Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
74 Olive sakit


__ADS_3

Tepuk tangan yang meriah untuk Tsamara. Setiap untaian kata-kata yang keluar dari mulutnya memang hanyalah sebuah kalimat biasa. Tapi bisa membangkitkan semangat dari para siswa-siswi, dan para bapak ibu guru.


Tekadnya yang kuat untuk merubah diri menjadi menjadi lebih baik, sangat patut di apresiasi dan membuat mereka yang hadir semakin termotivasi untuk mengikuti langkahnya.


Tsamara yang masih berdiri diatas mimbar, sangat terharu. Ia tidak percaya kata-katanya bisa membuat mereka seantusias itu dalam memberikan tepuk tangan untuknya.


Hal itu semakin membuatnya percaya diri dan tetap rendah hati. Juga memotivasinya untuk terus memompa semangat orang lain yang ada di luaran sana untuk mau menggali potensi diri dan berkarya sesuai dengan bakatnya masing-masing.


Setelah menutupnya dengan kalimat salam, Tsamara turun dari mimbar. Lalu berjalan menuju tempat duduknya tadi.


**


Di pagi hari yang sama, Olive bangun tidur. Tidak seperti biasanya. Kali ini badannya terasa sakit semua. Kepalanya juga pusing, lalu mendadak perutnya mual.


Dengan langkah tertatih, ia pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Sesampainya di sana, ia muntah-muntah.


"Perasaan kemarin aku masih sehat-sehat saja. Tapi kenapa sekarang aku lemas seperti ini?" Gumamnya, setelah membersihkan mulutnya dengan berkumur. Lalu menatap bayangan dirinya melalui pantulan cermin.


Setelah puas mengeluarkan cairan dalam perutnya, Olive kembali ke tempat tidurnya. Matanya tak bisa terpejam. Pikirannya berkelana kemana-mana.


"Olive, kamu kok masih tidur?" Tanya mamanya, sambil berdiri di ambang pintu.


Olive menoleh dan melihat mamanya tengah berjalan ke arahnya.


"Badan Olive tidak enak, ma."

__ADS_1


Mama coba menempelkan telapak tangannya ke kening anak gadisnya. Lalu mengernyitkan dahi.


"Tidak panas." Desisnya.


"Badan ku memang tidak panas, ma. Tapi kepala ku rasanya pusing. Terus tadi aku juga sempat muntah-muntah."


Mama terkekeh kecil mendengar penuturan anaknya. Sedangkan Olive yang baru saja selesai bercerita, mengernyitkan dahinya.


"Kenapa mama justru tertawa, melihat ku sakit?"


"Tidak. Hanya saja penyakit mu seperti orang hamil. Tapi, kamu jelas tidak mungkin hamil lah. Menikah saja belum. Mungkin kamu masuk angin. Bukan kah beberapa hari ini kamu selalu pulang malam. Karena lembur dengan papamu?"


DEG!


"Olive, kamu mau mama buatkan bubur ayam untukmu?" Tanya mama yang mengejutkan Olive dari lamunannya. Lalu gadis itu menggeleng.


"Tidak ma. Olive mau dibuatkan sup ayam kampung saja."


"Hah, bukannya selama ini kamu tidak suka dengan sup ayam kampung? Dan biasanya kamu lebih suka sup matahari?" Mama mengernyitkan dahi heran.


DEG!


Sekali lagi jantung Olive berhenti berdetak. Ia juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba sangat menginginkan makanan yang selama ini tidak disukainya.


"Okay baiklah. Mungkin kamu sudah bosan kali ya, makan sup matahari terus. Jadi ingin varian lainnya. Tunggu sebentar, mama akan buatkan untukmu." Mama beranjak dari duduknya, lalu berjalan keluar.

__ADS_1


Setelah kepergian sang mama, Olive membuka aplikasi di handphonenya. Ia coba browsing tentang tanda-tanda kehamilan, seperti apa yang diucapkan mamanya tadi.


Matanya membeliak lebar, karena ciri-ciri ibu hamil, sama seperti apa yang ia alami. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat.


"Tidak-tidak. Aku tidak boleh hamil. Aku hanya melakukannya sekali, jadi tidak mungkin hamil." Ucap Olive sambil menggelengkan kepalanya, lalu mencoba untuk tersenyum.


Ia memejamkan matanya, berusaha untuk membuang jauh-jauh pikiran buruk itu. Bukannya hati tenang, tapi pikirannya justru berkelana.


"Apa sebaiknya aku tes saja. Agar hatiku tenang?"


"Olive, ini sup nya sudah jadi. Mumpung masih hangat, ayo di makan." Suara mama kembali mengejutkan Olive, yang sedang bermonolog.


"Iya, ma." Olive bangkit dari tidurnya, lalu duduk dengan bersandar kepala ranjang.


Mencium harum aroma sop, membuatnya tak sabar ingin segera melahapnya. Suap demi suap, Olive masukkan ke mulutnya. Hingga tak butuh waktu lama, semangkuk sop itu telah habis ia makan. Mama yang melihatnya sampai terheran-heran.


"Enak kan sup ayam kampung buatan mama?"


"Iya, ma. Enak sekali. Sampai bikin badanku berkeringat, dan jauh lebih enteng. Besok bikinkan lagi ya ma?"


"Beres." Mama mengacungkan ibu jarinya, lalu keluar kamar.


"Mungkin benar juga apa kata mama. Kalau aku cuma masuk angin biasa. Buktinya setelah makan sup buatan mama, badanku kembali terasa segar." Ucap Olive dengan girangnya.


Setelah itu ia bangkit dari tempat tidurnya dan mandi. Bersiap untuk berangkat ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2