Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
156. Kebahagiaan Tsamara dan Thoriq


__ADS_3

"Iya, Tsamara akan segera melahirkan. Ayo, cepat kamu siapkan mobilnya. Biar mama yang membantunya untuk berjalan."


"Baik, ma."


Thoriq pun segera berlari menuju carport. Lalu menyiapkan kendaraan roda empatnya, tepat di depan teras.


Setelah itu, ia membukakan pintu mobil bagian belakang, lalu membantu istrinya agar bisa duduk dengan nyaman di dalamnya.


Yang terakhir, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap bisa sampai rumah sakit dengan cepat.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Tsamara semakin merasakan pinggangnya sangat sakit. Namun, ia berusaha menahannya. Karena tidak ingin terlihat lemah di hadapan suami dan ibu mertuanya.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mobil berhenti di depan lobby rumah sakit. Thoriq segera membuka pintunya, dan mengangkat tubuh Tsamara dengan hati-hati.


"Suster, dokter. Tolong istri saya mau melahirkan." Pekik Thoriq yang berjalan memasuki lobby.


Perawat yang melihat kehadirannya, segera mendekat dan membantunya.


"Letakkan di sini, tuan." Ucap perawat, sambil menepuk brankar yang ia dorong.


Dengan hati-hati, Thoriq meletakkan Tsamara di atas brankar itu. Lalu ikut mendorongnya bersama perawat menuju ruang persalinan.


"Silahkan, anda tunggu di luar. Biarkan team kami menjalankan tugasnya." Ucap perawat sambil menutup pintunya.


Thoriq dan mamanya duduk di kursi tunggu. Bu Husna yang mengetahui perasaan putranya, mengusap lengan dan punggungnya dengan lembut, untuk menenangkannya.


"Kita hanya perlu berdo'a. Selebihnya, serahkan pada yang di atas."


Thoriq menganggukkan kepalanya dan mengusap wajahnya.


**


Sementara itu di dalam ruang persalinan.

__ADS_1


Dokter mengecek kondisi Tsamara, sedangkan beberapa perawat menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan.


"Ini sudah pembukaan lengkap ya, Bu. Bahkan kepalanya sudah terlihat. Kita akan mulai prosesnya. Saya harap ibu bisa mengikuti instruksi saya dengan baik. Tarik nafas dalam-dalam, lalu keluarkan sambil melihat ke bawah. Jangan banyak bergerak, agar tidak mengalami robek yang lebar di jalan lahir."


Tsamara mengangguk mengikuti instruksi yang diberikan oleh dokter.


Setelah semua siap, proses persalinan itupun di mulai. Tsamara berusaha menjalankan apa yang diperintahkan oleh dokter tadi, dengan semaksimal mungkin.


Tangannya mencengkram tepi ranjang dengan kuat sambil mengejan. Dan, tak lama kemudian tangis bayi terdengar menggema memenuhi setiap sudut ruangan.


Luruh air mata Tsamara ketika mendengar suara tangis bayinya untuk yang pertama kali.


"Maaf, bayinya saya taruh di atas tubuh anda ya, Bu. Untuk menjalin hubungan antara ibu dan anak agar lebih erat."


"Iya, sus. Terima kasih." Lirih Tsamara, sambil memeluk perlahan bayi yang ada diatasnya.


Sejenak ia memejamkan matanya, menikmati setiap gerakan dari bayi mungilnya yang berjenis kelamin perempuan.


Karena selama proses persalinan Tsamara tidak banyak bergerak, maka ia tidak perlu mendapat jahitan di jalan lahirnya.


**


Bu Husna memeluk anaknya erat sembari mengucapkan kata, selamat. Karena kini ia telah menjadi seorang ayah.


Beban yang di pikulnya pun kian bertambah berat. Namun meskipun begitu, Bu Husna percaya bahwa anaknya pasti bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.


"Kenapa dokter tidak segera keluar ya, ma? Padahal Thoriq tak sabar ingin melihat wajah mungil malaikat kecil kami."


"Thoriq, sabarlah dulu. Mungkin bayimu baru dibersihkan, atau bisa jadi Tsamara juga baru di jahit di jalan lahirnya."


"Apa! Apa itu tandanya, kami sudah tidak bisa..."


"Bisa. Tapi nanti, setelah Tsamara selesai masa nifasnya. Lagian pikiran kamu kenapa sudah melayang jauh. Padahal istrimu baru saja melahirkan."

__ADS_1


"Bu-bukan begitu maksud Thoriq, ma. Thoriq tidak apa-apa kok jika harus berpuasa beberapa hari. Tadi Thoriq pikir, jalannya ditutup rapat. Jadi tidak bisa program anak kedua, ketiga dan selanjutnya dong."


Bu Husna menatap Thoriq sambil geleng-geleng kepala.


**


Setelah sekian menit berlalu Tsamara mendekap bayinya. Kini saatnya keduanya di pindah ke ruang perawatan.


Perawat pun segera membawa keduanya keluar dari ruang persalinan. Thoriq dan mamanya yang berada di luar, sontak bangkit dari duduknya, ketika melihat hal itu.


"Akan di bawa kemana istri dan bayi saya, dok?"


"Kami akan membawanya ke ruang perawatan."


"Oh, baiklah. Itu artinya kami boleh ikut kan, dok?"


"Tentu saja, silahkan."


Rombongan itu pun akhirnya berjalan beriringan menuju ruang perawatan yang ada di lantai atas.


"Thoriq."


Sebuah suara yang sangat di hafal, membuat Thoriq menghentikan langkahnya dan memutar badannya.


"Papa." Gumam Thoriq ketika, melihat papa mertuanya berlari kecil menghampirinya.


"Ayo kita ikuti Tsamara, pa." Ajak Thoriq, sambil menunjuk istrinya yang sedang di dorong oleh perawat. Pak Abas pun menganggukkan kepalanya.


**


Di dalam ruang perawatan, Thoriq dengan hati-hati menggendong bayinya, lalu mengadzaninya.


Setelah selesai, ia mengecup kening bayinya sambil memejamkan matanya. Ia sangat bersyukur sekali, atas segala anugerah yang berlimpah dari Tuhan.

__ADS_1


Bu Husna dan pak Abas mengucapkan selamat pada Tsamara dan Thoriq secara bergantian. Tak lupa untaian doa meluncur dari bibir keduanya untuk rumah tangga anak-anaknya.


__ADS_2