Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
22. Pertemuan Anggara dan Tsamara


__ADS_3

Akhirnya mobil memasuki pelataran sebuah restoran mewah. Gegas Anggara keluar, dan melakukan hal yang sama seperti tadi. Yakni membukakan pintu untuk Olive.


Lalu keduanya berjalan dengan anggun, saat memasuki restoran itu. Sebuah meja yang terletak di tengah-tengah, menjadi tempat yang di pilih oleh Anggara. Karena merasa, ia dan Olive layak menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung.


Dan ternyata benar tebakannya. Beberapa pengunjung mulai memperhatikan kehadiran keduanya. Sehingga membuat Anggara tersenyum jumawa.


Seorang waiters berjalan ke arah mereka, dan menyodorkan buku menu. Dengan gayanya yang selangit, Anggara memesan makanan yang paling mahal di restoran itu. Lalu sambil menunggu pesanan datang, mereka bercakap-cakap.


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Sebuah menu yang membangkitkan selera makan, tersaji dihadapan keduanya. Anggara mempersilahkan Olive untuk menikmati makanannya.


Tiba-tiba, saat olive tengah memotong makanannya, Anggara menyodorkan sesendok makanannya padanya.


"Cobain makanan punyaku. Rasanya enak. Kamu pasti suka." ucap Anggara.


Dengan menatap pemuda yang ada dihadapannya sambil tersenyum tipis, Olive menerima suapan itu.


"Hem. Enak." ucap Olive setelah mengunyah daging sapi yang di bakar setengah matang.


"Kamu pintar sekali memilih restoran."


"Aku hanya ingin makan di restoran yang terbaik. Karena selain makanannya enak, juga terjaga kebersihannya." balas Anggara.


Selama keduanya menikmati makan malam bersama, Anggara terus mengeluarkan kata-kata mautnya. Agar Olive terpikat padanya.


**


Di hari Minggu, Soffin mengajak Tsamara untuk membeli buku dan pensil. Karena persediaannya sudah menipis.

__ADS_1


Dengan senang hati, Tsamara mengantarkannya. Keduanya mengayuh sepeda menuju super market di kotanya.


Mengayuh sepeda, memang menjadi sebuah kebiasaan baru bagi keluarganya. Semenjak rutin melakukan hal itu, badannya semakin terasa enteng dan jauh lebih segar.


**


Di tempat lain, Anggara juga tengah menjemput Olive. Ia berniat mengajak gadis cantik itu jalan-jalan untuk menghabiskan waktu akhir pekannya.


Olive tampak cantik dengan memakai celana pendek diatas lutut berwarna cream, dan t-shirt berwarna pink. Tas kecil yang berharga puluhan juta, ia selempang kan di bahu kirinya. Sepatu flat shoes menghiasi kakinya yang putih mulus, dan jenjang.


Anggara selalu dibuat susah menelan saliva, ketika berhadapan dengan nya. Karena penampilannya selalu membuatnya bertambah cantik. Setelah berpamitan, keduanya pun segera menuju ke sebuah mall.


Anggara menggenggam tangan Olive, saat keduanya berjalan memasuki mall tersebut.


**


Keduanya bergandengan tangan masuk ke dalam mall. Lalu menuju ke tempat yang dimaksud.


Soffin tampak berbinar, saat memilih buku tulis. Ia memilih berdasarkan cover yang bagus menurutnya.


Tsamara juga membantu memilihkan buku untuk adiknya. Setelah puas memilih, dan membayar total belanjaan, keduanya mengelilingi mall.


"Kak, aku mau es krim." pinta Soffin.


"Boleh, Ayo." ajak Tsamara dengan bersemangat.


Keduanya berjalan beriringan menuju kedai es krim, yang ada di dalam gedung itu. Lalu memesan es krim kesukaan Soffin.

__ADS_1


"Enak ngga?" tanya Tsamara, disela-sela Soffin menikmati makan es krim. Bocah kecil itu mengangguk kan kepalanya diiringi wajah yang berbinar.


Arghhh...


Geram gadis dihadapan Soffin. Ia mengibas-ngibaskan bajunya yang kotor terkena lelehan es krim.


"Dasar bocah kecil. Kalau jalan pakai mata dong." cerca gadis itu pada Soffin.


"Maaf, kak. Sepertinya yang salah itu kakak deh. Orang sejak tadi aku sudah berdiri disini." jawab Soffin tanpa rasa takut.


"Maaf mbak, dimana-mana kalau orang jalan itu pakai kaki. Bukan pakai mata." ucap Tsamara tegas.


"Anggara." "Tsamara." gumam Tsamara dan Anggara bersamaan.


Olive mengernyitkan dahi, ketika mendengar Anggara dan gadis gendut yang berdiri dihadapannya saling menyebut nama.


"Kalian berdua saling mengenal?" cetus Olive.


Tsamara sengaja diam. Ia ingin melihat apa jawaban dari mantan calon suaminya itu. Sedangkan Anggara sedikit bingung. Rasanya begitu malu ia mengakui jika Tsamara adalah mantan calon istrinya.


"Di-dia itu menyukai ku, sayang. Tapi aku jelas tidak menyukainya. Tahu sendiri, perbedaan antara kamu dan dirinya itu seperti apa. Jauh berbeda kan? Bagai langit dengan bumi." ucap Anggara, tanpa takut menyakiti hati Tsamara.


Menggagalkan pernikahannya saja ia berani, apalagi hanya berbicara seperti itu. Sangat mudah dilakukan oleh seorang Anggara.


Tsamara menaikkan sebelah sudut bibirnya. Ia tahu jika Anggara tidak berani mengatakan jika keduanya hampir menikah. Dan kini telah berbohong.


"Bohong! Kamu yang telah tega menyakiti hati, kak Tsa. Gara-gara kamu membatalkan pernikahan dengan kakakku, membuat kami mengalami kerugian yang sangat besar. Sehingga harus tinggal di rumah kontrakan."

__ADS_1


Tsamara terkejut, ketika adiknya berbicara seperti itu. Padahal ia tak mengajarinya. Anggara juga tidak menyangka, jika si kecil itu bisa berkata demikian. Ia berpikir kakak dan papanya yang telah memberitahukan hal itu padanya. Sedangkan Olive bingung, kenapa anak kecil itu berkata demikian.


__ADS_2