Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
59. Hawa panas


__ADS_3

Anggara tengah menikmati waktunya dengan penuh suka cita, walaupun ada sedikit dukanya juga ketika bersama dengan Tsamara.


Tapi, di tempat lain pak Anwar dibuat pusing tujuh keliling dengan ulah putranya itu. Karena laporan yang dikerjakan Anggara tempo hari banyak yang salah. Sehingga ia terpaksa harus meneliti dan membenarkan semuanya.


"Sialan tuh anak. Berangkat dari rumah paling awal dengan alasan mau ke kantor. Tapi sampai siang seperti ini belum juga kelihatan batang hidungnya. Bahkan harus menyisakan pekerjaan yang salah semua. Aku juga yang harus turun tangan untuk membenarkan nya. Aku jadi curiga, apa saja yang ia lakukan selama berkuliah di luar negeri. Apa hanya main-main saja kerjaannya? Lalu apakah aku harus mengurus perusahaan ini sampai tutup usia." Pak Anwar mengeluarkan uneg-unegnya dalam hati. Karena, bagaimana pun juga, Anggara adalah anak laki-laki satu-satunya.


**


Sementara itu, di tempat lain. Olive melempar handphonenya ke meja. Untung saja handphonenya itu tidak sampai rusak.


Ia benar-benar geram dengan kelakuan Anggara. Biasanya laki-laki itu selalu menghubunginya lebih dulu. Untuk menanyakan kabar dan *****-bengek lainnya. Tapi, beberapa hari ini ia sama sekali tidak menghubunginya.


Dan bahkan hal yang paling membuat gadis itu marah adalah, ketika ia baru saja menghubungi pacar nya itu. Tapi yang terdengar justru suara-suara yang meresahkan itu.


Olive beranggapan bahwa, Anggara bukan laki-laki yang setia. Lalu bagaimana jika dirinya hamil? Bukan kah beberapa hari yang lalu, Anggara telah mengambil mahkota berharganya?


"Arghh... Sial!" Pekik Olive tak terima.


"Awas saja, jika sampai aku hamil dan dia tidak mau bertanggungjawab. Akan aku jadikan dia buaya buntung. Biar tidak bisa capcipcup sana sini.


Aku juga bodoh. Harusnya tidak gampang melayaninya. Apalagi, terkadang hatiku ini juga masih ada keinginan untuk memiliki Thoriq.


Tapi kalau sudah begini, aku harus bisa membuat Anggara bertekuk lutut padaku." Oceh olive panjang lebar.


**


Kini Tsamara dan Anggara sudah sampai di sekolahan Soffin. Keduanya sengaja menunggu di dalam mobil.

__ADS_1


Kesempatan yang bagus pikir Anggara, untuk bisa mencolek-colek Tsamara. Tapi, bukan Tsamara namanya. Kalau tidak bisa mengkadali buaya buntung di dekatnya.


"Tsa, tangan mu lembut sekali sih? Kamu pakai perawatan apa?"


"Jangankan perawatan, mas. Bisa makan saja, sudah bersyukur." Ketus Tsamara.


"Lagian, aku cuma gosok kulit ku pakai batu. Seperti orang purba jaman dulu kala."


Anggara terkekeh kecil.


"Kalau paahaamu ini juga di gosok pakai batu juga?"


"Iya lah, mas. Masa pakai gosokan panci. Yang ada kulitku justru berdarah."


"Benar juga sih." Anggara meringis.


"Terus, badanmu bisa langsing karena apa?" Tanya Anggara cukup penasaran. Meskipun beberapa kali bertemu, Tsamara selalu menjawab, tetap saja ia penasaran.


Anggara menelan saliva. Ia memang tidak suka makan sayuran.


"Mau tanya apa lagi?"


"Em..."


"Pasti kamu mau tanya, kenapa buah strawberry ku berubah jadi buah melon kan? Itu karena aku rajin memijatnya setiap hari."


Anggara membulatkan matanya. Mendengar ucapan Tsamara yang blak-blakan. Padahal dulu dia adalah seorang gadis yang cantik dan sopan.

__ADS_1


Tidak pernah sekali pun bicara ke hal hal yang menjerumus. Tapi sekarang ia begitu cantik, solehot, dan menantang. Terus mengobarkan jiwa kelaki-lakiannya.


Tsamara tak kuasa untuk menahan tawanya melihat wajah Anggara yang kembali memerah, karena ucapannya tadi yang tanpa melalui proses quality control.


"Tolong belikan aku es di pinggir jalan itu. Haus sekali." Pinta Tsamara, sambil mengusap lehernya hingga turun ke dada.


"Ba-baik." Ucap Anggara, tanpa bisa menolak. Dan seperti kerbau yang di congkel hidungnya.


Laki-laki itu segera keluar, dan berjalan menuju penjual es cendol yang berada di pinggir jalan.


"Es nya lima ya bang. Ngga pakai lama."


"Hah! Aku ini kan penjual es, bukan tukang sulap. Yang sekali kedip, langsung jadi es nya." Balas penjual dengan sebal.


"Alah. Banyak omong lagi. Keburu haus nih."


Anggara juga mengusap lehernya. Menirukan gayanya Tsamara. Karena yang di otaknya saat ini, adalah Tsamara dan Tsamara.


Sementara itu di dalam mobil, Tsamara tertawa terbahak-bahak. Ia menyadari tingkah konyolnya saat melakukan misi balas dendam nya.


Ternyata sakit hati itu, bisa membuat orang gila. Orang yang sopan menjadi liar. Seperti halnya yang dilakukannya saat ini.


Terlihat Anggara sedang berjalan menuju ke mobil. Tsamara kembali memasang wajah siaga. Dengan merapikan kembali penampilannya, dan bersiap untuk melakukan acting selanjutnya.


"Maaf lama menunggu. Ini es nya." Anggara menyerahkan seplastik es pada Tsamara.


"Lhoh, kok banyak sekali?"

__ADS_1


"Udara terasa panas sekali. Jadi aku pikir minum es lebih cocok."


Tsamara melihat ke arah luar, yang jelas-jelas terlihat awan hitam, yang sebentar lagi akan menitikkan air hujannya.


__ADS_2