Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
44. Pertemuan yang mengejutkan


__ADS_3

Laki-laki tadi terus mengikuti Tsamara dari jarak aman. Bahkan ia sampai menunggu Tsamara keluar dari toilet.


Setelah Tsamara keluar dari toilet, ia sungguh terkejut, sambil mengusap dadanya yang menanjak. Karena bertemu dengan laki-laki yang sangat dibencinya muncul dihadapannya.


Rasa keterkejutan juga di alami oleh laki-laki dihadapan Tsamara. Yang tak lain adalah Anggara.


"Ts-Tsamara?" gumam Anggara setelah saling beradu pandang dan menatap lekat gadis yang ada dihadapannya. Dari atas ke bawah, dan sekarang balik ke atas lagi.


Karena tak percaya dengan penglihatannya, ia mengucek kedua bola matanya. Lalu memperhatikan Tsamara lagi.


"Ka-kamu, Tsamara?"


"Bukan! Aku hantu." sahut Tsamara ketus, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Dan, aduh, hal itu bagai vitamin mata untuk Anggara. Buah melon Tsamara tercetak sempurna, dibalik kemeja putih yang ia kenakan.


Sesaat Tsamara benar-benar menikmati rasa keterkejutan mantan calon suaminya itu. Hingga ia menyunggingkan senyum sinis.


"Ke-kenapa kamu bisa berubah seperti ini? Bukannya dulu badanmu sangat gendut." tanya Anggara dengan suara parau.


Sedangkan Tsamara justru terbahak-bahak, mendengar pertanyaan aneh yang meluncur dari mulut laki-laki dihadapannya.


"Kamu nanyeeaak?" ucap Tsamara, setelah berhenti tertawa. Lalu keluar dari toilet.


Sengaja ia menyenggol kan buah melon nya ke lengan Anggara. Sehingga membuat laki-laki itu panas dingin. Dan tiba-tiba senjatanya turn on.


"Hah! Sungguh luar biasa. Hanya dia yang mampu membuat senjata ku turn on sebelum waktunya." gumam Anggara. Sementara Tsamara yang menatapnya dari kejauhan terkikik pelan.


"Rasakan pembalasan ku. Itu belum seberapa. Nanti kalau foto ku beredar dimana-mana, kamu bisa pingsan. Atau malah meninggoi." gumam Tsamara sambil menyunggingkan senyum sinis.

__ADS_1


Gadis itu melenggang santai kembali ke mejanya. Dan membiarkan Anggara mati kutu di dalam toilet.


Sebenarnya gadis itu memiliki sifat yang baik. Lemah lembut, sopan santun dan tidak suka mencari masalah dengan orang lain.


Tapi, ketika bertemu dengan Anggara. Ia rasa harus memberi pelajaran pada laki-laki seperti dia. Agar tidak berperilaku semena-mena pada perempuan.


Kaum perempuan adalah kaum yang kuat. Meskipun ia disakiti, masih tetap bisa tegak berdiri. Mengerjakan segala aktifitas sehari-hari nya sebagaimana biasanya.


Kaum perempuan bisa bersikap lemah lembut dan penuh perhatian pada keluarga dan orang-orang terdekatnya.


Tapi jangan salah, jika ada yang berani mengusik ketenangan hatinya. Maka dipastikan akan mendapatkan balasannya.


Seperti itu pulalah hal yang menimpa Anggara. Ia menjadi laki-laki yang terlalu serakah, dan matanya terlalu jelalatan. Bisa saja ia menerima hukuman yang lebih berat, jika Tuhan berkehendak.


Tak lama kemudian, makanan yang di pesan Thoriq dan Tsamara datang. Keduanya saling melempar senyum dan mempersilahkan untuk menikmati hidangannya.


Sementara itu, Anggara sudah kembali ke mejanya. Ia melihat Tsamara tersenyum manis pada Thoriq, saat akan mengunyah makanannya.


"Apa kamu bilang, mas?" tanya gadis yang ada dihadapan Anggara. Yang tak lain adalah Olive.


"Aku sempurna?" imbuh Olive lagi. Yang membuat Anggara terpecah konsentrasinya. Dan mengiyakan saja ucapan Olive. Dari pada gadis itu ngamuk-ngamuk tidak jelas.


"Kamu baru menyadari ya, mas. Kalau aku sempurna? Padahal sudah sejak dulu kan?" Olive tersipu malu.


"I-iya." balas Anggara sambil meringis. Terpaksa dirinya berbohong. Daripada Olive marah.


Tak berselang lama, makanan pesanan Anggara dan Olive pun datang. Olive mulai mengaduk makanan dan menyuap ke mulutnya.


Sedangkan Anggara hanya mengaduknya saja. Karena matanya terus menatap ke arah Tsamara yang sedang asyik berceloteh dengan Thoriq.

__ADS_1


"Mas. Kamu ngga niat makan ya? Kenapa cuma di aduk-aduk saja?" tanya Olive dengan ketus.


"Eh, i-iya. Mendadak aku kurang enak badan."


Anggara berkata sambil mengusap tengkuk lehernya. Ia benar-benar tidak tahan dengan pesona yang dimiliki Tsamara sekarang.


"Tapi kamu harus makan, mas. Biar kuat."


"Iya deh. Aku makan." akhirnya Anggara juga menyuap makanan ke mulutnya.


"Kak, kita pulang yuk. Soalnya aku harus segera menjemput Soffin sekolah." ajak Tsamara, yang berada di meja belakang Anggara dan Olive.


"Iya. Kita jemput Soffin sama-sama."


"Tidak perlu, kak. Nanti aku merepotkan kakak jadinya."


"Mobilmu kan ada di kantor ku. Sebaiknya kita jemput sama-sama agar tidak telat sampai sekolah. Baru kalian mengambil mobilnya di kantor ku."


Sejenak Tsamara menimbang-nimbang usul Thoriq. Dan akhirnya mengangguk mengiyakan. Keduanya bangkit berdiri menuju meja kasir untuk membayar.


Di saat itu, Anggara masih saja memperhatikan Tsamara.


"Sayang, kita pulang yuk." ajak Anggara.


"Lhoh, makanan kita kan belum habis."


"Tapi aku benar-benar sedang tidak enak badan lho. Ingin segera istirahat." ujar Anggara memberi alasan.


Padahal ia ingin segera mengantarkan Olive pulang. Lalu menemui Tsamara dirumahnya.

__ADS_1


"Kamu tega, melihat aku kelaparan?" Olive masih mempertahankan makan siangnya.


Anggara merasa tidak enak dengan gadis dihadapannya. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas kasar. Dan tetap diam di tempat. Sementara matanya memandang ke arah Tsamara yang berjalan keluar restoran.


__ADS_2