
Acara yang di selenggarakan di sekolah itu ternyata ditayangkan live streaming oleh sebuah stasiun televisi swasta.
Banyak juga yang melihat hal itu. Termasuk Anggara dan kedua orang tuanya.
Anggara dan papanya melihat dari handphone di ruang kerja masing-masing. Sedangkan mamanya melihat dari televisi langsung.
Mereka bertiga berdecak kagum melihat perubahan yang terjadi pada Tsamara. Ia menjadi gadis yang sangat cantik dan begitu menggoda sekali bentuk tubuhnya.
Bahkan pak Anwar sampai meneteskan air liurnya. Sedangkan Anggara, geleng-geleng kepala dan merasa semakin menyesal telah meninggalkan Tsamara.
Tak lama kemudian Anggara menyunggingkan senyum, ketika mengingat rencananya kemarin.
Ya, dia akan tetap menikah dengan Olive, agar semakin mudah jalannya untuk mendapatkan kekayaan keluarga calon istrinya.
Lalu diam-diam ia tetap akan mendekati Tsamara dan menjalin hubungan yang lebih serius dengannya. Tak peduli Tsamara miskin atau kaya. Karena yang ia inginkan adalah tubuhnya yang meliuk-liuk itu. Sangat jauh berbeda dengan Olive.
"Dimana-mana laki-laki lah yang berkuasa. Jika Olive tahu akan niat ku, dia pasti juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mengingat dia sudah hamil. Pasti ia juga tidak mau aku tinggalkan. Memang dia mau hamil tanpa suami?" Oceh Anggara sambil cekikikan.
Pria itu segera menghubungi Tsamara, untuk mengucapkan selamat. Tak lama kemudian, panggilan terhubung.
Ia menyapa Tsamara dengan memanggilnya sayang. Sangat memuakkan ditelinga Tsamara, tapi gadis itu harus tetap berbuat baik pada mantannya itu. Demi sebuah misi balas dendam.
Cukup lama keduanya bercakap-cakap. Tentu saja selama percakapan, Anggara selalu membual. Hingga Tsamara yang tak kuat, lebih memilih mengakhiri percakapan itu. Dan mengatakan dirinya sedang banyak kerjaan.
Setelah selesai bercakap-cakap lewat udara, Anggara menyandarkan tubuhnya di kursi kebanggaannya sambil menyunggingkan senyum.
"Huft... Sepertinya hidupku akan terasa sangat menyenangkan. Mempunyai istri yang kaya raya dan memiliki selingkuhan yang badannya bagai gitar spanyol. Apalagi buah melon nya, duh tidak bisa menahan untuk mencicipi betapa manisnya." Anggara menyapu bibirnya dengan lidahnya sendiri.
__ADS_1
**
Di tempat lain, Thoriq sedang duduk di depan televisi. Dihadapannya ada siaran sepakbola. Tapi yang ia perhatikan justru adalah benda pipih yang ada di telapak tangannya.
Ya, dia juga tengah melihat video saat Tsamara menjadi motivator di sebuah sekolah.
Pria itu juga menyunggingkan senyum, dan sangat terpesona dengan penampilan Tsamara. Terlihat anggun dan gaya bicaranya juga mencerminkan jika ia memang memiliki wawasan yang luas.
"Jangan senyum-senyum sendiri." Ucap Bu Husna, sambil menepuk pelan bahu Thoriq. Sehingga membuatnya sangat terkejut, dan handphone nya terjatuh.
"Mama apa-apaan sih." Sungut Thoriq, sambil mengambil handphonenya.
"Mama kan tidak melakukan apa-apa." Bu Husna duduk di samping anaknya sambil mengganti channel televisi.
Tidak disangka, jika yang ditekan oleh Bu Husna adalah channel televisi yang menampilkan Tsamara.
"Ma, aku ingin lihat siaran sepak bola." Ucap Thoriq.
"Bukankah kamu tadi menonton siaran itu di handphone mu. Ini mama kasih lihat yang besar kenapa di tolak?"
'Nah kan, ternyata benar tebakan ku.' batin Thoriq merasa sangat malu.
"Kamu menyukainya?" Todong Bu Husna.
"Mama."
"Tinggal dijawab ya atau tidak. Apa susahnya sih?"
__ADS_1
"Apa mama akan merestui, jika Thoriq menjalin hubungan dengannya?"
Bu Husna menoleh dan menatap sekilas wajah putra satu-satunya.
"Dia adalah gadis yang baik, penuh sopan santun. Walaupun pakaiannya seperti kurang bahan."
Bu Husna memang selalu memperhatikan Tsamara. Apalagi saat gadis itu mengantar adiknya les. Dulu ketika gendut, Tsamara memang memakai baju serba panjang dan lebar. Tapi setelah tubuhnya langsing, ia sering memakai baju MaTi. liMa cenTimeter.
Thoriq bahagia mendengar mamanya memuji Tsamara. Tapi kalimat dibelakangnya terkesan kurang mengenakkan hatinya.
"Lalu bagaimana, ma?" keluh Thoriq.
"Kamu ubah dia pelan-pelan. Pasti dia akan luluh. Karena mama melihat, jika sebenarnya dia itu sangat berwawasan luas."
"Thoriq memang sudah melakukan hal itu, ma. Tapi pelan-pelan."
"Hem, bagus itu. Mama suka."
"Ma, boleh Thoriq bicara serius?"
"Bukankah kita sejak tadi juga bicara serius? Pasti soal Tsamara kan?" Thoriq pun mengangguk.
"Bagaimana pendapat mama, jika Thoriq melamar Tsamara?"
Bu Husna kembali menoleh pada anaknya.
"Mama setuju."
__ADS_1
Thoriq menyunggingkan senyum dan wajahnya terlihat sangat berbinar. Hingga pemuda itu langsung menghambur ke pelukan mamanya, dan mengucapkan terima kasih berulang kali.
Bu Husna membalas pelukan anaknya dengan wajah yang berbinar dan tersenyum pula. Ia senang anaknya menyukai gadis yang sopan, baik hati, pantang menyerah dan berwawasan luas seperti Tsamara.