Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
63. Banjir


__ADS_3

Kini Anggara sudah selesai mandi. Lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Setelah bayangan horor di kantornya, ia tidak berani keluar rumah. Padahal rencananya ia ingin ke rumah Olive.


Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon nya saja. Dalam sekali dering, panggilan sudah terhubung.


"Hallo. Ada apa kamu menghubungiku? Kemana saja seharian ini? Aku pikir kamu sudah lupa dengan ku." Cerocos Olive dengan suara yang keras dan ketus. Anggara langsung menjauhkan handphone dari telinganya.


"Astaga, sudah seperti nenek lampir saja. Suaranya begitu menggelegar. Untung cantik." Bisik Anggara, agar tidak terdengar oleh Olive.


"Maaf, sayang. Seharian ini aku begitu sibuk. Mau berangkat kerja saja, ban mobil bocor, batrei lowbat."


"Halah, memang aku semudah itu percaya dengan mu. Tidak perlu kamu jelaskan panjang lebar, aku sudah tahu apa yang kamu lakukan seharian ini. Kamu sedang huhuhaha dengan perempuan lain kan? Tega sekali. Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus melamar ku sekarang. Aku takut hamil, dan saat menikah perut ku sudah besar."


"Apa! Me-melamar?" Ulang Anggara sambil membulatkan matanya dan mulutnya menganga.


"Iya, aku tidak mau tahu. Kalau kamu tidak mau menikahi ku, akan ku pastikan kamu membusuk di dalam penjara."


"Pen-penjara?" Ulang Anggara lagi, merasa ketakutan.


"Makanya, kamu jangan macam-macam dengan ku. Putuskan hubungan mu dengan wanita yang kamu ajak huhuhaha tadi. Besok kita juga harus bertemu."


"I-iya. Tenang saja, aku tidak akan berbuat yang macam-macam dengan mu sayang." Ucap Anggara dengan takut-takut.


Tak lama kemudian, mereka pun mengakhiri percakapan via telepon itu. Anggara benar-benar ketakutan jika dirinya di penjara. Ia pun menghela nafas panjang.


"Kenapa semua jadi begini? Baru juga mau senang-senang." Gumam Anggara sambil menarik rambutnya frustasi.

__ADS_1


**


"Kak, ini sudah siang. Kalau Soffin telat bagaimana?" Ucap Soffin, saat ia dan Tsamara sedang duduk di teras rumah.


Keduanya memang sengaja menunggu kedatangan Anggara, yang berjanji akan mengantar mereka ke sekolah.


Gadis itu tampak celingukan, karena yang di incar belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Hem, ya sudah. Sebaiknya kita berangkat sekarang saja."


Tsamara bangkit dari duduknya, sambil berlalu menyambar kunci mobilnya. Yang ia letakkan di meja kamarnya.


"Sebenarnya, apa yang mau kakak lakukan dengan Anggara?"


"Hem, mau tahu banget sih. Pokoknya lihat saja, saat dia datang ke rumah kita." Ucap Tsamara tersenyum sinis.


'Dasar, laki-laki tidak bertanggungjawab. Tidak bisa menepati janji. Memang tidak cocok bersanding denganku.' batin Tsamara geram.


**


"Tadi sudah mama bangunkan. Tapi kelihatannya cuma menggeliat saja."


Pak Anwar mendengus kesal, mendengar jawaban istrinya.


Sejak kepulangan anaknya dari kuliah di luar negeri, kepalanya sering pusing gara-gara merasakan kelakuan anaknya yang semakin menjadi-jadi.


Jika jadinya seperti itu, lebih baik di kuliah kan di lokal saja. Agar tidak buang-buang uang.

__ADS_1


Pak Anwar pun memotong roti panggang, lalu melahapnya. Berharap anaknya segera turun.


Tapi sampai potongan rotinya habis, tetap saja anaknya tidak muncul di dapur. Pak Anwar pun mencoba melihat apa yang tengah dilakukan anaknya.


Ketika membuka pintunya, pak Anwar melihat Anggara tengah tertidur pulas. Ia pun mendengus kesal sambil geleng-geleng kepala.


"Kelewatan. Di suruh berangkat pagi malah tidur." Gumam pak Anwar.


Ia pun masuk ke kamarnya, lalu berjalan menuju kamar mandi. Pria itu mengambil segayung air lalu,


Byur ..


"Kebanjiran, kebanjiran!" Teriak Anggara gelagapan. Pak Anwar menyunggingkan senyum sinis.


"Kebanjiran gundul mu itu. Ini sudah jam tujuh, cepat mandi." Anggara seketika menghentikan teriakannya, ketika mendengar suara papanya.


"Papa. Apa papa yang melakukan semua ini?"


"Memangnya kamu pikir siapa? Hantu? Sudah sesiang ini, kamu belum juga bangun. Mau jadi apa kamu? Cepat bangun dan berangkat ke kantor." Pak Anwar melempar gayung ke muka anaknya, agar ia lekas bangun. Dan dirinya berjalan keluar.


"Gawat, aku kan sudah berjanji mau mengantar Upin sekolah. Pasti deh Tsamara dan Upin marah." Gumam Anggara.


Pemuda itu menyambar handphone nya lalu memberi kabar pada Tsamara. Setelah itu ia segera bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamar mandi.


Tak lama kemudian, Anggara sudah siap. Ia masuk ke mobilnya, dan melajukannya menuju perusahaan.


"Bau apaan sih, ini?" Gumamnya, sambil hidungnya kembang kempis mengendus sesuatu.

__ADS_1


"Astaga, bau ompol ku kemarin malam." Anggara menepuk jidatnya, ketika teringat dengan kejadian kemarin.


Setelah sampai kantor, Anggara segera menyuruh OB untuk membawa mobilnya ke tempat cuci mobil. Ia tidak ingin mungkin menjemput Olive nanti siang, dalam keadaan mobilnya bau pesing.


__ADS_2