang sebentar lagi akan dinikahinya. Hingga ia tidak begitu memperhatikan ketika Soffin yang duduk disampingnya mengajaknya bercerita.
"Kak, aku bicara. Kok kamu diam saja sih." Protes bocah kecil itu, sambil menyenggol lengan Thoriq.
"Eh, iya. Ada apa, Sof?" Tanya Thoriq dengan raut wajah terkejut yang tak bisa disembunyikan.
"Huh, capek deh. Kalau harus menjelaskan dari awal. Soffin kan sudah banyak bicara tadi." Sungutnya kesal.
Mereka yang melihat kedua laki-laki itu sedang bertengkar kecil, terkekeh. Karena tahu apa penyebabnya yang membuat Thoriq menjadi tidak konsen. Yakni memperhatikan calon istrinya.
**
Di tempat lain, Anggara memperlihatkan wajah masam nya. Karena sejak siang tadi, sampai malam ini, Tsamara tidak juga merespon pesan yang ia kirim tadi, saat di supermarket.
"Pasti Tsamara kecewa berat sama aku. Kasian juga dia, aku sudah mengecewakannya dua kali. Jangan sampai untuk yang ketiga atau yang keempat kalinya aku mengecewakannya lagi. Aku harus berjuang untuk mendapatkannya." Gumam pemuda itu dengan penuh keyakinan.
Setelah itu, ia kembali membuka segala aplikasi yang berhubungan dengan Tsamara. Ia melihat dengan seksama setiap inchi kecantikan dan kemolekan gadis itu. Sampai akhirnya ia tertidur, dengan mendekap handphonenya, yang layarnya masih menampilkan gambar Tsamara.
__ADS_1
Pria itu benar-benar sudah tergila-gila dengan mantan calon istrinya. Sehingga ia sangat terobsesi untuk bisa mendapatkannya. Padahal ada wanita lain yang harus ia perhatikan dan jaga dengan sebaik-baiknya, karena sedang mengandung darah dagingnya.