
"Berapa botol parfum yang kamu semprotkan ke tubuhmu?"
"Tidak banyak, pak. Hanya lima botol saja." balas Anggara dengan tersenyum.
"Astaga! Kenapa tidak sekalian satu dirigen saja. Atau kalau perlu, kamu mandinya pakai air parfum sekalian. Jadi biar awet seratus tahun. Dan bisa membuat semua orang yang ada di dekatmu mati perlahan. Karena tidak kuat menahan baunya. Sumpah ini bau parfum yang buat saya muak, hampir saja mau muntah." cicit pak Sanusi sambil menutup hidungnya.
Anggara membulatkan matanya, dengan mulut yang menganga. Tidak menyangka akan mendengar ucapan yang menyakitkan hatinya.
Padahal tadi ia merasa semuanya sudah perfect. Dan yang ia lakukan adalah untuk menarik perhatian agar bisa di sanjung, tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Sehingga ia hanya bisa meringis dan garuk-garuk kepala, untuk menutupi rasa tidak enaknya.
Ia juga merasa heran dengan pak Sanusi, karena ia tidak diijinkan masuk ke dalam rumahnya. Dan malah berdiri di ambang pintu, sehingga mulai dikerubungi banyak nyamuk.
Tak berapa lama kemudian, Olive datang menghampiri papa dan Anggara yang masih berdiri di ambang pintu.
"Hei, sudah dari tadi?" tanya Olive memecah ketegangan kedua laki-laki beda usia itu.
Anggara menoleh dan menatap gadis cantik yang memakai dress berwarna peach. Dan rambut panjangnya selalu tergerai indah. Seketika ia menelan saliva nya dengan susah payah, karena gadis itu begitu cantik.
"Kok malah bengong?" tanya Olive.
"Sumpah, kamu cantik sekali." balas Anggara dengan tatapan yang terus mengarah pada bagian tertentu tubuh Olive.
__ADS_1
"Jangan jelalatan punya mata." ucap pak Sanusi. Yang membuat Anggara kembali meringis, menyadari dirinya yang tak bisa mengendalikan indera penglihatannya itu.
Olive hanya tersenyum simpul, melihat kejadian itu. Ia tahu, siapa pun tak kan bisa menolak pesona kecantikannya.
"Oh, iya. Om, saya pamit mau mengajak Olive keluar."
"Hem. Jangan lama-lama, dan jangan aneh-aneh. Atau aku akan membatalkan kerjasama perusahaan kita.
"Tentu tidak, om. Saya akan menjadi Olive dengan segenap jiwa dan raga. Bahkan saya juga siap untuk menikahinya sekarang. Sebagai bentuk tanggung jawab saya."
Olive dan papanya sontak membulatkan matanya, mendengar kata 'menikah' dari mulut Anggara. Pasalnya, mereka baru saja bertemu tadi pagi. Dan malamnya sudah bisa bicara seperti itu.
"Kamu bilang menikah seperti bilang mau jajan permen, mudah sekali. Memangnya kamu punya modal apa, sampai tak segan untuk melamar menjadi menantu ku?"
"Apa saja akan saya usahakan untuk Olive, pak. Agar mendapat restu bapak." balas Anggara setelah berpikir sekian detik.
Yang penting, ia harus bisa merebut perhatian dari keluarga pak Sanusi. Nanti kalau sudah menikah, barulah ia bisa memanfaatkan keluarga pak Sanusi balik.
Tidak seperti keluarga Tsamara, yang baru menyelenggarakan pesta pernikahan saja, sudah jatuh miskin. Dan jika mengingat bentuk tubuhnya, serasa ingin muntah dan kembali pingsan.
Sementara itu, Olive mulai tertarik pada Anggara. Karena mendengar pengakuannya tadi. Yang akan melakukan apapun untuk ia dan keluarganya. Gadis cantik itu ingin mengetes Anggara. Untuk membuktikan ucapannya.
"Yuk, jalan sekarang. Keburu malam nih. Pa, aku pamit dulu ya." ucap Olive, sembari bersalaman dengan papanya. Anggara pun melakukan hal yang sama. Berpura-pura sopan.
__ADS_1
Keduanya berjalan beriringan menuju mobil. Dan saat sampai di dekat kendaraan roda empat itu, Anggara segera membukakan pintu untuk Olive.
"Silahkan masuk, princess."
Olive tersipu malu, ketika Anggara memperlakukannya seperti itu. Setelah olive masuk ke mobil, laki-laki itu pun juga mengitari mobil dan segera masuk.
Kuda besi itu melaju meninggalkan pelataran rumah mewah milik Olive. Dan menuju ke sebuah restoran terkenal di kota itu.
Anggara merasa gengsi jika lulusan luar negeri, harus makan di pinggir jalan. Hal itu mengingatkan pada Tsamara.
Saat keduanya masih sama-sama bersekolah di sekolah menengah atas. Anggara mengajak Tsamara ke restoran, tapi gadis itu lebih memilih jajan di sebuah warung kaki lima.
Alasannya, karena harganya yang murah, dan rasanya juga tidak kalah enaknya. Saat itu dengan terpaksa Anggara menurutinya.
Ehem...
Olive sengaja berdehem keras. Karena sejak tadi Anggara justru melamun.
"Eh, ma-maafkan aku. Sampai melupakan jika tengah ditemani wanita cantik, seperti kamu." Olive tersenyum tipis.
"Oh iya, apakah yang kamu katakan ketika di rumah tadi benar? Atau sekedar ingin membuat ku terbang ke awan?" tanya Olive.
"Tentu saja, benar. Aku sangat menyukaimu sejak bertemu tadi pagi. Aura kecantikan mu sungguh terpancar."
__ADS_1
Olive tersipu malu dengan bualan yang dilontarkan oleh Anggara. Keduanya saling melempar senyum.