
Di malam yang sama, Anggara dan Olive tengah duduk termenung di tempat berbeda. Anggara duduk di kursi balkon, sedangkan Olive duduk di tepi ranjang.
Apalagi yang mereka pikirkan, jika bukan malam pertama yang pasti sedang di lakukan oleh pasangan pengantin baru Tsamara dan Thoriq.
Entah terbuat dari apa otak dan hati mereka. Meskipun sudah memiliki pasangan, masih saja memikirkan orang lain.
Pantas saja rumah sakit jiwa penuh dengan pasien. Mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya hati yang ikhlas dalam menerima suatu hal.
Seperti apa yang dilakukan oleh pasangan Olive dan Anggara. Yang belum bisa ikhlas melepas sesuatu yang memang bukan jodohnya.
Cukup lama keduanya seperti itu, hingga akhirnya malam semakin larut dan mereka kelelahan sendiri. Olive pun terjatuh di atas tempat tidurnya. Tak lama kemudian Anggara menyusulnya. Ia merebahkan diri di samping Olive dan membelakanginya.
Karena terlalu memikirkan orang yang dicintainya, sampai-sampai keduanya terbawa mimpi. Di pertengahan tidurnya, mereka samar-samar membuka mata perlahan, lalu menyunggingkan senyum.
Keduanya mengira jika orang yang ada di hadapannya adalah orang yang dicintai, sehingga dengan penuh semangat keduanya melakukan hubungan suami-istri.
**
Keesokan paginya, Anggara dan Olive sama-sama menggeliat. Lalu perlahan mengerjapkan matanya. Tak lama kemudian, Olive membulatkan matanya.
"Apa! Jadi semalam aku habis berhubungan denganmu?" Ibu hamil itu seketika menutup tubuhnya yang masih polos dengan selimut.
Sama halnya dengan Olive, Anggara pun juga begitu terkejut. Ketika bangun tidur mendapati kenyataan wanita yang tengah duduk di depannya. Ia sedang menyorot tajam ke arahnya.
"Apa semalam kamu yang melayaniku?" Tanya Anggara balik.
"Siapa lagi kalau bukan aku? Kenapa, kamu kecewa? Pasti kamu semalam menyangka aku gadis itu?" Ucap Olive.
__ADS_1
"Dan kamu pasti menyangka aku adalah pria itu." Balas Anggara sengit.
Keduanya saling membuang pandangan ke samping dan mendengus kesal. Karena impian tidak sesuai kenyataan.
Tak lama kemudian, keduanya bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan bersamaan menuju kamar mandi. Sesampainya di depan kamar mandi, keduanya saling berebut untuk masuk ke dalam.
Karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya keduanya adu jari. Dan Olive lah pemenangnya.
Terpaksa Anggara duduk di tepi ranjang tempat tidur, sambil menunggu Olive selesai mandi.
"Aku penasaran, model pendiam seperti mereka apa bisa berhohohehe?" Anggara mengetukkan jari di dagunya.
**
Setelah selesai mandi, Anggara dan Olive menuju ruang makan untuk menikmati sarapan pagi bersama. Tak berselang lama, mama juga memasuki ruang makan.
"Mama, apa-apaan sih pagi-pagi sudah berisik." Olive melirik mama mertuanya dengan raut wajah tidak senang.
"Kamu yang apa-apaan. Harusnya jadi wanita itu bangun pagi, lalu bantuin pekerjaan rumah. Bukan malah bangun siang."
"Olive kan baru hamil, ma. Ngga boleh capek-capek."
"Kata siapa tidak boleh capek. Ibu hamil itu harus banyak gerak, biar bayinya sehat."
"Itu kalau kandungannya sudah besar, ma. Kalau masih sebesar telur burung puyuh, mana boleh gerak. Nanti bisa-bisa telurnya kopyor."
"Alasan saja, kamu. Pokoknya setelah makan, kamu harus bantuin beres-beres."
__ADS_1
Olive tidak lagi menjawab, tapi menyuap makanan dan mengunyahnya. Begitu juga Anggara, yang sedang asyik menyuap makanan. Ia tidak peduli perang dunia yang terjadi antara mama dan istrinya.
Setelah Anggara selesai sarapan, ia bahkan nyelonong pergi. Sedangkan Olive, terpaksa harus membersihkan piring bekas pakainya tadi. Setelah itu ia harus membersihkan rumah dengan alat penyedot debu. Jika tidak, mama mertuanya akan menghukumnya.
Selama hamil, memang Olive malas melakukan apa saja. Jadi dia tidak lagi berangkat ke kantor. Atau ke kantor hanya seenaknya saja. Anggara pun tidak memedulikan hal itu.
Sesekali Olive menyeka keringat yang menetes di wajahnya, karena ia kelelahan membersihkan rumah berlantai dua yang cukup besar itu.
Hari hampir siang, barulah ia selesai mengerjakan tugasnya. Sejenak ia duduk di kursi dapur sambil meneguk es sirup yang menyegarkan.
"Olive, kenapa kamu santai-santai seperti itu?" Suara Mama begitu mengejutkan istri dari Anggara. Sehingga ia sampai berjingkat kaget.
Ketika menoleh, ia melihat mertuanya berdiri sambil berkacak pinggang.
"Santai bagaimana? Olive baru saja selesai membersihkan seisi rumah. Ini kehausan, jadi minum dulu."
"Hem, bagus. Habis itu kamu setrika baju."
Olive mendengus kesal ketika mama mertuanya lagi-lagi menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah.
Padahal sebenarnya ia ingin seperti di film-film itu, ketika sudah menikah ingin hidup enak di rumah dan menerima kucuran dana dari suaminya. Lalu bisa di pakai untuk shoping segala macam.
"Ma, Olive capek. Mau tidur siang dulu."
"Baru bangun, sudah mau tidur lagi. Tidak bisa. Kamu harus menyelesaikan tugasmu dulu, baru mama ijinkan tidur siang."
"Mama itu tega banget sih, dengan Olive. Seperti di novel dan di sinetron itu, mertua jahat." Seru Olive sambil menggebrak meja, dan berlalu pergi meninggalkan mertuanya yang tampak terbengong.
__ADS_1