
Seperti halnya yang terjadi di rumah Tsamara, di rumah Thoriq, juga masih ada beberapa tamu yang berdatangan silih berganti, untuk mengucapkan selamat dan doa bagi pasangan pengantin baru.
Beberapa rekan Thoriq yang mengetahui Tsamara adalah brand ambassador di kantornya, menyunggingkan senyum tipis, seolah menggoda jika keduanya terlibat cinta lokasi.
Thoriq tidak bisa mengelak dan hanya senyum-senyum sendiri mendengar godaan dari teman-temannya.
Sampai sore hari keluarga Thoriq masih menerima tamu. Dan barulah saat petang tiba, mereka kembali masuk rumah.
Terdengar suara ketukan pintu. Tsamara yang baru saja selesai mandi, segera membuka pintunya. Terlihat mama mertuanya berdiri di depannya. Ia menelisik penampilannya dari atas ke bawah.
Apalagi saat itu Tsamara mengenakan dress selutut berwarna cream, dan rambut panjangnya tergerai indah. Sesaat ia melupakan bekas kebiruan di lehernya.
Sementara mama langsung melihatnya sambil menyunggingkan senyum tipis, membayangkan putranya bisa bersikap ganas.
"Mama. Ada apa, ma?" Tanya Tsamara, yang melihat mama mertuanya diam saja.
"Ayo kita makan malam bersama, nak."
"Iya, ma. Tunggu sebentar, kak Thoriq baru di kamar mandi."
"Iya, mama kembali ke belakang dulu ya." Setelah kepergian Bu Husna, Tsamara kembali menutup pintunya dan membalikkan tubuhnya.
"Hah, kakak." Pekik Tsamara.
Ia mengusap dadanya pelan, karena terkejut melihat suaminya yang sudah berdiri di belakangnya.
"Maafkan aku jika mengagetkan mu." Thoriq tersenyum tipis sambil menatap wajah istrinya. Tsamara menganggukkan kepalanya.
"Mama mengajak kita makan malam kan? Ayo kita ke ruang makan sekarang."
Thoriq menggandeng tangan Tsamara dengan mesra. Pria itu tak sungkan menunjukkan kemesraannya, karena sekarang sudah sah sebagai sepasang suami-istri.
Sesampainya di ruang makan, mama sudah duduk di kursi ujung. Thoriq dan Tsamara mengejutkannya dengan teriakan dan melingkarkan tangannya di bahu mamanya.
"Mama!" Seru keduanya kompak.
"Thoriq, Tsamara, kalian mengejutkan mama saja." Bu Husna menoleh ke sisi dan kanan, melihat anak dan menantunya yang tampak terkekeh, lalu ia pun menggelengkan kepalanya.
"Maafkan kami, ma."
"Tidak apa-apa. Mama senang sepertinya rumah ini akan bertambah ramai dengan kehadiran menantu mama." Bu Husna menoleh sejenak ke arah Tsamara yang duduk di kursi sampingnya.
__ADS_1
"Semoga saja, ma. Asal jangan sampai ramai gara-gara bertengkar ya, ma." Kekeh Thoriq.
"Jangan sampai itu terjadi. Kita harus saling memahami." Balas Bu Husna, yang disetujui Tsamara dengan menganggukkan kepalanya.
"Ayo, kita mulai makan malamnya." Bu Husna mendahului mengambil nasi dan sayurnya. Tsamara dan Thoriq kaget melihatnya mengambil makanan dengan jumlah yang cukup banyak.
"Tsamara, kamu harus makan yang banyak. Lupakan sejenak urusan diet. Mama takutnya kamu tidak kuat menghadapi gempuran dari Thoriq."
Ternyata Bu Husna mengambil nasi dan lauk yang banyak tadi, bukan untuk di makan sendiri. Melainkan untuk diberikan pada menantunya.
Tsamara syok melihat mama mertuanya bersikap demikian. Ingin rasa hati menolak, tapi makanan beserta lauk pauk dan sayur sudah tersaji dihadapannya.
Ia menatap piring dan suaminya bergantian. Thoriq pun tampak mengulas senyum sambil menganggukkan kepalanya. Dengan berat hati, Tsamara mengaduk makanannya.
Bu Husna mengajak Tsamara bercerita tentang banyak hal. Sehingga membuat Tsamara cukup nyaman sebagai menantunya, karena merasa diperhatikan.
Thoriq yang melihat interaksi keduanya tampak menyunggingkan senyum lega. Karena mama dan istrinya tampak akur.
Setelah selesai makan malam, Tsamara membantu mamanya membereskan meja makan. Namun, mama mertuanya menghentikannya.
"Biar mama yang membereskannya. Toh, tidak terlalu banyak juga kok. Sebaiknya kamu ke kamar sekarang, pasti suamimu sudah menunggumu."
"Kak Thoriq pasti tidak mempermasalahkan hal ini kok, ma."
Karena mama mertuanya terus mendesaknya ke kamar, Tsamara tak ada pilihan lain lagi, selain hanya menuruti perintah mama mertuanya.
Dengan pelan ia membuka pintu kamarnya, lalu masuk. Terlihat suaminya sedang duduk di balkon sambil memainkan handphonenya.
Tsamara membiarkannya dan lebih memilih untuk menggosok gigi. Setelah itu barulah ia mendekati suaminya.
"Kenapa kak Thoriq duduk di sini?" Thoriq langsung menoleh ke arah istrinya, yang berdiri di sampingnya sambil tersenyum tipis.
"Hanya mencari angin segar. Kamu sudah selesai membantu mama?"
Untuk yang kedua kalinya, Thoriq menarik tangan Tsamara, hingga membuatnya duduk dipangkuannya.
"Mama tidak mau aku bantuin." Tsamara mengadu pada suaminya sambil mengerucutkan bibirnya, hingga membuat Thoriq gemas melihatnya dan menarik ujungnya.
"Kenapa?"
"Katanya takut kamu terlalu lama menungguku. Padahal aku tahu, kamu sedang tidak menungguku. Iya kan?"
__ADS_1
"Memang benar kok, apa yang dikatakan mama. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Ini kan malam pertama di kediaman ku." Thoriq mendaratkan ciuman di pipi Tsamara.
"Kakak." Ucap Tsamara sambil memegang sebelah pipinya sambil menahan senyumnya.
Dusta sekali jika Tsamara tidak bahagia saat itu, karena suaminya selalu mengejutkannya dengan sebuah kecupan.
"Apa kita akan melakukannya di sini?"
"Me-melakukan apa?" Tanya Tsamara dengan suara parau.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Katanya dulu sudah ingin menikah, masa gitu saja tidak tahu."
Thoriq yang mulai jahil, menggelitiki pinggang istrinya. Tsamara berusaha ingin menjauh, tapi tetap tidak bisa, karena sebelah tangan suaminya mencengangkan lengannya erat.
Hingga tanpa sengaja kepala keduanya terbentur. Lalu keduanya mengusap kepalanya pelan sambil beradu pandang.
Deru nafas keduanya mulai tak beraturan. Apalagi ketika Thoriq perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Tsamara mulai memejamkan matanya.
"Aku ingin melakukannya di sini." Bisik Thoriq lembut, tepat di telinga Tsamara. Sehingga membuatnya kembali menghangat.
Walaupun bercampur deg-degan dan was-was, Tsamara menuruti keinginan suaminya. Ia membalas dengan lembut kecupan yang diberikan padanya.
Malam itu menjadi malam pertama keduanya melakukan hubungan suami-istri di luar ruangan. Rasanya benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Apakah masih terasa sakit?"
"Sudah berkurang."
"Oh, berarti memang benar. Kita harus sering-sering melakukannya, agar jalannya berubah menjadi jalan tol." Kekeh Thoriq, untuk menghilangkan ketegangan di wajah istrinya. Dan benar saja, ia tersenyum simpul terlihat lebih rileks.
Setelah selesai, Thoriq mengangkat tubuh Tsamara dan membantu memberikannya. Barulah mereka menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut.
"Kamu tidak pakai, bra?" Tanya Thoriq, ketika meraba dada istrinya yang tercetak jelas. Tsamara menggelengkan kepalanya.
"Apa itu artinya nanti malam, kita akan melakukannya lagi? Sepertinya kamu sudah siap sekali."
"Kakak. Aku memang sejak dulu, tidak pernah memakai bra saat tidur. Untuk menghindari penyakit kanker payudara."
"Ih, pintar sekali kamu mencari alasan." Thoriq menarik hidung istrinya dengan gemas.
"Sumpah, kak. Aku tidak bohong. Kemarin saat di rumahku, aku juga tidak memakainya."
__ADS_1
"Kalau kamu begitu setiap hari, bisa-bisa imanku melemah." Thoriq menghujani wajah Tsamara dengan kecupan, yang membuat wanita itu menggelinjang geli.