Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
47. Hukuman untuk Anggara


__ADS_3

Malam itu Anggara dan Olive tengah di landa rasa gelisah. Tapi tidak dengan Tsamara. Ia begitu bahagia. Bisa membuat mantan calon suaminya klepek-klepek. Padahal ia tidak merencanakan pertemuan itu.


Ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya. Dan tak lama kemudian, ia sudah terlelap tidur.


Kali ini ia bisa tidur dengan sangat nyaman. Seperti orang yang tidak pernah tidur selama kurun waktu yang cukup lama. Dan akhirnya bisa tidur.


Saat baru saja terlelap tidur, Tsamara tidak mendengar bunyi handphonenya. Yang bahkan berdering selama beberapa kali. Tidak hanya panggilan telepon, beberapa bunyi pesan singkat, ia juga tidak mendengar.


**


Seperti biasa, Tsamara bangun pagi. Agar bisa berolahraga dan menghirup udara pagi. Saat mematikan alarm handphonenya, tak lupa ia mengecek handphonenya.


Ia mengernyitkan dahi, ketika melihat sederet panggilan tak terjawab dan beberapa pesan singkat, dari nomor yang sama.


Siapa lagi kalau bukan dari mantan calon suaminya. Yakni Anggara. Senyum sinis nya terbit, ketika membaca sederet pesan yang disampaikan oleh Anggara padanya.


"Oh, rupanya dia sangat merindukan ku." gumamnya diiringi senyum sinis.


"Dia memang laki-laki yang pintar dalam bersiasat. Dulu ketika aku masih cantik, di dekati. Setelah aku mengembang bak roti donat, aku ditinggalkan. Dan setelah aku kembali ke settingan pabrik, dia kembali mengejar ku." Tsamara terkekeh keras seorang diri setelah bergumam.

__ADS_1


Ia tak sadar bahwa suaranya yang keras, bisa mengganggu ketenangan seluruh penghuni rumah. Karena jarak antar satu kamar ke kamar yang lainnya sangat lah berdekatan.


Beruntung, Farah yang tidur di tempat tidur sampingnya, tidak terbangun. Begitu pula dengan Soffin dan papanya yang tidur dalam satu kamar.


"Hem, kira-kira aku harus melakukan apa ya? Agar dia benar-benar menyesali perbuatannya? Apa aku balas saja pesan singkatnya ini? Yah, aku rasa itu ide yang bagus." gumam Tsamara diiringi serangaian jahat.


Gadis cantik itu lantas membalas pesan yang di terima dari mantan calon suaminya itu.


'Hatiku terlalu sakit. Aku tidak tahu bisa memaafkan mu atau tidak. Kita jalani saja kehidupan yang sudah digariskan untuk kita. Toh kamu juga sudah bersama gadis lain. Yang lebih cantik, hot dan tentunya juga lebih kaya dari aku kan? Aku merasa rendah diri. Dan takut kejadian seperti itu kembali terulang lagi. Yah, walaupun rasa di dalam hati ini sulit padam.'


Tsamara mengirim pesan balasannya, disertai emoticon menangis. Agar tampak menjiwai. Padahal sebenarnya ia terkekeh saat mengetik balasannya tadi.


Suara tertawanya mulai terdengar berisik di telinga Farah. Sehingga gadis itu mengeram. Seketika Tsamara menutup mulutnya, agar adiknya tidak kebrisikan.


**


Setelah mematikan alarm, ia mengucek matanya, agar bisa melihat dengan lebih jelas. Ia menajamkan penglihatannya. Kala melihat balasan pesan dari Tsamara. Buru-buru ia membaca isinya.


"Nah kan. Apa aku bilang. Dia memang masih mencintai ku. Tenang Tsa. Aku akan kembali memperjuangkan mu. Aku hanya melakukan sekali dengan Olive. Jadi dia juga tidak mungkin hamil." gumam Anggara penuh percaya diri.

__ADS_1


Ia pun membalas pesan dari Tsamara tadi. Tapi setelah menunggu sekian menit, belum ada lagi jawaban dari Tsamara.


Akhirnya, ia memutuskan untuk mandi. Karena harus segera bersiap-siap berangkat ke kantor. Untuk mengerjakan pekerjaan yang telah dibebankan papa padanya.


Setelah selesai mandi, Anggara segera memakai stelan baju kerjanya. Yang terdiri dari kemeja lengan panjang, celana panjang warna hitam dan jas berwarna senada dengan celananya.


Ia memantas diri di depan cermin, lalu menyambar tas kerjanya, dan bergegas keluar kamar. Karena jarum jam telah menunjukkan pukul enam pagi.


Ia hanya meneguk segelas susu, lalu berangkat kerja.


"Ah, kenapa rasa susunya lebih enak punya Olive." gumamnya sambil menaruh gelas yang isinya masih sisa setengah. Mulutnya benar-benar seperti rem blong, yang lepas kendali.


Setelah meminum susu, Anggara segera berjalan menuju carport. Ia mengeluarkan mobilnya, lalu mengemudikan nya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Agar tidak telat sampai di kantor. Sesuai dengan perintah papanya.


Namun ternyata, jalanan pagi itu memang sudah ramai, dan kendaraan padat merayap. Sehingga membuatnya jengah. Karena harus melewati sebuah kemacetan kota.


"Sial. Aku ini kan anaknya bos. Tapi kenapa malah di suruh-suruh berangkat pagi seperti ini? Bukan kah pekerjaan itu juga bisa dikerjakan oleh karyawannya yang lain." maki Anggara kesal, sambil memukul kemudinya. Tanpa sadar, ia sudah menggerutu hingga berulang kali.


Akhirnya Anggara bisa sampai di kantor juga. Walaupun jarum jam telah menunjukkan angka tujuh pagi.

__ADS_1


Ia mempercepat langkahnya, agar bisa masuk ke dalam ruangannya. Sesampainya di dalam ruang kerjanya, ia begitu terkejut. Karena papanya benar-benar menyiapkan setumpuk berkas yang sangat banyak di mejanya.


"Ah, papa sialan." pekik Anggara sambil melempar tas kerjanya di meja.


__ADS_2