Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
75. Apotik


__ADS_3

Tsamara benar-benar bagai di guyur rezeki. Setiap novel yang ia buat, selalu laris dipasaran. Beberapa novelnya sudah diangkat ke layar lebar. Menjadi brand ambassador untuk dua jenis produk wanita. Hingga fotonya semakin beredar luas. Ia juga sering diundang untuk menjadi motivator. Dan lewat itu semua, ia berhasil mengumpulkan pundi-pundi rupiah.


Karena rasa syukurnya, ia menggelar sebuah acara makan-makan bersama dengan tetangga kompleks perumahan kontrakan.


Tentu saja hal itu disambut baik oleh tetangganya. Selain mendapat makan gratis, juga bisa berfoto bersama. Dan mereka pun bisa bertanya-tanya pada Tsamara dengan lebih leluasa.


Setelah acara itu selesai, Tsamara merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya sambil menyunggingkan senyum puas.


Rasanya semua yang ia dapatkan seperti sebuah mimpi. Hingga notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatiannya.


"Kak Thoriq." Gumamnya ketika melihat sekilas nama Thoriq.


[Selamat atas pencapaian mu. Semoga apa yang kamu dapat ini, tidak membuatmu sombong. Tapi justru mengobarkan semangat mu untuk terus mencapai cita-cita mu yang lainnya.]


"Kenapa kak Thoriq bisa mengirim pesan seperti ini padaku? Apa dia tahu tentang acara yang aku gelar tadi?" Tapi siapa yang memberi tahunya?" Gumam Tsamara.


[Terima kasih, kak. Semua juga berkat doa dan dukungan dari kakak.] Sebuah balasan Tsamara kirimkan untuk Thoriq.


[Besok malam, aku ingin mengundangmu makan malam. Dalam rangka merayakan keberhasilan mu ini. Kamu mau kan?]


"Apa? Bukankah seharusnya yang mengajak makan malam itu aku. Karena yang menggelar acara syukuran kan aku. Tapi kenapa ini sebaliknya? Aku jadi tidak enak dengannya. Tunggu-tunggu, makan malam? Apa itu artinya aku akan makan malam dengan kak Thoriq, berdua saja gitu? Kenapa aku merasa aneh? Biasanya jika kami makan selalu ada Soffin. Sebaiknya aku perjelas, agar tidak salah sangka."


[Iya kak, aku mau. Tapi itu acara makan malamnya cuma kita berdua atau Soffin diajak juga ya?]


Tentu saja, Thoriq yang ada diseberang sana menepuk jidatnya sendiri. Karena Tsamara tidak tahu apa yang diinginkan.

__ADS_1


Ya, laki-laki itu hanya ingin makan malam berdua dengan Tsamara.


[Bisakah jika kali ini kita makan malam berdua? Tapi nanti lain kali kita bisa mengajak adik-adik dan papamu makam bersama.]


"Kak Thoriq mau mengajak ku makan malam berdua?" Gumam Tsamara dengan wajah yang berbinar, satu tangannya menutup mulutnya yang menganga. Entah kenapa hal itu membuatnya kegirangan.


**


Sudah satu Minggu, setiap pagi Olive selalu mual dan muntah. Setelah agak siang kedua rasa itu sudah tidak muncul lagi.


Mamanya yang mengira ia hanya sakit masuk angin biasa juga mulai khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak. Ia menyuruh Olive untuk berobat. Gadis itu menganggukkan kepalanya, walau tidak tahu kapan ia akan berobat.


Bagaimana jika dokter memvonisnya hamil?


Akhirnya Olive menghubungi Anggara. Gadis itu ingin mengajak makan siang berdua dengan pacar nya itu. Sekalian ingin mengatakan keluhan yang dialami beberapa hari belakangan ini.


Saat melewati persimpangan jalan, keduanya kembali melihat foto Tsamara yang ayu terpampang jelas di pinggir jalan.


Senyum melengkung di wajah Anggara, karena melihat sosok gadis yang mencuri perhatiannya. Yakni Tsamara.


Berbeda dengan Olive yang justru mengerucutkan bibirnya, karena melihat Anggara tersenyum menatap foto itu. Dalam hati ia berjanji akan melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian Anggara lagi.


"Pandangin saja terus, biar matamu copot sekalian." Cetus Olive sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dan mengerucutkan bibirnya.


"Hah, kenapa kamu bisa berkata seperti itu sayang?" Anggara pura-pura tidak tahu, Walau kenyataannya tadi ia sempat terkejut.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bego. Aku tahu kamu itu sedang memandang fotonya siapa." Ketus Olive.


"Hei, kamu cemburu ya? Aku hanya mencintaimu seorang."


Anggara menowel dagu Olive, dan berniat mengecupnya. Tapi sayang, traffic light telah berubah warna menjadi hijau. Jadi ia harus cepat jalan, karena pengguna jalan di belakangnya sudah mengklaksonnya.


"Aku tidak percaya." Ketus Olive.


"Apa kamu mau bukti?" Anggara menaikkan satu alisnya sambil menyunggingkan senyum.


"Tentu saja aku mau bukti."


"Okay, bukti apa yang kamu minta sayang? Tas mewah, baju mewah, sepatu me..." Belum juga Anggara selesai berkata, Olive sudah memotongnya.


"Apotik."


"Apotik? Kamu mau aku buatkan apotik?" Kekeh Anggara.


"Tidak, aku mau ke apotik beli alat tes kehamilan."


"Apa!" Seketika Anggara menginjak rem mobilnya kuat. Lalu menoleh pada Olive.


"Beli tes kehamilan? Kamu ingin membuktikan rasa sayangku padamu dengan membeli alat tes kehamilan? Memang alat tes kehamilan itu mahal sekali ya? Hingga kamu berniat membelinya?"


"Bukan karena mahal aku ingin membelinya. Tapi karena aku ingin menggunakannya."

__ADS_1


"Apa! Ka-kamu ingin menggunakannya sayang?"


"Jangan kebanyakan apa-apa. Cepat jalan dan belikan apa yang aku pinta tadi."


__ADS_2