Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
98. Makan siang ala Anggara dan Olive


__ADS_3

Anggara dan Olive tiba di sebuah restoran. Rasanya Olive sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berjalan. Karena setengah hari waktunya dihabiskan untuk mengurus WO yang belum juga kelar.


"Kenapa diam saja? Ayo turun. Aku sudah membukakan pintu untukmu lho." Ucap Anggara, yang sudah membukakan pintu untuk Olive, dan berdiri di dekatnya.


"Aku lelah sekali." Keluh Olive, sambil sejenak memejamkan matanya.


"Halah, manja sekali sih." Gerutu Anggara.


"Kamu kenapa tega memfitnah ku seperti itu?" Tanya Olive, dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Bukankah tadi sewaktu berangkat, kamu baik-baik saja. Kenapa belum ada satu kali dua puluh empat jam, kamu sudah berubah?"


Pria itu tidak tahu, jika kondisi ibu hamil itu tidak bisa ditebak begitu saja. Terkadang ia sehat dan lincah seperti orang siap berperang. Terkadang juga lemas, seperti orang yang sudah bertahun-tahun tidak makan. Dan semua itu terjadi secara mendadak.


"Ya mana aku tahu. Dulu aku juga tidak seperti ini. Mungkin gara-gara anak dalam perutku ini." Wanita itu menepuk perutnya.


"Lah, kenapa jadi apa-apa yang disalahkan bayi dalam perutmu?"


"Kamu kan nggak tahu, bagaimana susahnya mengandung bayi. Selama aku hamil, tidak pernah bisa tidur nyenyak, makanan yang tidak aku sukai menjadi aku sukai, harus muntah-muntah setiap pagi, dan masih banyak lagi keluhan yang aku alami. Pokoknya, hamil itu tidak enak banget. Aku sumpahin kamu juga ikutan ngidam kayak aku." Cerocos Olive panjang kali lebar.


"Apa! Kenapa kamu malah nyumpahin aku seperti itu. Nanti kita ngga bisa enak-enak dong setelah menikah."


"Ya itu urusanmu, sukurin." Olive mendorong Anggara, lalu keluar dari mobil.

__ADS_1


"Lhololoh, kenapa jadi dia yang ngambek? Harusnya aku dong yang ngambek. Masa cuma hamil saja, susah banget. Aku rasa terlalu manja sih dia." Gumam Anggara, lalu bergegas mensejajari Olive, yang hampir sampai di teras restoran.


"Kita duduk di sana." Tunjuk Olive ke arah saung.


"Kita duduk di sana." Tunjuk Anggara di tengah-tengah restoran. Keduanya bersamaan menunjuk arah yang berbeda.


"Harus mengikuti permintaan ibu hamil, kalau tidak mau anaknya ecesan." Setelah berkata seperti itu, Olive berlalu menuju tempat yang ditunjuk tadi. Anggara mendengus kesal, lalu mengikutinya.


Tak lama kemudian, setelah keduanya duduk, seorang pelayan restoran mendekat ke arah keduanya sambil membawa buku menu. Keduanya pun segera memilih jenis makanan apa yang mereka sukai.


"Kamu yakin memesan makanan sebanyak itu?" Tanya Anggara sambil menatap Olive dengan seksama.


Pasalnya Olive tidak hanya memesan satu atau dua jenis makanan, melainkan sekaligus lima. Gadis itupun mendongakkan kepalanya menatap calon suaminya.


"Yakinlah. Kan yang makan dua orang. Aku sama bayi dalam perutku." Anggara berdecak sebal, jika Olive sudah menyangkut pautkan segala sesuatunya dengan anak dan anak melulu.


"Ya memang semua terserah aku, karena nantinya yang makan kan juga aku." Sahut Olive santai.


Setelah memastikan pesanan Olive dan Anggara, pelayan restoran itupun pergi ke dapur.


"Olive, kamu dandan seperti biasanya dong. Makin jelek aja tuh muka."


Olive melototi Anggara, karena pria itu bicara terlalu apa adanya.

__ADS_1


"Tega sekali sih kamu bicara seperti itu padaku, mas? Sudah ku bilang, aku ini lagi malas dandan, masih saja dipaksa. Mungkin ini juga bawaan bayi kita."


"Bayi lagi, bayi lagi yang jadi alasannya."


"Ya sudah. Kalau kamu tidak percaya denganku, besok kita pergi ke dokter untuk memeriksakan kandunganku ini."


"Buang-buang uang saja sih kamu. Lagian aku juga yakin, tidak ada apa-apa dengan bayi itu. Makan mu saja banyak."


Olive mendengus kesal, karena sedikit pun Anggara tidak peduli pada bayi dalam kandungannya. Untuk di ajak memeriksa saja tidak mau. Bagaimana nanti kalau bayi dalam perutnya itu kurang sehat?


Tak lama kemudian, pesanan keduanya datang. Menu yang enak dan lezat, tersaji dihadapan keduanya. Tanpa perlu diberi komando, keduanya langsung menyerbu makanan itu.


Anggara juga diam-diam mengambil makanan yang dipesan oleh Olive. Dan wanita pun mengetahuinya.


"Hem, katanya tidak mau. Eh, malah diam-diam mengambil makanan ku." Celetuk Olive, sedangkan Anggara hanya meringis saja.


"Makananmu juga makananku. Jangan pelit sama calon suami."


"Salah. Yang benar itu, makananku juga makanan untuk bayi dalam kandungan ku. Tapi karena kamu sudah terlanjur makan, ya tidak apa-apa."


"Nah, gitu dong." Ucap Anggara disela-sela aktivitas makannya. Bahkan saat itu perutnya masih penuh dengan makanan.


"Tapi jangan lupa. Nanti kamu ya, yang bayarin total tagihan makannya." Kekeh Olive.

__ADS_1


"Huh, sudah ku duga!" Sungut Anggara kesal.


Olive tidak begitu mempedulikan wajah masam pria itu sama sekali. Yang terpenting sekarang perutnya kenyang dan kantong aman.


__ADS_2