
Bu Husna tampak mengernyitkan dahi, sambil menatap kepergian keluarga Anggara. Karena menganggap perlakuan keluarga itu yang tampak aneh.
Seumur-umur, baru kali ini ia melihat keluarga yang tidak tahu malu dan begitu sombong seperti mereka. Ia berdoa semoga anak turunnya tidak ada yang memiliki sifat seperti itu.
Memang Thoriq tidak menceritakan tentang masa lalu yang pernah di alami oleh istrinya. Namun jika mamanya tahu sendiri dan bertanya padanya, maka ia akan menjawab apa adanya.
Acara pernikahan pada siang hari itu akhirnya selesai. Tempat acara sudah sepi, hanya ada beberapa orang saja yang tengah membersihkan sisa tempat acara.
"Pak, saya pamit pulang dulu. Titip putra saya ya. Maafkan ia bila belum bisa menjadi pemimpin yang baik bagi putri anda." Pamit Bu Husna pada pak Abas.
"Tenang, Bu. Saya tidak akan memarahi Thoriq, jika belum bisa memainkan perannya sebagaimana mestinya. Karena bagaimana pun juga, semuanya juga butuh adaptasi. Tidak serta-merta bisa. Tapi sejauh ini saya melihat, Thoriq adalah pemuda yang cukup baik."
Bu Husna mengulas senyum, atas pujian yang di ucapkan besannya pada putra semata wayangnya.
"Terima kasih, pak. Semua itu karena Tuhan telah menutup sebagian aibnya." Ucap wanita berparas ayu itu, meskipun umurnya sudah tidak muda lagi. Ia juga tampak anggun dalam balutan kebaya berwarna Sage dan jilbab berwarna senada.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya pak. Sekali lagi titip Thoriq."
"Baik, Bu." Pak Abas menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamitan pada pak Abas, kini Bu Husna berpamitan pada Tsamara. Ia menggenggam kedua tangan menantunya.
"Tsamara, mama pamit pulang dulu ya. Semoga putra mama tidak akan pernah mengecewakan hatimu."
"Selama saya mengenal kak Thoriq, belum pernah sekali pun ia menyakiti hati Tsamara. Semoga seterusnya tetap seperti itu ya, ma."
Bu Husna mengulas senyum mendengar jawaban menantunya. Karena anaknya itu memang selalu baik padanya. Begitu memuliakan wanita.
Setelah kepergian Bu Husna, keluarga pak Abas masuk rumah. Mereka berjalan menuju kamar masing-masing. Termasuk Tsamara dan Thoriq.
__ADS_1
"Thoriq, kamu mau istirahat di kamar tamu atau di kamar Tsamara?"
Sengaja pak Abas menggoda menantu barunya. Sehingga Thoriq tampak menyunggingkan senyum tipis sambil garuk-garuk kepala, karena salah tingkah.
"Barang-barang Thoriq ada di kamar tamu, om."
Farah yang masih berada di situ, segera mengajak Soffin pergi ke kamarnya. Agar bocah kecil itu tidak mendengar obrolan orang dewasa.
Takutnya Soffin kumat penyakit keponya. Sehingga apa-apa serba ditanyakan, yang bisa membuat Farah stress memikirkan jawabannya.
"Ayo, kita ke kamar. Ganti baju dulu, biar ngga kegerahan."
"Habis itu Soffin tidur dengan kak Thoriq ya, kak."
"Eh, mana boleh. Kak Thoriq baru repot, tidak boleh di ganggu."
"Tapi, kak..."
"Kalau kamu ingin ke kamar Tsamara sekarang juga tidak apa-apa. Bukannya kalian berdua sudah sah? Nanti barang-barang mu biar di siapkan oleh asisten rumah tangga." Tawar pak Abas, setelah kepergian Soffin dan Farah.
"Baik, om."
"Kalian urus saja, baiknya bagaimana. Papa mau ke kamar dulu untuk berganti pakaian."
Pak Abas pun segera berlalu pergi menaiki anak tangga. Menyusul Farah dan Soffin yang sudah berada di atas tangga. Dan sekarang hanya menyisakan Thoriq dan Tsamara. Keduanya kini tampak canggung.
"Ke kamar lah dulu. Aku mau membereskan barang-barang ku."
"Mau aku bantuin, kak?"
__ADS_1
"Tidak perlu. Hanya sedikit kok." Pria itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Baiklah kalau begitu. Jika ada apa-apa hubungi Tsa, ya."
Thoriq menyunggingkan senyum tipis.
"Kenapa harus menghubungi? Jika bisa bertemu secara langsung. Kita kan tinggal serumah."
"Em, iya juga sih." Tsamara tersenyum malu, hingga menundukkan pandangannya.
"Ya sudah. Tsa pamit ke kamar dulu ya."
"Iya, silahkan." Thoriq menganggukkan kepalanya.
Ia menatap istrinya yang berjalan melewati satu persatu anak tangga. Setelah bayangannya tidak lagi terlihat, barulah ia masuk ke kamarnya.
Sejenak ia duduk di tepi ranjang sambil menghembuskan nafas panjang, tak lama kemudian ia mengukir senyum di wajahnya. Karena apa yang menjadi cita-citanya terkabul.
Sementara di kamar atas, yakni kamar Tsamara. Gadis itu juga melakukan hal yang sama dengan suaminya.
Duduk di kursi depan meja riasnya, sambil menatap bayangan dirinya lewat pantulan cermin. Ia mengulas senyum, akhirnya keinginannya untuk menikah terwujud juga.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Gadis itu bangkit berdiri dan segera melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Bibi." Gumamnya, sambil mengernyitkan dahi. Ketika tebakannya salah.
Ia pikir yang mengetuk pintu kamarnya tadi adalah suaminya.
"Eh, maaf non. Di bawah ada tamu." Ucap bibi dengan raut wajah tidak enak.
__ADS_1
"Baiklah, bi. Tolong suruh tunggu sebentar ya. Tsamara ganti baju dulu."
"Baik, non." asisten rumah tangga itu segera berlalu pergi untuk menyampaikan tugasnya.