Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
66. Makan siang bersama


__ADS_3

Tsamara dan Thoriq menjemput Soffin dengan mengendarai mobil Tsamara. Dan pemuda itulah yang mengemudikan mobilnya.


"Apa kamu, tidak bisa memutus niat mu untuk balas dendam dengan mantan calon suamimu itu?" Tanya Thoriq dengan hati-hati. Karena takut menyinggung perasaan gadis disampingnya.


"Tidak bisa, kak. Dia sudah mempermalukan aku dan keluargaku. Harusnya dia melihat ku dulu, setelah sekian lama tidak bertemu. Karena seseorang itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Entah itu fisik atau sifatnya. Aku mengalami perubahan fisik, sedangkan dia mengalami perubahan sifat. Aku tak menyangka, bisa mencintai laki-laki seperti dia."


"Tsamara, jika boleh aku memberi saran. Kebencian dan kedengkian itu hanya akan merusak hati kita. Sebaiknya kamu berhenti berbuat hal-hal yang tidak baik. Biarkan Allah sendiri yang akan membalaskan rasa sakit hatimu."


Tsamara menatap tajam wajah Thoriq. Ia mulai berpikir bahwa laki-laki ternyata sama saja. Menyuruh wanita untuk melupakan kesalahan lelaki dengan mudah. Padahal luka yang di torehkan cukup dalam.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Apa kamu ingin menghisap darah ku?" Thoriq mencoba bercanda, karena tak nyaman juga di tatap Tsamara seperti itu.


"Dengar Tsamara cantik, aku juga tidak suka dengan kelakuan Anggara padamu. Tapi percayalah Allah punya caranya tersendiri untuk membalasnya. Kamu harus yakin itu. Allah membalas hamba-Nya sesuai dengan apa yang dia kerjakan di muka bumi. Kalau kamu tidak bisa menghilangkan dendam di hatimu, aku akan membantumu." Tangan Thoriq terulur menggenggam tangan Tsamara.


Gadis itu menatap sejenak tangan kekar yang memegang tangannya. Entah kenapa, membuat degub jantungnya tak beraturan. Tapi setelahnya ia merasakan kenyamanan.


Tsamara menikmati genggaman tangan itu, sampai akhirnya mobil berhenti di depan sekolah Soffin.


"Eh, ma-maafkan aku. Aku tidak berniat mengambil kesempatan." Ungkap Thoriq merasa tidak enak.


Berada di samping Tsamara selalu memicu adrenalin nya. Sehingga terkadang membuatnya lepas kendali seperti tadi.


"Kakak." Seru Soffin, saat ia sudah berada di dekat mobil Tsamara.


"Hai, ayo masuk." Balas Tsamara dengan senyum sumringah.


"Lhoh, ternyata ada kak Thoriq ya." Celoteh Soffin sambil membuka pintu bagian belakang.


"Iya. Hari ini hari yang spesial, karena kita akan makan siang bersama." Ungkap Thoriq.


"Wow, aku suka aku suka." Celoteh Soffin lagi yang membuat mereka terkekeh.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa, Soffin?" Tanya Thoriq.


"Udon."


"Udon?" Ulang Thoriq dan Tsamara bersamaan.


"Iya." Soffin menganggukkan kepalanya antusias. Bocah kecil itu memang sudah lama tidak makan, makanan khas Korea. Sejak Tsamara memutuskan diet.


"Ayo, di dekat kantor kakak ada restoran yang menyediakan menu udon."


Mereka pun akhirnya menuju kesana. Sepanjang perjalanan, mereka bertiga terus melempar canda. Hingga tak terasa akhirnya mereka tiba di restoran yang di tuju.


**


Di tempat lain, Anggara yang berjibaku dengan pekerjaannya merasa tersenyum lega. Melihat arloji di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul dua belas.


Ia menyambar handphone dan memasukkannya di dalam saku jasnya, lalu berjalan keluar. Sambil bersiul, ia berjalan menuju lobby.


Sang pemilik nama pun menghentikan langkahnya dan mendekat ke arah karyawannya.


"Maaf, pak. Ini kunci mobil anda. Katanya sudah di cuci bersih, sehingga tidak bau pesing."


"Apa kamu bilang? Jangan keras-keras kalau bicara."


Anggara melotot pada karyawannya, karena merasa kartu As nya terbongkar. Lalu bergegas menyambar kunci mobilnya.


Setelah itu, ia bergegas mencari keberadaan mobilnya di basement. Baru juga ia menghenyakkan tubuhnya di kursi kemudi, sudah terdengar dering telepon.


Ia melihat nama Olive yang memanggilnya. Bergegas ia menggeser tombol hijaunya.


"Hai, sayang." Sapa Anggara, agar Olive tidak terus-menerus marah padanya.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali?" Protes Olive dengan suara cemprengnya.


Anggara seketika menjauhkan handphone dari telinganya, karena takut gendang telinganya rusak.


"Sabar sayang. Sebentar lagi aku akan segera sampai. Ini lagi di perjalanan."


"Okay, aku tunggu."


"Iya, sampai ketemu sayang. Muach." Anggara menutup teleponnya.


Setelah itu segera memacu mobilnya lebih cepat, agar bisa lebih cepat sampai.


Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, akhirnya Anggara sampai di perusahaan orang tua Olive.


Kebetulan Olive sudah menunggunya di lobby. Gadis cantik yang sudah ia bobol gawangnya itu tersenyum melihat kedatangannya.


Ia berjalan cepat menghampiri mobil Anggara.


"Bukain pintunya." Pintanya dengan manja.


Anggara pun menghela nafas, lalu keluar untuk membukakan pintu.


"Silahkan masuk tuan putri." Anggara menyunggingkan senyum, sambil membungkukkan badannya.


Olive membalasnya dengan mengucapkan terima kasih, dan menyunggingkan senyum termanisnya. Setelah itu, Anggara melajukan mobilnya.


"Kita mau kemana, sayang?"


"Aku mau makan udon."


"Okay, kita kesana sekarang."

__ADS_1


__ADS_2