Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
88. Cemburu


__ADS_3

Keempat keluarga itu tengah mengelilingi supermarket, untuk mencari apa saja yang mereka butuhkan.


Anggara mengajak Olive pergi ke store make up. Saat sedang memilih, pramuniaga store itu merekomendasikan sebuah produk yang sedang hits di pasaran. Dan hasilnya tidak diragukan lagi.


Olive melihat dengan seksama foto siapa yang terpampang dalam bungkus pot make up itu.


"Hah, fotonya Tsamara?" Celetuk Anggara, sambil membulatkan matanya.


"Saya tidak mau yang ini, mbak. Saya mau yang lainnya." Olive langsung mendorong paket lengkap itu ke pramuniaga, sambil memalingkan wajahnya. Membuat Anggara menyadari, jika dirinya salah ucap.


"Wah, sayang sekali kak. Padahal ini produk yang baru booming lhoh. Saya sendiri juga memakainya. Terbukti jadi tambah putih, halus, kulit kenyal..."


"Kalau saya bilang tidak, ya tidak." Potong Olive dengan tegas. Ia tidak sudi jika harus memakai produk yang memakai foto Tsamara.


"Sayang, bukan kah kamu ingin berdandan dan berpenampilan menarik dihadapan ku? Tidak apa-apa kali, kamu coba produk itu. Tenang, aku yang akan membayarkannya untukmu." Bujuk Anggara, dengan panjang lebar.


"Okaylah, terpaksa aku menerima memakai make-up itu." Ucap Olive, setelah berpikir sekian detik.


Anggara dan pramuniaga tersenyum lega mendengar keputusan Olive. Lalu pramuniaga itu segera menuliskan nota dan sejumlah uang yang harus di bayar ke kasir.


Setelah mendapatkan kosmetik, mereka menuju store pakaian. Pandangan Olive tajam, menatap setiap deretan baju yang terpajang pada standing hanger.

__ADS_1


Perlahan ia memegang satu persatu baju yang berderet rapi itu. Hingga akhirnya ia menarik satu baju, tapi baju itu juga ditarik oleh orang di depannya.


Keduanya sama-sama terkejut, ketika melihat siapa yang ada dihadapannya saat itu.


"Ini milikku." Ucap Olive.


"Memang sudah kamu bayar? Belum kan?" Balas gadis yang ada dihadapan Olive, yang tak lain adalah Tsamara. Ia menaikkan sebelah sudut bibirnya, mencemooh.


Anggara yang memang mengikuti kemana pun Olive pergi, hanya diam menyaksikan semua itu. Pandangannya tak lepas dari tubuh Tsamara yang kian sedap dipandang.


"Ini memang belum aku bayar. Tapi nanti calon suamiku yang akan membayarnya. Kamu mana sanggup membayar baju ini? Orang miskin saja, belagu." Ketus Olive, yang membuat Tsamara terkekeh mendengar caciannya.


"Calon suami? Bukan kah kamu akan menikah denganku, mas?"


Dalam hati Tsamara, ia begitu terkekeh melihat pasangan aneh dihadapannya tengah saling melotot dan kebingungan.


Sebenarnya apa yang ia katakan tadi hanyalah sebuah kebohongan, dan sengaja mengerjai keduanya.


Pikiran buruknya melintas begitu saja, ketika melihat Olive yang tidak bisa bersikap baik padanya. Ia juga melakukan hal itu untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada Anggara.


"Jadi, siapa yang akan kamu pilih, mas Anggara?"

__ADS_1


Tsamara maju selangkah dan berdiri tepat dihadapan Anggara. Membuat jantung pria itu berdegup kencang.


'Aduh. Kenapa sih, Tsamara mendekati ku disaat tidak tepat seperti ini? Coba kalau tidak ada Olive disini. Beh, pasti sudah ku sikat nih mantan calon istriku.' batin Anggara menggelora.


"Mas, katakan padaku kalau yang diucapkan wanita miskin ini tidak benar."


Olive menghentakkan kakinya, disertai wajah yang merah padam. Sementara Tsamara tampak masih santai berada disitu.


Dalam hati ia bersyukur, karena beberapa kali ia diundang untuk wawancara dan memberi motivasi. Sehingga bisa lebih mengontrol hatinya untuk tetap tenang menghadapi segala situasi.


"Oh, jadi perhatian yang kamu tunjukkan ke aku akhir-akhir ini tidak benar ya mas? Padahal aku sudah senang sekali lho, kamu mau mendekati ku lagi." Tsamara pura-pura memasang wajah sedihnya dihadapan Anggara.


"Eh, bu-bukan seperti itu kok maksud ku. Jangan sedih ya." Anggara memegang kedua lengan Tsamara, sembari terus menenangkannya. Seolah lupa, jika ada Olive disampingnya.


"Mas! Calon istrimu disini." Pekik Olive tak terima, hingga ia menarik sebelah telinga Anggara.


Membuat pria itu mengasuh kesakitan, dan melepaskan pegangan tangannya dari lengan Tsamara.


"Eh, bu-bukan seperti itu Olive maksudku tadi. Aku sayang kok sama kamu. Tidak ada wanita lain di hatiku ini. Percayalah padaku sayang." Anggara terus membujuk Olive. Sedangkan Tsamara sekuat tenaga menahan tawanya.


"Oh, ya sudah. Aku pergi saja dari sini. Tapi ingat ya, mas. Kamu jangan mendekati ku lagi. Aku takut melihat singa ngamuk." Setelah berkata seperti itu, Tsamara melenggang pergi, tetap dengan santainya.

__ADS_1


'Duh, serba salah ini. Incaran ku kabur deh.' batin Anggara yang sedang memeluk Olive, sambil melirik sekilas ke arah Tsamara.


Tanpa mereka ketahui, Thoriq dari kejauhan menyaksikan semua itu. Ia begitu cemburu melihat apa yang dilakukan Tsamara. Walaupun ia tahu, jika gadis itu tengah melakukan misinya untuk balas dendam.


__ADS_2