
"Kamu kenapa, Liv? Mules, ingin ke belakang?" Tanya Anggara, yang melihat olive memegangi perutnya sambil meringis. Di saat keduanya sedang menyetrika baju dan memasukkannya ke dalam plastik packing.
"Iya mules banget, tapi bukan ingin ke belakang." Balas Olive, sambil berusaha meletakkan baju yang sudah ia packing ke dalam rak.
"Apa jangan-jangan kamu mau melahirkan?" Tebak Anggara. Ia menoleh pada istrinya dan menatapnya serius.
"Perkiraannya sih tanggal tiga puluh. Sedangkan ini baru tanggal dua puluh dua."
"Ya ampun, Olive. Namanya perkiraan ya bisa saja meleset kan?"
"Benar juga apa yang kamu katakan. Apalagi semalam aku juga tidak bisa tidur, seluruh badanku rasanya tidak karuan. Aku pikir kecapekan."
"Ah, itu pasti tanda-tanda mau melahirkan. Ya sudah, kita harus segera ke rumah sakit sekarang." Olive menganggukkan kepalanya, karena sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya.
Anggara segera menutup pintu rolling door, lalu menyiapkan apa saja yang diperlukan. Setelah itu, barulah ia memapah Olive berjalan menuju mobilnya terparkir.
Saat berada di dalam mobil, sesekali Anggara menoleh ke arah Olive.
"Ssakit..." Desis Olive, sambil terus memegangi perutnya.
"Sabar Liv, aku akan mengebut supaya cepat sampai rumah sakit."
Pria itu segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar segera sampai rumah sakit. Namun sayang, saat baru setengah perjalanan, tiba-tiba mobil yang keduanya kendarai oleng. Olive dan Anggara terlihat panik.
"Ya ampun, mas. Kamu apa-apaan sih, kenapa jadi seperti itu mengendarainya? Aku takut tahu."
"Bukan keinginan hatiku, Liv. Tunggu sebentar, aku cek mobilnya dulu." Anggara segera keluar dari mobil, dan mengecek semuanya.
"Sial! Kenapa harus bocor di saat yang penting seperti ini?" Umpat laki-laki itu, sambil menendang ban mobil bagian depan.
"Aku harus mencari taksi atau menghubungi taksi online. Tidak mungkin harus mengganti bannya dulu. Bisa-bisa anakku malah lahir di dalam mobil nanti."
Anggara pun kembali merogoh handphone yang ada di dalam saku celananya, lalu menghubungi taksi online. Namun semua driver sedang sibuk semua.
"Argh... Kenapa masalah selalu ada dalam hidupku?" Umpatnya dengan geram.
**
"Sayang, kamu sudah siap belum?" Tanya Thoriq, sambil mendekati Tsamara yang tengah duduk di depan cermin.
"Sudah, kak." Balasnya sambil menyunggingkan senyum tipis.
__ADS_1
Tsamara terlihat semakin cantik dengan pipinya yang chubby. Membuat Thoriq gemas dan mencubit pipinya.
"Argh, kak Thoriq. Sakit tahu." Tsamara mengerucutkan bibirnya, sambil berusaha melepas tangan suaminya dari pipinya.
"Maaf, sayang. Tapi sungguh, aku sangat gemas denganmu. Yuk, kita berangkat sekarang."
Tsamara menganggukkan kepalanya, lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan dengan sebelah tangan menyangga perutnya dari belakang. Sedangkan tangan yang satunya mengusap perut buncitnya.
Thoriq sendiri membantu membawakan tasnya, dan tangan yang satunya melingkar di pinggang istrinya.
"Ma, kami pamit ke rumah sakit dulu ya. Mau periksa kandungan." Pamit Tsamara, pada mama mertuanya.
"Iya, sayang. Semoga selalu sehat ibu dan bayinya. Mama jadi tidak sabar, ingin buru-buru menggendong cucu." Kekeh Bu Husna.
"Thoriq juga tidak sabar, ma. Ingin menggendong anak pertama kami."
"Biar mama saja nanti yang menggendong. Karena mama sudah berpengalaman."
"Kalau cuma sesekali, boleh-boleh saja. Tapi kalau keseringan, Thoriq bisa-bisa tidak kebagian jatah menggendong dong." Mereka bertiga terkekeh geli.
"Ya sudah, buruan berangkat sana. Hati-hati di jalan, tidak usah main kebut-kebutan. Ingat, ada bayi dalam perut istrimu."
**
"Bukankah itu, Anggara?" Gumam Thoriq, sambil menatap laki-laki yang berdiri di dekat mobilnya, dan terlihat sedang gelisah.
"Iya, kak." Tsamara ternyata mengikuti arah pandang suaminya, dan membenarkan perkataannya.
"Sepertinya dia sedang ada masalah. Bolehkah aku membantunya?" Thoriq menoleh pada Tsamara dan meminta ijin pada istrinya.
"Boleh, kak." Tsamara menganggukkan kepalanya.
Thoriq segera keluar dari mobil dan berjalan mendekati Anggara. Sedangkan Tsamara hanya berdiam diri di dalam mobil, tanpa ikut keluar.
"Ada masalah?" Tanya Thoriq, saat ia sudah berada di dekat Anggara.
Suami Olive itu terkejut dengan kehadiran Thoriq yang tiba-tiba dan kini sudah berada di hadapannya. Namun, karena Thoriq menyapanya dengan sopan, Anggara pun membalasnya dengan sopan pula.
"Ban mobilku bocor, padahal aku ingin membawa istriku ke rumah sakit."
Thoriq menoleh ke arah dalam mobil. Ia melihat Olive tengah memegangi perutnya sambil meringis. Membuat hatinya juga tidak tega, karena istrinya juga tengah hamil.
__ADS_1
"Apa istrimu akan melahirkan?" Anggara menganggukkan kepalanya.
"Cepat masukkan dia ke mobilku. Aku akan mengantarkan kalian ke rumah sakit, sekarang."
"Ba-baiklah, terima kasih sebelumnya."
"Hem, tidak perlu berterima kasih. Sudah seharusnya, untuk saling tolong-menolong pada sesamanya yang membutuhkan."
Thoriq berlari kecil membuka pintu mobil bagian belakang. Lalu kembali menghampiri mobil Anggara dan membawakan barang-barangnya. Sedangkan Anggara sendiri menghampiri Olive dari pintu samping.
"Ayo, ikut aku." Anggara membopong tubuh Olive, walaupun sedikit keberatan.
Olive begitu terkejut, ketika melihat siapa yang ada di hadapannya. Yakni Thoriq dan Tsamara. Namun ia mengabaikan rasa sungkannya, karena rasa sakit yang sudah tidak tertahankan.
Thoriq segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Karena kebetulan rumah sakit yang di tuju Anggara, sama dengan rumah sakit yang akan di datanginya untuk melakukan check up rutin pada istri dan bayinya.
Setelah sekian menit berlalu, akhirnya mobil Thoriq berhenti tepat di depan lobby rumah sakit. Pria itu segera turun dan mendekat ke arah petugas rumah sakit.
Tak lama kemudian, ia sudah kembali dan diiringi oleh dua orang karyawan rumah sakit yang membawa brankar dorong.
Dengan hati-hati mereka memindahkan tubuh Olive ke atas brankar tersebut, lalu mendorongnya menuju ruang tindakan.
Thoriq dan Tsamara juga mengikuti mereka, untuk memastikan Olive mendapat penanganan yang tepat.
Sesampainya di ruang persalinan, Anggara tidak diijinkan masuk. Ia pun menunggu di luar dengan tidak tenang.
"Sudah, duduk dulu saja. Olive baru ditangani."
Thoriq memegang bahu Anggara. Karena pria itu tampak berjalan mondar-mandir tidak tenang.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang? Ini pengalaman pertama ku menemani orang melahirkan. Beneran gugup woi."
"Aku sebenarnya juga belum pernah merasakan. Mungkin jika nanti aku menemani istriku melahirkan, juga akan bersikap sama seperti mu. Tapi ingat, jangan lupa doa juga." Anggara membuang nafas, lalu menganggukkan kepalanya.
Tsamara diam-diam memperhatikan mantan calon suaminya, yang kini terlihat sudah tampak berubah menjadi lebih bertanggungjawab.
Sementara itu di dalam ruang bersalin, Olive tengah berjuang melahirkan bayi pertamanya. Ia sampai meringis dan mencengkeram tepi brankar, karena merasakan sakit yang teramat sangat.
Dokter menyuruh Olive untuk mengikuti instruksi yang diberikan padanya.
"Ambil nafas panjang, lalu keluarkan perlahan, sambil melihat ke arah bawah ya, Bu." Olive menganggukkan kepalanya, dan melakukan instruksi dari dokter.
__ADS_1