
Setelah selesai makan siang, Olive dan Anggara kembali melanjutkan perjalanannya mencari WO. Namun, setiap kali keduanya masuk ke gedungnya, selalu saja di tanggal yang diinginkan, sudah di booking duluan.
"Ngga mungkin kan kita cuma menikah di KUA saja? Apa kata dunia?" Keluh Olive.
Gadis itu menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi sambil mendengus kesal.
Meskipun pernikahannya karena suatu accident, tetap saja semuanya harus tampil maksimal. Segala macam bentuk pujian, harus didapatkan.
"Betul apa katamu." Anggara setuju dengan pendapat calon istrinya.
"Ya sudah, sebelum matahari terbenam kita harus sudah mendapatkan WO untuk mengurus pernikahan kita." Cetus Olive, kembali bersemangat.
"Yakin? Nanti capek?" Tanya Anggara memastikan, sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya. Tampak mencemooh.
"Yakin." Sahut Olive mantap.
"Tadi kan aku sudah makan cukup banyak. Kalau capek dan lapar lagi, aku bisa minta kamu untuk mentraktirku."
"Idih, enak sekali kamu bicara." Anggara kembali menaikkan sebelah sudut bibirnya, sambil menjauhkan tubuhnya hingga menempel ke pintu mobil.
"Jangan pelit-pelit sama istri dan anak, biar rezeki mu semakin lancar. Kalau kamu tidak mau mentraktirku dan anak kita, ya sudah kalau aku capek, kamu bisa menggendong ku."
"Ogah! Kamu pasti berat. Makannya saja tadi banyak banget."
"Hiih, dari tadi mulutmu selalu saja asal njiplak. Tidak tahu bagaimana sakitnya hatiku, ketika kamu terus-menerus menghinaku." Olive meremas udara yang ada disekitarnya, dan giginya bergemerutuk.
Setelah sejenak menghabiskan waktu untuk bertengkar di dalam mobil, keduanya memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya, mencari WO.
__ADS_1
Tak lama kemudian, keduanya sudah tiba di gedung WO. Tempat itu agak berbeda dari beberapa tempat yang sudah mereka datangi tadi.
Bangunannya terlihat agak kecil, dan beberapa cat di dindingnya sudah terlihat memudar dan mengelupas.
Tidak hanya itu saja, di tempat parkir juga hanya ada tiga sepeda motor.
"Masa sih, tempat seperti ini adalah gedung WO?" Gumam Olive.
"Betul. Kenapa tempatnya justru terlihat seperti rumah yang sudah lama tidak dipakai ya?" Imbuh Anggara.
"Kita cari tempat lain saja yuk, mas." Olive terlihat bergidik ngeri.
"Menurut google map, hanya ini tempat terakhir yang belum kita kunjungi."
"Jadi kita tetap harus masuk ke dalam gitu?"
"Kita ini mau masuk gedung WO, tapi rasanya kenapa seperti mau uji nyali?" Gumam Anggara pelan. Olive pun memukul lengan calon suaminya.
"Kenapa bicaranya seperti itu? Aku kan jadi takut, mas. Salah sendiri kenapa kamu mengajak ku kesini?" Sungut Olive kesal.
"Huft. Mau menikahi mu saja, harus banting tulang, menguras energi dan waktu."
"Salah sendiri, kenapa kamu menghamili ku. Coba kalau kamu tidak menjebak ku, pasti juga tidak akan seperti ini jadinya. Aku bisa mendekati pria yang aku cintai."
Anggara menghentikan langkahnya dan menatap Olive. Wanita itu pun balik menatapnya.
"Siapa laki-laki yang kamu maksud?"
__ADS_1
"Mau tau saja. Sudah, ayo ke dalam." Olive menarik paksa tangan calon suaminya.
Setelah sampai di dalam, Olive dan Anggara sedikit terkejut karena suasananya begitu lengang dan hening.
Terlihat sepasang calon suami-istri tengah duduk berhadapan dengan karyawan WO. Sepasang calon suami-istri yang lain, tengah duduk di kursi tunggu.
Dilihat dari penampilan, mereka semuanya bukanlah orang kaya. Sehingga membuat Olive dan Anggara ilfill.
Walaupun keduanya merasa kurang nyaman, akhirnya mereka tetap ikut mengantri terlebih dahulu dengan jarak yang agak jauh.
Sambil menunggu gilirannya, keduanya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Bau ruangan itu juga terasa kurang sedap. Bahkan hal itu justru membuat keduanya ingin mengeluarkan isi dalam perut mereka.
"Mas, tempatnya saja sudah tidak layak seperti ini. Bagaimana nanti mau mengurus pernikahan kita ya? Aku jadi takut nih, kalau hasilnya tidak sesuai. Kita juga kan yang malu. Rugi bandar dong." Bisik Olive pelan, tepat di daun telinga Anggara.
"Iya, betul apa katamu. Aku juga sudah ilfil duluan sama tempat ini. Tapi aku tidak tahu lagi, info persewaan WO." Keluh Anggara, terlihat bimbang.
"Itu urus belakangan saja. Sekarang lebih baik kita pergi yuk." Ajak Olive, setelah ia dan Anggara terdiam sekian menit.
"Iya, aku setuju. Ayo kita pergi sekarang."
Anggara bangkit berdiri, diikuti Olive. Wanita itu menggandeng tangannya dengan erat. Seolah tidak ingin berpisah dengannya.
"Lhoh, mbak, mas. Kalian mau kemana?" Tanya karyawan, yang masih berhadapan dengan pasangan calon suami-istri, pada Anggara dan Olive.
Keduanya pun menoleh, menatap ke arah orang yang baru saja bertanya.
"Mau pulang." Balas Anggara cepat.
__ADS_1
"Bukankah kalian kesini mau menyewa jasa WO? Kenapa justru mau pulang? Tunggu dulu di kursi antrian!" Tegas sang karyawan di akhir kalimatnya. Hal itu membuat Olive dan Anggara saling beradu pandang sambil mengernyitkan dahi.