Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
24. Bertemu Thoriq


__ADS_3

"Idih, sudah jatuh miskin saja belagu." Anggara mencemooh sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Lebih baik miskin harta, daripada miskin adab. Katanya sekolah jauh jauh sampai luar negeri. Tapi mulutnya tidak bisa bicara yang baik. Sukanya mencemooh, menghina, dan mencibir orang lain. Idih, rugi banget yang sekolah sampai jauh." Tsamara semakin meninggikan suaranya.


Pengunjung mall yang kebetulan lewat di dekat mereka, terbengong menyaksikan mereka yang tengah adu mulut. Tentu saja, akan ada orang-orang yang memanfaatkan situasi seperti itu, dengan merekamnya.


Di tengah situasi yang memanas itu, muncul seorang laki-laki dan seorang wanita paruh baya yang berjalan ke arah mereka.


"Soffin." ucap laki-laki dan wanita itu bersamaan. Si kecil pun menoleh ke arah mereka.


"Bu Husna, kak Thoriq." gumam si bocah. Lalu mencium punggung tangan kedua orang yang di panggil namanya tadi.


Tsamara juga ikut-ikutan mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan keduanya. Tapi ketika ingin mencium punggung tangan Thoriq, laki-laki itu segera menarik tangannya. Membuat hati Tsamara sedikit kecewa.


"Hei, kita kan seumuran. Tidak usah begitu. Sengaja ya, biar aku kelihatan tua." ucap Thoriq kemudian, rasa sakit di hati Tsamara memudar, ketika mendengar alasannya. Dan ia tersenyum simpul.


"Maaf." itulah kata yang keluar dari mulut gadis gendut itu.


"It's okay. Kalian sudah selesai?" tanya Thoriq kemudian.


"Sudah, kak." balas Soffin, dan Tsamara pun mengangguk.


"Soffin, beli apa?" tanya Bu Husna.


"Ini, Bu. Beli peralatan tulis, karena yang di rumah sudah habis."


"Hem, bagus. Semangat terus belajarnya."

__ADS_1


"Siap, Bu." Soffin menempelkan ujung jarinya di pelipis.


"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, kak, Bu. Hari sudah siang." pamit Tsamara sambil kembali mengulurkan tangannya.


Setelah itu, keduanya memutar sepeda, lalu mengayuhnya.


"Jaman sekarang, sangat sulit ya Thor, mencari gadis yang tidak malu kemana-mana mengayuh sepeda onthel. Padahal dia itu anaknya orang kaya. Sifatnya juga terlihat keibuan. Sangat sayang dengan adiknya." gumam Bu Husna sambil menatap punggung gadis gendut itu.


"Benar, Bu. Thoriq juga salut dengannya."


Setelah bayangan gadis gendut dan adiknya menghilang di balik lalu lalang kendaraan yang melintas, Bu Husna dan Thoriq memutar badan, kembali melanjutkan langkah mereka masuk ke mall.


Olive dan Anggara tampak syok melihat pemandangan itu.


Olive merasa terbakar cemburu, ketika melihat gadis gendut itu bisa akrab dengan laki-laki yang dicintainya. Padahal selama ini dia yang mati-matian mendekatinya tidak bisa seakrab itu.


Sedangkan Anggara, merasa heran, karena ada laki-laki yang jauh lebih tampan darinya, tapi mau berbicara dengan mantan calon istrinya yang gendut.


Hah, ya benar itu, peribahasa yang pas untuknya. Dasar laki-laki tak bisa membedakan mana yang cantik mana yang tidak.


Beruntunglah aku dulu segera meninggalkan Tsamara, akhirnya aku sekarang bisa mendapatkan, Olive. Gadis cantik dan mulus kulitnya.' batin Anggara sambil senyum-senyum sendiri. Sampai tak sadar jika Thoriq dan ibunya mulai melintas di dekatnya.


"Hai, Thoriq." sapa Olive dengan senyumannya yang paling menawan.


"Hai juga." balas Thoriq datar.


Olive mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Thoriq dan ibunya.

__ADS_1


"Bagaimana kabarnya?" tanya Olive.


"Aku baik."


"Lalu bagaimana kabar ibu?" pandangan Olive tertuju pada wanita yang ada di samping Thoriq.


"Saya baik."


"Permisi kami mau masuk ke dalam. Tidak enak mengganggu orang yang sedang berpacaran."


"Oh, kami tidak berpacaran kok. Kita ini berteman. Iya kan, mas." Olive mengedipkan sebelah matanya pada Anggara. Dengan malas, laki-laki itu mengangguk.


"Ya sudah. Sekali lagi kami pamit. Ayo, Bu." Thoriq dengan penuh kelembutan menggandeng tangan ibunya.


Olive memutar bola mata malas, sambil menarik sudut bibirnya karena kecewa. Bertemu dengan laki-laki pujaan hatinya, tapi hanya sekedar basa-basi singkat.


Ia takut jika Thoriq tidak percaya kata-katanya tentang hubungannya dengan Anggara yang sebatas teman.


Sedangkan Anggara sedikit aneh dengan Olive yang terkesan akrab dengan laki-laki itu. Bahkan hanya mengakui jika hubungan keduanya hanya sebatas teman.


"Kenapa kamu terlihat akrab dengannya?" tanya Anggara, setelah pasangan ibu dan anak itu meninggalkan keduanya.


"Oh, dia itu teman satu fakultas dulu." balas Olive santai.


"Kamu ngga ada rasa kan sama dia?" Anggara bertanya dengan penuh selidik. Karena ia takut jika wanita yang baru saja dibelikan tas seharga ratusan juta itu memilih pria lain. Itu artinya posisinya kurang aman, dan dikhawatirkan menderita kerugian selama berpacaran dengan Olive.


"Em, tidak. Kami hanya berteman, itu saja. Tidak lebih." balas Olive sambil menarik senyum di wajahnya. Ia tak ingin Anggara mengetahui hal yang sebenarnya. Sebelum ia berhasil mendapatkan Thoriq.

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo, kita pulang." ajak Olive menggandeng tangan Anggara, sebelum laki-laki itu bertanya lebih banyak.


Keduanya pun segera berlalu meninggalkan tempat itu.


__ADS_2