
Setelah mengantar Soffin, Tsamara mengecek handphonenya. Ada pesan dari Anggara, yang intinya ia mengabarkan bahwa tidak bisa mengantar karena terlambat bangun.
Tsamara mendecih, karena laki-laki itu sejak sekolah sampai sekarang memang selalu langganan bangun terlambat.
Gadis itu berniat pulang, tapi sebuah panggilan telepon membuatnya mengurungkan niatnya. Thoriq menghubunginya, untuk memintanya datang ke kantornya.
Karena Tsamara tidak memiliki jam kerja yang mengikat, ia langsung mengiyakan permintaan temannya itu. Setelah panggilan terputus, ia melajukan mobilnya menuju kantor Thoriq.
Tak kurang dari setengah jam, akhirnya ia tiba di kantor temannya yang paling berjasa dalam hidupnya.
Ada yang berbeda saat ia menginjakkan kakinya di kantor temannya. Semua karyawan yang berpapasan dengannya, menyapanya sambil tersenyum.
Walaupun Tsamara cukup heran, tapi tetap membalas mereka dengan menyunggingkan senyum.
"Permisi, pak Thoriq meminta saya datang kesini. Apakah beliau ada di ruangannya?" Tanya Tsamara pada resepsionis.
"Oh, ada nona. Beliau berpesan, jika nona Tsamara datang, diminta untuk langsung ke ruangannya." Balas sang resepsionis dengan ramah.
"Oh begitu. Terima kasih ya kak."
Tsamara pun menuju ruangan Thoriq. Saat ia memasuki lift, semua karyawan yang berada di tempat itu, juga menyapanya dengan ramah.
'Kenapa berasa jadi artis gini ya? Semua orang menyapa ku.' batin Tsamara, sambil membalas senyuman mereka.
Sesampainya di ruangan Thoriq, gadis itu tak lupa mengetuk pintu. Hingga akhirnya pintu itu terbuka.
Thoriq berdiri di ambang pintu dan mengulas senyum, menyambut kedatangannya. Tsamara pun membalasnya dengan hal yang sama.
"Mari masuk."
Thoriq menggeser badannya, lalu mempersilahkan Tsamara masuk.
__ADS_1
"Ada hal apa sampai kamu menyuruhku datang kemari, kak?" Tanya Tsamara, setelah keduanya duduk di sofa ruang kerja Thoriq.
"Apa kamu mau membantuku?"
"Soal apa nih?" Tsamara mengernyitkan dahi.
"Kamu lihat apa yang ada di atas meja ini?"
Thoriq menunjuk beberapa paket perawatan wajah. Dari tampilannya tampak sangat menarik. Tsamara menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku tahu. Lalu?"
"Aku telah membuat produk kecantikan. Dan aku ingin kamu menjadi brand ambassador nya. Kamu boleh membawa paket mana yang kamu sukai. Tentu saja aku menggratiskannya untukmu."
"Astaga, kamu hebat sekali kak. Bulan lalu produk pelangsing, sekarang produk kecantikan. Besok produk apa lagi?" Ungkap Tsamara dengan wajah yang begitu berbinar. Membuat hati Thoriq bergetar aneh.
'Ya Allah, rasa apa ini? Kenapa hatiku mendadak aneh seperti ini?'
"Maksudnya? Bukan kah semua berdasarkan pemikiran mu sendiri, kak?"
"Kalau Allah tidak memberi ku kecerdasan, bagaimana mungkin aku bisa menjadi seperti ini, Tsamara."
Tsamara manggut-manggut saja. Tapi dalam hatinya merasa tersentil juga dengan ucapan pria di hadapannya.
Masalahnya selama ini, gadis itu tidak terlalu memikirkan tentang hal yang religius seperti itu. Tapi sejak dekat dengan Thoriq, perlahan ia mulai menyerap apa yang disampaikan oleh temannya itu.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Hai, Tsamara." Thoriq melambaikan tangannya ke hadapan gadis cantik yang ada di hadapannya.
"Eh, tidak. Aku hanya mengagumi kakak saja. Kamu ternyata orangnya begitu religius, berbeda dengan aku dan keluarga ku."
"Kamu terlalu berlebihan, tidak juga kok."
__ADS_1
"Aku tidak berlebihan kak. Aku salut pada mu. Karena di jaman sekarang, banyak orang yang melupakan ajaran agamanya sendiri. Termasuk aku."
"Jangan sampai melupakan landasan dasar hidup kita, Tsa. Kalau kita ingin selamat hidup di dunia dan akhirat."
Tsamara menganggukkan kepalanya, sambil menyunggingkan senyum ironi. Karena dirinya tidak sebaik Thoriq.
"Hei, jangan murung seperti itu. Kalau ada hal yang mengganjal di hatimu, kamu bisa menyampaikannya padaku. Dengan senang hati aku akan membantumu. Bukan kah kita teman?"
'Teman? Bukan kah laki-laki dan perempuan tidak boleh ada hubungan pertemanan, melainkan...' batin Thoriq.
Ia mulai menyadari jika hubungannya dengan Tsamara, menimbulkan rasa dan getaran yang aneh dalam hati.
'Teman? Apakah memiliki seorang teman, membuat hati kita merasa sangat nyaman seperti ini?' Tsamara.
Kini keduanya saling pandang dan terdiam. Pikiran mereka bergelut memaknai kata 'teman'.
Hingga suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya.
"Eh, tunggu sebentar ya."
Thoriq berkata dengan suara yang parau. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan untuk membuka pintu.
"Ada apa?" Tanya Thoriq pada sekretarisnya.
"Ini, pak. Berkas-berkas yang bapak minta tadi."
"Terima kasih. Buatkan kami coklat dingin dua."
"Baik, pak." Sekretaris itu segera undur diri.
Thoriq kembali ke tempat duduknya, setelah membuang nafas beberapa kali. Entah kenapa, hatinya sangat deg-degan berdekatan dengan Tsamara.
__ADS_1
"Oh iya, sampai mana kita tadi?" Thoriq kembali membuka obrolan. Karena mendadak otaknya bleng. Tidak bisa fokus.