
"Hai." sapa Thoriq dengan wajah yang berbinar. Ia mendekati Tsamara yang duduk di kursi taman, sambil menunggu adiknya seperti biasanya.
"Hai juga, kak." balas Tsamara dengan senyum sumringah.
Ia senang, memiliki teman seperti Thoriq. Sejak awal bertemu sampai sekarang, laki-laki itu tidak pernah mengatainya dengan sebutan gendut, atau hal yang semacamnya.
Laki-laki itu justru memompa semangat nya, agar Tsamara lebih percaya diri. Karena kecantikan fisik akan memudar seiring berjalannya waktu.
Tapi kecantikan hati tetap akan abadi. Meskipun jiwa dan raga sudah terpisah, kecantikan hati / kebaikan hati, tetap akan abadi sepanjang masa.
Laki-laki itu bahkan tak ragu memberinya multigrain. Vitamin untuk membantu program diet. Karena sifatnya, menekan nafsu makan. Dan harganya sekitar dua jutaan per botolnya. Padahal keduanya hanyalah berkenalan lewat adiknya, Soffin.
"Boleh aku duduk di sebelah mu?"
"Kenapa kak Thoriq selalu berbicara seperti itu? Harusnya aku yang bertanya seperti itu." Keduanya mengulas senyum bersamaan.
"Boleh aku minta nomor rekening mu?"
"Hah. Buat apa, kak? Apa kamu tidak punya rekening sendiri?" tanya Tsamara dengan muka polosnya. Membuat Thoriq mengulas senyum tipis.
"Aku ingin mengirimkan sedikit bonus padamu. Karena penjualan vitamin untuk diet ku mengalami kenaikan omset, yang signifikan."
"Bo-bonus? Bonus bagaimana maksudnya?" tanya Tsamara, dengan suara sedikit gelagapan.
Dipikirannya langsung nyambung, bahwa yang dikatakan laki-laki yang ada dihadapannya adalah uang.
__ADS_1
Tapi, ia tidak mau terlalu berharap. Karena ia merasa tidak melakukan apa-apa untuk usaha Thoriq.
"Aku ingin mengirimkan sejumlah uang padamu, sebagai bonusnya."
'Nah, benar kan tebakan ku.' batin Tsamara.
"Tapi, aku merasa tidak melakukan apapun untuk usaha mu."
"Siapa bilang kamu tidak melakukan apapun untuk usaha ku. Karena foto mu, vitamin ku itu semakin laris terjual.
Padahal untuk mendapatkan berat badan yang sekarang, kamu juga sudah melewati beberapa proses yang tak mudah.
Bahkan sampai sekarang, kamu juga masih mengantarkan adikmu les, dengan mengendarai sepeda.
Di jaman sekarang mana ada gadis yang mau naik sepeda onthel demi badannya bisa kurus. Bahkan sebenarnya, jika kamu mau sedot lemak, papa mu dengan mudah akan mengabulkannya.
Tsamara begitu tersentuh dengan ucapan laki-laki dihadapannya. Ia berpikir bahwa kelak wanita yang akan menjadi pasangannya, pasti akan sangat bersyukur.
Karena merasa beruntung memiliki suami sepertinya. Yang begitu lemah lembut, suka menolong, dan banyak lagi kebaikan yang tak bisa disebutkan satu persatu.
"Hai? Kenapa kamu justru melamun? Apa aku memang tidak boleh meminta nomor rekening mu? Apa kamu mau meminta uang cash?" Suara Thoriq cukup mengejutkan Tsamara. Gadis itu segera menggelengkan kepalanya. Lalu menyebutkan sejumlah angka dengan malu-malu.
"Kalau transfer yang banyak saja, ya. Biar aku juga mampu membeli vitamin diet milikmu." kekeh Tsamara di ujung kalimatnya.
Thoriq hanya mengulas senyum tipis, lalu menekan sejumlah angka, dan mengirim ke rekening Tsamara.
__ADS_1
Tak berselang lama, sebuah notif pesan di handphone Tsamara, muncul. Sambil berbincang-bincang dengan Thoriq, mengenai perkembangan usahanya. Ia membuka notif itu.
Ia membulatkan matanya, dan menutup bibirnya dengan tangan kirinya.
"I-ini, mungkin kakak salah. Sepertinya kebanyakan angka nol nya, kak." Gadis itu memperlihatkan notif aplikasi m-bangking nya, pada laki-laki yang ada didekatnya.
Laki-laki itu menolehkan kepalanya, lalu menatap layar handphone Tsamara sejenak.
"Ini memang benar. Tidak ada kesalahan sedikit pun." ucap Thoriq sambil mengulas senyum.
"Ta-tapi, ini terlalu banyak kak."
Thoriq justru terkekeh mendengar Tsamara memprotesnya. Bagaimana tidak, di saat banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan bonus yang lebih banyak, walaupun kerja tidak maksimal. Eh, ini Tsamara malah sebaliknya. Memprotes dengan berkata terlalu kebanyakan.
"Ini sudah benar. Menurut ku juga tidak terlalu kebanyakan. Berkat bantuan kamu, banyak orang yang mulai mengenal dan mencoba produk ku. Kamu memberikan ku banyak keuntungan. Terima kasih ya, Tsa."
Thoriq tersenyum manis pada gadis disampingnya. Tsamara yang merasa ditatap seperti itu, merasakan hatinya berdesir aneh.
'Ya Tuhan, perasaan apakah ini? Apa Engkau sengaja membuatku terbang ke langit. Lalu Engkau hempas kan aku di jurang terdalam?
Kak Thoriq tidak mungkin menyukaiku. Aku takut kecewa seperti saat berhubungan dengan Anggara dulu. Setelah dipercaya, ia justru berkhianat.
Dan bahkan sengaja mempermalukan ku didepan umum. Tapi kenapa tatapan kak Thoriq sungguh membuat ku berdebar.' batin Tsamara berusaha mengalahkan rasa ge-ernya.
"Hei. Kenapa kamu justru menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah dengan perkataan ku?"
__ADS_1
"Tidak-tidak, kak. Sejauh ini tidak ada perkataan kak Thoriq yang menyakiti hatiku. Semoga selamanya seperti ini."
"In shaa Allah. Karena Allah yang maha membolak-balikkan hati manusia."