
Malam lamaran yang dinantikan pun tiba.
Thoriq tengah berdiri di depan cermin, sambil merapikan kemeja batik lengan panjang yang ia kenakan. Pakaian itu sangat pas melekat di tubuhnya yang atletis.
Tak lupa ia menyemprotkan parfum di beberapa titik bagian tubuhnya. Arloji mewahnya juga menambah pesonanya.
Di akhir kata, pemuda yang berusia tiga puluh tahun itu tampak maskulin, dan terlihat berwibawa.
Setelah selesai merapikan diri, ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, lalu menatap bayangan dirinya dalam pantulan cermin dengan lebih seksama.
'Papa, aku telah menemukan seorang wanita yang akan ku jadikan sebagai pendamping hidupku. Wanita itu adalah Tsamara.
Aku memilihnya bukan karena ia cantik dan badannya bagus. Tapi karena kepribadiannya yang begitu baik.
Ia seorang gadis yang memiliki sifat keibuan persis seperti mama.
Thoriq berharap, jika suatu saat kami memiliki keturunan, ia juga bisa menjaga dan merawat anak turun kami dengan baik.
Namun, jika Tuhan tidak menghendaki kami memiliki keturunan, semoga kami bisa saling menjaga dan mengasihi sesama.
Karena menikah bukan hanya soal memuaskan diri saja. Tapi juga tentang menyayangi pasangan setulus hati.
Seperti papa yang selalu menjaga mama ketika beliau sakit. Hingga akhirnya orang yang papa jaga sehat seperti sedia kala. Sedangkan papa malah meninggalkan kami.
Mama begitu mencintai papa dan rela berkorban apa saja. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk tidak menikah dan membesarkan Thoriq seorang diri.
Kisah cinta kalian akan menjadi sebuah pelajaran yang berharga untuk Thoriq, pa. Semoga papa bahagia disana."
Sebuah suara ketukan pintu membuat pria itu menghentikan monolognya. Ia menghapus air mata yang sempat menetes di wajahnya yang tampan. Setelah itu, ia bergegas membukakan pintu.
__ADS_1
"Thoriq, apa kamu sudah siap? Kenapa lama sekali?"
"Sudah, ma. Tunggu, Thoriq ambil tas dulu ya."
"Hem, mama tunggu kamu dibawah." Bu Husna melenggang pergi. Sedangkan Thoriq segera menyambar tasnya dan sebuah kotak bludru yang ada di atas meja.
Setelah siap, pasangan ibu dan anak itu berangkat menuju kediaman Tsamara.
**
Di kediaman pak Abas sendiri, juga sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka membuat hidangan, lalu menyusunnya diatas meja ruang tamu.
Sedangkan Tsamara sendiri, sedang berada didalam kamarnya. Ia telah mengenakan dress berwarna lavender, dan kini sedang duduk menghadap ke cermin untuk merias diri.
Tak dipungkiri, hatinya benar-benar tidak tenang, jantungnya juga berdegup dengan kencang. Sekelebat bayangan tentang lamarannya yang gagal dulu, semakin mengganggu pikirannya.
Gadis itu memejamkan matanya, sambil menghirup nafas dalam-dalam. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan pikiran buruk itu.
Ditengah kegelisahan hatinya, Tsamara dikejutkan dengan suara deru mobil yang berhenti di depan rumah kontrakannya.
Sengaja keluarga gadis itu melakukan acara lamaran dirumah kontrakannya. Sekalian untuk melihat bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh mamanya Thoriq, jika akan berbesan dengan orang yang tidak kaya.
"Itu pasti kak Thoriq." Gumamnya dengan suara parau. Lalu mengintip sedikit dari tirai jendela.
Hatinya semakin campur aduk, dan wajahnya memerah. Ketika tebakannya tidak meleset.
Gadis itu buru-buru kembali ke tempat duduknya, sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.
**
__ADS_1
Sedangkan di luar, Thoriq mengetuk pintu rumah sambil mengucapkan salam. Membuat penghuni rumah itu semakin kalang kabut.
Dulu saat Anggara melamar Tsamara, semua sudah dipersiapkan oleh bibi. Sedangkan sekarang mereka lah yang harus menyiapkannya sendiri.
Setelah memastikan semua rapi, barulah keluarga Tsamara yang terdiri dari papa, Farah dan Soffin membukakan pintu untuk tamunya.
Mereka saling menyunggingkan senyum saat pintu terbuka.
"Selamat malam, om." Sapa Thoriq dengan ramah.
"Malam. Mari silahkan masuk." Pak Abas membukakan pintu lebih lebar, agar tamunya bisa masuk.
Bu Husna tetap memasang wajah kalem, ketika memasuki rumah sederhana itu. Lalu meletakkan sebuah parcel buah dan kue di meja.
Kini mereka duduk saling berhadapan, di sofa ruang tamu. Mereka sejenak bercakap-cakap, sambil menikmati cemilan yang sudah dihidangkan.
Setelah itu, tibalah ke inti acara. Thoriq mengungkapkan maksud kedatangannya ke rumah pak Abas.
Seluruh keluarga pak Abas sangat senang, ketika Thoriq mengungkapkan perasaannya pada Tsamara. Hal itu tampak dari senyum yang melengkung di wajah mereka.
Atas perintah papa, Farah bangkit berdiri untuk memanggil kakak satu-satunya. Ia mengetuk pelan pintu kamar kakaknya.
Tak lama kemudian, pintu itu pun terbuka. Farah terbengong di depan pintu, ketika melihat kakaknya begitu cantik.
"Far." Gumam Tsamara.
"Eh, kak. Kak Thoriq sudah datang, ayo kita menemuinya." Tsamara menganggukkan kepalanya.
"Kamu do'akan kakak ya, semoga kali ini kakak tidak gagal lagi."
__ADS_1
"Tentu, kak. Farah sayang kakak." Kakak adik itu saling berpelukan sejenak, sebelum menemui Thoriq.