Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
146. Pusing


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sepuluh jam lebih, akhirnya pesawat yang ditumpangi Tsamara dan Thoriq mendarat dengan sempurna di bandara.


Dengan hati-hati, Thoriq membantu istrinya turun.


"Aku penasaran dengan cara kakak, sewaktu membawaku masuk ke dalam pesawat." Celetuk Tsamara tiba-tiba, saat melewati garbarata pesawat. Wanita itu menoleh dan menatap suaminya sejenak.


"Apa jangan-jangan kakak naikkan aku di brankar dorong ya? Atau di gotong rame-rame?" Tebak Tsamara, yang membuat Thoriq terkekeh kecil.


"Ish, jahat."


Tsamara memukul pelan lengan suaminya. Karena ia pikir, tebakannya itu benar. Biasanya jika orang mengingat kesalahannya, maka ia akan tertawa.


"Lhoh, kok ngatain kakak jahat? Padahal belum kakak jawab lho."


"Tidak perlu di jawab. Kakak tadi tertawa, itu tandanya apa yang aku ucapkan benar adanya."


"Siapa bilang? Ilmu dari mana itu? Kakak baru mengetahuinya. Kemarin itu kakak yang mengangkat mu sendirian, tanpa ada yang membantu. Karena kamu cuma istri seorang Thoriq. Tidak akan ada laki-laki lain yang boleh memegang mu, tanpa persetujuan ku." Thoriq meletakkan tangannya di bahu istrinya dan menatapnya intens.


"Kakak romantis sekali." Tsamara mengusap lembut wajah suaminya, sambil tersenyum manis.


"Kita mau pulang kemana dulu?" Tawar Thoriq.


Pria itu ingin istrinya bisa tetap nyaman beristirahat. Setelah selama di pulau Maldives, ia mengajaknya kerja rodi.


"Aku terserah kakak saja sih."


"Terserah aku? Okay, aku beri kamu pilihan. Yang pertama jika kita langsung pulang ke rumahmu, Soffin pasti akan mencerca kita dengan banyak pertanyaan, dan kita tidak akan bisa sejenak beristirahat. Kasian tahu dengan benih yang setiap hari aku tanam dalam perutmu. Yang kedua, jika kita pulang ke rumah mamaku, kita bisa sejenak beristirahat di sana dan memikirkan jawaban atas pertanyaan yang mungkin saja Soffin akan ajukan. Tapi kamu pasti merasa tidak enak, jika beristirahat sesampainya di sana."


Tsamara terkekeh kecil mendengar penjelasan suaminya. Lagi-lagi pria itu selalu memperhatikannya walau hal sekecil apapun.


"Kita pulang ke rumah mama saja kalau begitu." Ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Serius, mau pulang ke rumah mama dulu?" Ulang Thoriq dengan bersemangat. Tsamara pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh asisten Thoriq berhenti tepat di depannya. Pasangan suami-istri itu segera masuk.


Mobil berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera tiba di rumah dan majikannya bisa beristirahat.


Huek...


Tsamara tiba-tiba mengeluarkan cairan dari dalam perutnya.


"Berhenti!" Seru Thoriq, untuk menyuruh asistennya menghentikan laju mobilnya.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Thoriq khawatir, sambil membantu membersihkan bibir Tsamara dengan tisue.


Wanita itu menggeleng lemah sambil mengelap bibir dan wajahnya juga.


"Tolong pelankan sedikit laju kendaraannya. Karena itu membuatku pusing dan mual." Lirih Tsamara, sambil menyandarkan punggungnya di kursi jok.


"Baik, tuan. Maaf, karena saya membuat istri Anda tidak nyaman. Pikir saya, agar bisa cepat sampai rumah dan beristirahat dengan nyaman."


"Tidak masalah. Sekarang, ayo jalan lagi." Asisten rumah tangga itu pun mengangguk, lalu kembali melajukan mobilnya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil berhenti tepat di depan rumah megah Thoriq. Pasangan suami-istri itu segera turun dari mobil.


Sambil mengucapkan salam, keduanya masuk rumah. Bu Husna yang melihat kedatangan anak dan menantunya, berbinar bahagia dan langsung berlari kecil mendekati keduanya.


"Apa kabar kalian? Mama pikir kalian tidak akan pulang." Ucapnya sambil bersalaman dan berpelukan erat dengan anak dan menantunya secara bergantian.


"Maafkan kami, ma. Kami di sana lebih lama tanpa memberitahu mama. Kami juga sengaja tidak mengaktifkan handphone, agar tidak ada yang mengganggu selama kita di sana. Karena kita ingin fokus melakukan sebuah misi." Kekeh Thoriq di ujung ucapannya.


"Dasar, anak nakal!" Bu Husna memukul lengan anaknya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana, apa misi kalian sudah selesai?" Cercanya kemudian.


"Itulah ma, yang Thoriq khawatirkan tadi. Pasalnya si Roy, tadi melajukan mobilnya kencang sekali. Sampai Tsamara pusing dan muntah di dalam mobil. Thoriq takut terjadi apa-apa sama benih yang baru saja di semai sebulan lebih."


"Apa? Ya sudah, kamu bawa istrimu ke kamar. Mama buatkan wedang uwuh untuk kalian berdua."


Meskipun sudah sama-sama dewasa, Tsamara malu juga jika suami dan mertuanya membicarakan tentang hal itu. Ia pun sengaja memilih diam.


"Baik, ma. Ayo, sayang." Thoriq membantu Tsamara berjalan.


Sesampainya di kamar, Tsamara merebahkan diri di atas tempat tidur. Sedangkan Thoriq mengusap hidung dan perut Tsamara dengan minyak telon.


"Kak, aku tidak apa-apa kok. Nanti juga enakan. Kamu ikut istirahat saja." Tsamara memegang tangan suaminya yang tengah memijit pelipisnya.


"Aku bisa istirahat nanti. Kekuatan pria kan jauh lebih besar ketimbang wanita."


"Hem, iya-iya. Tsamara percaya." Wanita itu menaikkan sebelah sudut bibirnya.


Tak lama kemudian, Bu Husna datang sambil membawa nampan yang berisi teko dan dua gelas cangkir. Ia berjalan mendekati anak dan menantunya. Lalu meletakkan nampan itu di atas meja nakas.


"Nak, kamu minum wedang uwuh ini dulu ya. Biar pusing dan rasa mualnya berkurang. Rasa capek di badanmu juga bisa berkurang, karena minuman ini terbuat dari rempah-rempah." Bu Husna menuang sedikit demi sedikit minuman hangat itu ke dalam cangkir.


"Iya, ma. Terima kasih. Maaf sudah merepotkan mama." Tsamara beranjak duduk dengan hati-hati.


"Mama tidak pernah merasa direpotkan. Ayo minum selagi masih hangat." Bu Husna menyodorkan secangkir wedang uwuh pada menantunya.


Tsamara menganggukkan kepalanya sambil menerima cangkir itu, lalu meneguk minuman tradisional secara perlahan.


"Thoriq, kamu juga harus minum. Ini." Bu Husna menyodorkan secangkir minuman yang sama, pada putranya.


Setelah memastikan anak dan menantunya meminum minuman tradisional itu, Bu Husna berlalu keluar. Ia memberikan waktu bagi mereka untuk beristirahat terlebih dahulu. Walaupun sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia tanyakan.

__ADS_1


__ADS_2