
Tsamara, Thoriq dan papanya tidak jadi istirahat siang. Setelah mengganti pakaiannya, mereka keluar untuk menyambut beberapa tamu yang datang.
Mereka datang terlambat karena ada beberapa kepentingan yang tidak bisa di tinggalkan.
Keluarga pak Abas, tidak mempermasalahkan hal itu. Karena yang terpenting adalah kedatangan para tamu dan doa tulus dari mereka, untuk kebaikan rumah tangga pengantin baru.
Sampai sore keluarga pak Abas duduk di depan teras rumah, untuk menyambut tamu yang silih berganti terus berdatangan.
Sampai saatnya waktu Maghrib tiba, barulah mereka masuk ke rumah untuk membersihkan diri. Ketiga orang itu pun masuk ke kamar masing-masing.
Thoriq celingukan mencari barang-barangnya yang tidak ada di atas tempat tidur, ataupun di dalam almari.
Pria itu keluar kamar untuk bertanya pada orang yang ia temui.
"Bi, maaf mau tanya. Apa bibi tahu di mana barang-barang saya yang ada di kamar tamu?"
"Oh, sudah bibi pindah ke kamar non Tsamara."
"Apa? Siapa yang menyuruh bibi?"
"Tuan, den. Maaf baru sempat bilang sekarang."
"Oh, tidak apa-apa kok bi." Thoriq mengulas senyum tipis.
"Kalau begitu, bibi permisi dulu den."
"Iya bi silahkan."
Setelah kepergian asisten rumah tangga, Thoriq garuk-garuk kepala karena mendadak bingung dengan apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba ia merasa nervous untuk bertemu dengan istri sahnya.
Namun karena seluruh barang-barangnya sudah ada di kamar istrinya, maka mau tidak mau ia harus menyusul ke kamarnya.
Sesampainya di depan kamar ia berdiri sejenak, lalu perlahan mengetuk pintu.
__ADS_1
**
Sedangkan di dalam kamar, Tsamara terkejut ketika melihat satu koper yang ada di dekat pintu kamarnya. Seketika ia melengkungkan senyum, karena tahu itu adalah koper milik suaminya.
Ia menarik koper itu menuju almari pakaian. Lalu membongkar isinya dan memasukkannya ke dalam almari.
Belum selesai ia menyusun baju-baju itu, terdengar suara ketukan pintu.
"Pasti itu, kak Thoriq." Gumamnya sambil tersenyum tipis.
Bergegas ia membukakan pintu. Dan benar saja bahwa, suaminya lah yang mengetuk pintu itu. Pria itu mengulas senyum tipis.
"Maaf, koperku ada di kamarmu."
"Iya kak. Ayo masuk." Ajak Tsamara dengan senyumnya yang menawan pula.
Thoriq menganggukkan kepalanya, lalu melangkahkan kakinya ke dalam kamar istrinya. Kesan pertama yang ia lihat adalah design kamar yang elegan.
Nuansa kamar berwarna serba gold, tempat tidur yang mewah, karena selain size nya yang besar juga terdapat banyak ukiran di setiap sisinya.
Tidak hanya itu saja, di setiap sudut ruangan juga terdapat bunga segar. Sehingga menambah kesan yang begitu memanjakan pasangan pengantin baru.
Setelah itu Tsamara menutup pintunya dan mengikuti suaminya yang berjalan menuju kopernya.
"Maaf kak, aku belum selesai memindahkan barang-barang mu ke dalam almari."
"Tidak apa-apa. Aku sangat berterima kasih padamu. Karena sepeduli itu kamu padaku."
"Tidak apa-apa. Ya sudah, kakak mandi duluan saja. Biar aku menyelesaikan pekerjaan ku."
Sekali lagi Thoriq mengucapkan terima kasih, lalu mengambil baju ganti dan membawanya ke kamar mandi. Sedangkan Tsamara sendiri kembali merapikan baju-baju suaminya.
Setelah sekian menit berlalu, akhirnya Thoriq keluar dari kamar mandi. Aroma harumnya langsung menyeruak memenuhi ruangan.
__ADS_1
Tsamara yang sedang duduk di dekat meja rias, spontan menoleh mengikuti arah indera penciumannya. Wajahnya mengukir senyum, apalagi ketika Thoriq perlahan mendekatinya.
"Aku sudah selesai, sekarang giliran kamu. Jangan lupa, make up nya dibersihkan baik-baik. Aku menunggumu."
Wajah Tsamara seketika menghangat, ketika Thoriq berkata menunggu dirinya.
"Ba-baik, kak. Aku mandi dulu ya." Gadis itu bangkit berdiri, dan bergegas ke kamar mandi.
Tak di pungkiri, Tsamara begitu deg-degan, karena ini adalah kali pertamanya ia akan melayani suaminya. Sehingga gadis itu membersihkan badannya dengan seksama. Agar ketika nanti suaminya mendekatinya ia percaya diri.
Sedangkan di luar kamar mandi, Thoriq tengah mencari peralatan untuk sembahyang. Namun, ia tidak kunjung menemukannya.
"Kak."
Thoriq yang tengah berdiri di depan almari menoleh pada, Tsamara. Ia menelan saliva ketika melihat istrinya hanya memakai handuk putih sebatas dada.
"Kamu mau ambil baju ya?" Tsamara menggelengkan kepalanya.
"Memang aku sengaja tidak bawa baju sekalian."
"Lhoh, kenapa?"
"Bukankah kakak tadi bilang menungguku? Jadi daripada kelamaan buka baju, ya sudah aku tidak pakai baju sekalian."
"Em-maksudku, aku menunggumu untuk sembahyang sama-sama." Ucap Thoriq, walaupun merasa tidak enak dengan istrinya.
Apalagi ketika ia baru saja berkata seperti itu, wajah Tsamara langsung berubah memerah.
"Oh, itu ya." Lirih Tsamara, ia tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.
Ingin rasanya ia menutup wajahnya dengan bantal, atau meniupkan angin yang membuatnya melupakan kejadian tidak mengenakkan itu.
"Ya sudah, aku ambil baju ganti dulu." Lirih gadis itu lagi. Lalu ia mengambil baju di dalam almari, yang kebetulan pintunya memang sudah di buka oleh suaminya.
__ADS_1
Thoriq menghirup dalam-dalam aroma wangi yang menguar dari tubuh istrinya, ketika ia berdiri di dekatnya.
Tak di pungkiri, sebagai laki-laki normal ia juga terbakar gejolak untuk melakukan hal itu. Namun sebelum melakukan hal itu, ia ingin sembahyang dulu dan tak lupa makan malam. Agar ia memiliki kekuatan untuk unboxing.