Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
69. Senyum semanis melon


__ADS_3

"Jangan pegang-pegang seperti itu. Aku tidak suka." Imbuh Thoriq.


"Hei, apakah kalian berdua ada something wrong?" Goda si makhluk jadi-jadian itu, pada Thoriq dan Tsamara. Membuat keduanya tampak salah tingkah.


"Wow. Darimana paman tahu?" Tanya Soffin penasaran.


"Apa kamu bilang?" Si makhluk jadi-jadian itu melotot ke arah Soffin, sehingga si kecil itu ketakutan.


"Jangan macam-macam dengan adikku." Ucap Thoriq.


Tsamara dan Soffin saling beradu pandang. Karena Thoriq jelas berbohong.


"Maaf kan aku tampan." Si makhluk jadi-jadian itu mengulas senyum termurahnya pada Thoriq.


"Oh iya. Si kecil kamu tidak boleh memanggil ku seperti itu. Tapi panggil saja aku nona Angel."


" Nona Angel." Ulang Tsamara, Thoriq dan Soffin bersamaan.


"Yes, that's right." Nona Angel menjentikkan jarinya sambil tersenyum lagi. Dan kali ini senyumnya rasa cocopandan.


"Okay nona Angel." Soffin mengedipkan matanya sebelah.


"Bagus, kamu anak yang hebat. Aku doakan besok kamu jadi seperti ku."


"Jangan!" Lagi-lagi Tsamara, Thoriq dan Soffin berseru kompak.


"Doakan yang lain saja. Jadi owner produk kecantikan misalnya. Jadi aku bisa memberikan nona Angel perawatan gratis." Imbuh Soffin kemudian, yang membuat nona Angel memeluknya dengan gemas.

__ADS_1


"Okay, baby. Nona Angel akan doakan kamu supaya jadi owner produk kecantikan. Biar ketularan rezekinya."


"Iya-iya, tapi tolong lepaskan aku." Pinta Soffin.


Bocah kecil itu merasa ilfill di peluk oleh Angel. Akhirnya ia mau melepaskannya.


"Baiklah, kembali ke laptop. Oh maksud ku kembali mode serius. Aku ingin memiliki badan yang bagus seperti model kamu. Makanya aku ingin memesan obat itu ke kamu langsung. Tapi tolong, kasih lah diskon. Karena omset ku bulan ini menurun drastis. Mereka tidak suka melihat perut ku yang bergelambir. Aku janji, jika berhasil, aku akan membantu promosi ke teman-teman ku." Ucap Angel panjang lebar.


Sesaat Thoriq terdiam sambil berpikir. Bisakah makhluk jadi-jadian yang baru saja dikenalnya itu bisa dipercaya? Tapi untuk mencobanya juga tidak ada salahnya.


"Okay, baiklah. Besok silahkan datang ke kantor ku. Catat alamatnya baik-baik."


"Ah, siap-siap. Aku ambil handphone ku dulu." Nona Angel tampak sumringah, sambil merogoh handphone dalam tasnya.


"Terima kasih, sayang ku. Besok aku akan menemui mu."


"Baiklah sayang ku. Aku pergi duluan ya. Dan untuk kamu gadis cantik nan seksi, terima kasih juga telah memberi solusi untuk perut gendut ku." Nona Angel bergantian menowel dagu Thoriq lalu Tsamara. Lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Oh iya, aku lupa sesuatu." Nona Angel menepuk jidatnya. Lalu memutar tumit dan kembali menatap Thoriq dan Tsamara.


"Kalian sangat cantik dan tampan. Aku doakan kalian berjodoh sampai maut memisahkan. Dan setelah maut memisahkan, aku bisa mendaftar jadi istri pengganti." Kekeh nona Angel, dan berlalu pergi.


Tsamara dan Thoriq saling beradu pandang lalu mengalihkan pandangannya karena malu. Walaupun sebenarnya dalam hati keduanya, seperti bersorak kegirangan, ketika mendengar doa dari makhluk jadi-jadian tadi.


Soffin yang melihat keduanya pun menahan senyumnya. Kalau dipikir-pikir, mereka cocok juga. Dan Soffin mengaminkan doa itu dalam hati.


Sementara di meja lain, Anggara dan Olive diam-diam terus ke arah meja rombongan Tsamara. Terlebih disana juga ada laki-laki melambai. Membuat pasangan itu semakin penasaran saja. Apakah gerangan yang tengah mereka bicarakan?

__ADS_1


**


Rombongan Tsamara telah menyelesaikan makan siangnya duluan. Mereka pun berjalan bersama menuju meja kasir.


Tsamara sudah mengeluarkan dompet hendak membayar makanan yang mereka makan. Tapi, Thoriq mencegahnya. Karena sebagai seorang laki-laki, ia ingin membayarkan makanan mereka.


Keduanya bersikukuh dengan pendapatnya masing-masing. Soffin yang melihat, justru pusing sendiri.


"Diam!" Seru Soffin, yang membuat Tsamara dan Thoriq seketika terdiam.


"Lebih baik sekarang yang membayar kak Thoriq dulu. Besok kalau kita keluar lagi, yang membayar makanannya kak Tsamara. Kak Tsa, kamu harus menghargai laki-laki. Agar tidak merasa direndahkan." Ucap Soffin sok bijak.


Thoriq tersenyum, ternyata tak rugi ia mendidik Soffin selama beberapa Minggu yang lalu. Saat ia belum mengurus perusahaan mamanya.


Sedangkan Tsamara, ia mengerucutkan bibirnya. Karena adiknya itu tumben sekali tidak bisa di ajak kompromi. Dan terkesan membela pria tampan dihadapannya.


Akhirnya Tsamara mengalah, dan menerima makanannya di bayar oleh Thoriq. Setelah membayar mereka pun berlalu pergi menuju mobilnya terparkir.


Tsamara tersenyum lega, karena mobilnya jauh dari mobil Anggara. Sehingga ia bisa merasa aman. Karena Anggara tentu tidak akan melihat mobilnya.


"Aku naik taksi online saja, kalian bisa pulang duluan."


"Tidak. Tadi kita berangkat sama-sama, pulangnya juga harus sama-sama." Ucap Tsamara.


"Iya kak. Soffin juga kasian kalau harus melihat kakak menunggu kendaraan umum. Pasti kelamaan. Keburu karyawan kakak pada pulang semua."


Tsamara dan Thoriq terkekeh mendengar celotehan Soffin. Tapi Thoriq akhirnya mau juga menerima tawaran itu.

__ADS_1


Tsamara mengulurkan kuncinya, dan Thoriq menerimanya. Lagi-lagi keduanya menyunggingkan senyum semanis melon.


__ADS_2