Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
96. Berbeda kondisi


__ADS_3

Hampir seharian Thoriq dan Tsamara pergi berdua. Keduanya merasa senang sekaligus puas, bisa menikmati waktu berdua untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka.


Setelah berbelanja kebutuhan pernikahan, Thoriq mengantar Tsamara pulang. Tak lupa pria itu membelikan buah tangan untuk calon keluarga barunya.


Sesampainya di teras rumah, keduanya sudah disambut dengan sorak-sorai si kecil Soffin. Bocah kecil itu banyak sekali melempar pertanyaan pada keduanya. Sehingga membuat keduanya geleng-geleng kepala.


"Baru seharian kamu tinggal pergi saja, sudah seperti emak-emak rempong. Bagaimana kalau ditinggal sebulan atau setahun ya, Tsa?" Celetuk Thoriq.


"Ih, ngga boleh." Pekik Soffin, sambil mengerucutkan bibirnya. Thoriq terkekeh melihat calon adik tirinya ngambek.


Thoriq berdiri sejajar Soffin, lalu memberi bocah kecil itu pengertian dengan penuh kelembutan.


"Janji ya, kak. Kita harus adil. Kak Tsa dibagi dua." Ucap Soffin setelah mendengar penjelasan Thoriq yang panjang lebar.


"Dibagi dua? Memang aku bisa dibelah? Macam semangka saja." Ucap Tsamara yang duduk di kursi.


Ia tidak tahu apa yang tengah dibicarakan Thoriq pada adiknya, sehingga dia bisa berkata seperti itu. Sedangkan Thoriq dan Soffin terkekeh kecil sambil melihat ke arah Tsamara yang sedang memasang raut wajah kesal.


"Tidak apa-apa kok, kak. Ini hanya rahasia untuk sesama laki-laki. Kakak tidak boleh tahu." Balas Soffin.


"Astaga, Soffin! Kamu kok kelewatan sama kakak sendiri. Padahal tiap hari yang mengantar kamu sekolah siapa, hayo?"


"Kak Thoriq bersedia kok mengantar Soffin ke sekolah. Iya kan, kak?" Soffin menepuk kedua sisi pipi Thoriq.

__ADS_1


"Iya, tapi ada syaratnya lho. Tidak boleh nakal dan harus menurut dengan apa kata papa dan kak Farah ya."


"Siap, kak." Soffin menempelkan ujung jarinya di pelipis sambil tersenyum.


Thoriq membalas senyumannya sambil mengacak rambut kriwilnya.


Tsamara menatap kedua pria beda usia itu dengan heran. Karena ada sesuatu yang disembunyikan mereka.


**


Ditengah kebahagiaan pasangan Thoriq dan Tsamara dalam mempersiapkan pernikahan keduanya, hal yang berbeda justru tengah dirasakan oleh pasangan Olive dan Anggara. Karena keduanya memiliki selera yang berbeda dalam segala hal.


Seperti kala itu, keduanya sedang berada di gedung WO. Mereka tengah cekcok dalam menentukan tema apa yang akan dipakai.


Jadi saat mengenakan kostum basahan, badannya yang sempurna itu akan menjadi tontonan oleh para tamu undangan. Ia yakin mereka akan memuji badannya.


Sedangkan Olive, memilih tema kebarat-baratan. Sesuai dengan keadaan keluarganya yang kaya dan terpandang.


Ia nantinya ingin memakai gaun pengantin yang lebar dan panjang. Kepalanya juga diberi mahkota. Dan memotong kue pernikahan tingkat sepuluh.


"Tidak bisa begitu Olive. Kamu kan seorang perempuan, harus menurut pada laki-laki." Ucap Anggara sambil menatap calon istrinya.


"Harusnya kamu yang menurut padaku keinginanku, mas. Keluargamu kan hanya terima beres saja. Semua dana yang mengeluarkannya juga dari pihak ku, kan?" Sengit Olive.

__ADS_1


"Aku tahu semua dana yang mengeluarkan dari pihak keluargamu. Tapi apa kamu mau menjadi istri yang durhaka? kalau kamu berani menolak keinginan ku?"


Keduanya terus saja beradu mulut, sehingga pihak WO yang duduk dihadapan mereka, memijit pelan kepalanya karena pusing.


"Diam!" Bentak karyawan WO itu sambil bangkit berdiri dan menggebrak meja, membuat Anggara dan Olive seketika diam.


"Lebih baik kalian perang diluar saja. Agar tidak mengganggu kerja saya. Kalau sudah menemukan jawabannya, barulah kalian menghadap saya." Imbuh karyawan WO itu.


"Apa? Jadi kamu berani membentak dan mengusir kami?" Protes Olive sambil bangkit berdiri, diikuti oleh Anggara.


"Maaf, bukan maksud kami mengusir. Tapi kalian berdua harusnya sadar diri, disini bukan tempat yang tepat untuk bertengkar.


Apa kalian berdua tidak malu, dilihat oleh banyak orang? Lihatlah, mereka datang kesini karena memiliki tujuan sama seperti anda. Tapi malah anda ganggu dengan perang mulut yang anda lakukan." Tegas karyawan itu.


Olive dan Anggara menoleh ke kanan dan kiri. Benar saja apa yang dikatakan oleh karyawan itu, bahwa kini semua orang tengah menatap ke arahnya.


"Ini semua gara-gara kamu!" Olive menyalahkan Anggara, sambil menunjuk wajahnya.


"Lhololoh, tidak bisa begitu. Ini semua gara-gara kamu. Jadi perempuan harus menurut sama pihak laki-laki."


"Tapi, kalau kamu sedikit saja mengalah denganku, pasti semua orang tidak akan menatap dan membicarakan kita." Sengit Olive.


Keributan kembali terjadi. Karyawan yang masih berdiri itu, geleng-geleng kepala. Sedangkan orang yang melihat justru terkekeh geli, karena ulah pasangan aneh itu. Beberapa dari mereka juga mengabadikan momen itu dengan merekam di handphone masing-masing.

__ADS_1


"Saya bilang, diam?" Karyawan yang masih berdiri itupun kembali menggebrak meja, yang membuat Olive dan Anggara seketika diam.


__ADS_2