Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
76. Positif


__ADS_3

Anggara melajukan mobilnya, dan berhenti tepat di sebuah apotik. Keduanya terdiam sekian detik, lalu saling beradu pandang.


"Kok ngga segera turun sayang? Katanya tadi mau ke apotik?" Ucap Anggara.


"Turun? Jadi aku yang harus turun gitu?" Olive menunjuk batang hidungnya sendiri. Dan Anggara pun menganggukkan kepalanya.


"Ogah, aku malu. Lagian yang duluan tangannya *****-***** siapa? Kamu kan, bukan aku? Jadi kamu dong yang harus turun dan belikan aku alat tes kehamilan itu." Ketus Olive sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Jika sudah begitu, Anggara hanya bisa mendengus kesal lalu turun dari mobil dan berjalan menuju apotik.


Sebagai seorang laki-laki, ia tentu malu membeli apa yang diinginkan Olive. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi keinginannya.


Sebelum masuk ke dalam apotik, Anggara memakai masker. Agar wajahnya tidak diketahui oleh pelayan apotek. Setelah itu, barulah ia masuk dan mengatakan apa yang hendak beli.


"Permisi kak, saya mau beli alat tes kehamilan."


"Ada beberapa jenis dan macam alat tes kehamilan ya, pak. Sebentar saya ambilkan." Ucap karyawan apotik, lalu berjalan menuju etalase.


'Sialan. Aku panggil dia kak, dia malah panggil aku pak. Wajah masih muda begini, belum menikah pula. Bisa-bisanya dipanggil seperti itu. Lihat saja, nanti bakal aku balas.' gerutu Anggara dalam hati.


"Nah, ini ya pak alat tes nya." Ucap pelayan apotik sambil memperlihatkan semua jenis alat tes kehamilan, dan menjelaskan satu persatu kelebihan dan kekurangannya.


Namun belum selesai ia menjelaskan, Anggara sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Saya mau yang murah saja bu, dua. Sepuluh ribu kan?" Ucap Anggara, dan karyawan itu langsung mengatupkan bibirnya.

__ADS_1


"Iya, pak."


Anggara mengeluarkan selembar uang berwarna ungu dan menyerahkan pada pelayan. Wanita itu menerima uang pembayaran, lalu menyerahkan barangnya pada Anggara sambil mengucapkan terima kasih.


"Ini ya, pak. Terima kasih."


"Terima kasih kembali, Bu."


"Sama-sama pak. Maaf saya belum menikah. Panggil kakak saja." Protes karyawan itu sopan.


"Kakak-kakak, memang situ kakak ku? Saya juga belum menikah. Jadi jangan panggil saya, pak."


Setelah berkata seperti itu, Anggara berlalu pergi menuju mobilnya. Dan menyerahkan benda kecil itu pada Olive. Lalu kembali melajukan menuju restoran.


"Sayang, kamu jangan terlalu panik seperti itu deh. Kita kan cuma melakukannya sekali, tidak bakalan hamil. Percaya deh sama aku." Anggara meraih tangan Olive dan mengecupnya, agar hati gadis itu tenang.


Anggara tak bisa berkata apa-apa lagi. Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di restoran yang dituju.


Sembari menunggu pesanan makanan mereka datang, Olive pamit ke kamar mandi. Setelah membaca petunjuknya baik-baik, gadis itu segera melakukan tes.


Matanya menyipit sembari menunggu hasil tesnya. Dan tak lama kemudian, matanya membelalak lebar, ketika benda pipih kecil itu menunjukkan garis merah dua.


"Tidak! Ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin hamil. Pasti ini salah." Olive sangat syok saat melihat hasil tesnya.


Ia masih menyimpan satu alat tes, dan kembali melakukan hal yang sama. Setelah melewati sekian menit, ternyata benda pipih yang ia pegang juga menunjukkan hasil yang sama.

__ADS_1


"Arghh... Kenapa nasibku jadi seperti ini? Bagaimana kalau sampai mama dan papa tahu aku hamil duluan? Tapi aku juga tidak bisa menahan diri saat itu. Walaupun sedikit sakit, tapi ada kenikmatan di dalamnya." Olive menjambak rambutnya frustasi.


Cukup lama Olive berdiam diri di dalam kamar mandi, dan Anggara juga terlihat santai saja tanpa berniat mencarinya.


Bahkan saat makanan yang mereka pesan datang, Anggara langsung melahapnya tanpa menunggu Olive.


Di dalam kamar mandi, Olive menghapus air matanya dan merapikan penampilannya sebelum keluar.


Uhuk...Uhuk


Anggara tersedak ketika Olive melempar alat tes kehamilan ke arahnya.


"Sayang, kamu mengejutkan ku saja." Gerutu Anggara kesal.


"Kalau kamu kesal, aku juga jauh lebih kesal. Apalagi setelah melihat hasil tes itu."


Pria itu menyeka bibirnya dengan tisu lalu melihat ke arah Olive, yang melipat kedua tangannya di depan dada dan berwajah masam. Bahkan matanya terlihat memerah seperti habis menangis.


Pandangannya kini beralih ke benda pipih yang baru saja dilempar Olive ke arahnya tadi. Karena penasaran ia memungut dan memperhatikan dengan seksama.


"Ini maksudnya apa, sayang? Kamu tidak hamil kan?" Ucap Anggara sembari melukis di wajahnya.


"Dasar. Kalau aku tidak hamil, mana mungkin aku akan menangis dan menjambak rambutku sendiri saat di kamar mandi tadi. Makanya baca dengan teliti petunjuknya."


Anggara mengerucutkan bibirnya sekilas, lalu membaca petunjuknya. Tak lama kemudian, ia membulatkan matanya.

__ADS_1


"Ja-jadi, kamu beneran hamil, sayang?" Ucap Anggara tergeragap.


"Sudah tahu, masih saja tanya." Kesal Olive.


__ADS_2