Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
108. Salah alamat


__ADS_3

Setelah memberi nafkah batin, Anggara dan Olive beranjak dari tidurnya. Keduanya berjalan bersama menuju kamar mandi, dan sesampainya di depan pintu, mereka saling berdesakan.


"Aku dulu." Ucap Olive.


"Tidak bisa. Aku duluan." Sanggah Anggara.


Keduanya kembali ribut, dan mempertahankan keinginan masing-masing, tanpa mau mengalah. Keegoisan mereka seperti anak kecil.


"Ya sudah, kita mandi bersama kalau begitu." Putus Olive kemudian.


"Okay, aku setuju." Anggara memperlihatkan ibu jarinya, dan segera berlalu masuk, tapi tangannya kembali ditahan Olive.


"Tapi ingat! Jangan meesum. Beneran mandi, dan tidak ada ronde selanjutnya." Setelah berkata seperti itu, Olive mendahului Anggara masuk.


"Yah, ngga janji deh kalau soal itu." Sahut Anggara enteng, lalu mengikuti Olive yang sudah lebih dulu masuk, sambil bersiul.


**


Satu jam kemudian, Olive dan Anggara sudah keluar dari kamar. Keduanya berjalan bersama menuju ke ruang makan.


Tidak ada siapa pun di ruang makan, saat mereka sampai di sana. Dan mereka juga tidak mempedulikan hal itu.


"Wow."


Anggara membulatkan matanya, melihat makanan yang lezat tersaji di atas meja. Ia duduk, lalu mulai menuang nasi ke piringnya dengan binar bahagia. Olive pun mengikuti apa yang dilakukan suaminya. Keduanya menikmati sarapan pagi yang di jama' bersama makan siang.


"Olive, Anggara. Kalian baru turun?" Tanya mama sambil berjalan menghampiri keduanya.


"Iya, ma." Balas Olive, sedangkan Anggara masih sibuk mengunyah makanannya.


"Apa masakan mama begitu lezat? Sehingga kamu tidak menjawab pertanyaan mama. Atau, kamu memang kelaparan, sehabis main kuda-kudaan dengan Olive?" Pandangan mama, beralih pada Anggara.

__ADS_1


"Mama." Olive mendengus kesal, terus-menerus di ejek mamanya.


"Dua-duanya, ma." Balas Anggara.


Belum hilang rasa kesal karena mamanya, kini sudah ditambah dengan ucapan suaminya. Wanita itu akhirnya menghela nafas panjang, lalu kembali menyuap makanan ke mulutnya. Sedangkan mama, geleng-geleng kepala menatap menantunya.


"Wow. Kamu makan banyak sekali, Anggara." Ucap Pak Sanusi, yang berjalan mendekati mereka.


'Kekacauan apa lagi yang akan terjadi? Tadi mama sama mas Anggara. Sekarang tambah papa.' batin Olive.


"Ingat, kamu di sini hanya menumpang. Jangan terlalu banyak makan." Tegas pak Sanusi, pada menantunya.


Namun, Anggara tak memperhatikan ucapan papa mertuanya. Yang ada di pikirannya hanyalah perut kenyang. Melihat hal itu, membuat papanya Olive merasa jengkel.


Belum hilang rasa jengkelnya, papanya Olive mendapat panggilan dari pak Anwar. Pria itu mengernyitkan dahi, lalu menyerahkan handphonenya pada Anggara.


"Nih, papa kamu telepon. Mungkin kangen dengan mu."


"Hallo. Ada apa, pa?"


"Lhoh, kenapa jadi kamu yang mengangkat teleponnya? Ini nomor teleponnya papa mertua mu kan?"


"Ya elah, papa. Baru juga Anggara tinggal sehari, sudah lupa saja." Suami dari Olive itu geleng-geleng kepala sambil berdecak heran.


"Berikan handphonenya pada Sanusi." Perintah pak Anwar, dari seberang sana. Dengan patuh, Anggara mengembalikan handphone pada pemiliknya.


"Papa ingin bicara dengan kamu, pa." Ucap pria itu. Meskipun tampak ragu, pak Sanusi menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Hallo, ada apa?" Tanya pak Sanusi, terdengar ketus.


"Acara resepsi pernikahan anak kita tinggal besok. Kenapa WO nya belum kesini juga?" Cerocos pak Anwar.

__ADS_1


"WO?" Ulang pak Sanusi sambil mengernyitkan dahi. Pasalnya ia tidak mengurusi hal itu.


"Olive, apa kalian sudah memberitahu tentang acara resepsi pernikahan di kediaman Anggara, pada WO?"


Olive dan Anggara tampak saling beradu pandang, lalu mengangguk bersamaan.


"Lalu kenapa sampai hari ini mereka belum datang juga, di kediaman Anggara?"


Keduanya mengedikkan bahu bersamaan lagi.


"Astaga! Kalian itu niat mengurus pernikahan apa tidak sih?


"Kami sudah niat sih, pa. Tunggu sebentar, biar Olive telepon dulu mereka."


Ibu hamil itu segera menekan nomor telepon pihak WO. Lalu menanyakan tentang dekorasi pernikahan yang belum juga di kirim, ketika panggilan sudah terhubung.


"Apa! Sudah di pasang?" Pekik Olive, yang membuat anggota keluarganya terkejut, lalu menatapnya serius.


"Dimana kamu memasang dekornya? Karena sampai sekarang, di rumah mertua saya belum ada sama sekali." Tanya Olive dengan suara yang meninggi.


"Di jalan tanjung, nomor sepuluh." Balas suara dari seberang sana, yang membuat Olive memijit pelipisnya karena pening.


"Di jalan Tunjang, nomor kosong satu mbak yang benar." Ralat Olive dengan gigi yang bergemerutuk.


"Saya tidak mungkin salah, mbak. Kurang kerjaan saja, kalau saya pasang di tempat orang lain. Sebentar, saya kirim bukti alamatnya." Panggilan udara itu diakhiri sepihak oleh pihak WO.


Olive memandang layar handphonenya, menunggu jawaban dari pihak WO. Tak lama kemudian, layar handphonenya menyala. Bergegas ia membukanya.


"Hem, pantesan. Menulis alamatnya saja salah." Gumam Olive sambil, geleng-geleng kepala.


"Mas, kamu kalau menulis alamat yang benar dong. Masa, menulis alamat sendiri saja sampai salah."

__ADS_1


"Ya ampun, Anggara." Seru kedua orang tua Olive, sambil mendengus kesal dan geleng-geleng kepala.


__ADS_2