
"Selamat. Kamu berhasil melalui acara ini dengan baik, Tsamara." Ucap Fahmi, sambil mengulurkan tangannya pada Tsamara.
"Terima kasih, kak. Semua ini juga berkat dirimu, yang sudah memberikan aku kesempatan." Tsamara membalas jabat tangan Fahmi.
Keluarga pak Abas menghampiri Tsamara, setelah ia sejenak bercakap-cakap dengan Fahmi.
Tsamara akhirnya berpamitan dengan pria itu, dan berlalu pergi meninggalkan tempat syuting.
**
Hari berikutnya, Tsamara mendapatkan sebuah panggilan telepon. Ia mengernyitkan dahi, ketika melihat nomor tak dikenal yang menelpon dirinya. Dengan ragu, ia pun mengangkatnya.
"Hallo." Sapa Tsamara.
"Hallo, kak Tsamara. Perkenalkan saya Rizal dari perusahaan Berlian. Tujuan kami menghubungi kakak, karena ingin mengajak kerjasama. Untuk cek benefit dan kerjasama, bisa saya bertemu dengan kakak?"
"Iya, kak. Salam kenal. Sebentar ya, saya cek jadwal dulu. Nanti saya akan mengabari anda."
"Baik, kak. Saya akan menunggu kabar dari anda. Berharap mendapat kabar gembira."
Setelah panggilan berakhir, Tsamara menghubungi Thoriq dengan mengirim pesan padanya.
[Selamat pagi, kak. Hari ini aku baru saja mendapat info dari Berlian Company. Mereka ingin mengajakku kerja sama. Untuk mengecek apa saja pekerjaan dan benefitnya. Tapi, karena aku tidak tahu profil tentang perusahaan itu, bisakah kamu mengeceknya untukku?]
Tak perlu menunggu lama, pesan Tsamara sudah cek list dua biru, dan terlihat Thoriq sedang mengetik sesuatu.
[Pagi juga kesayangan. Tanpa kamu minta, aku akan melakukan hal itu untukmu. Tunggu ya.]
__ADS_1
[Terima kasih, kak. Aku bukanlah apa-apa, tanpamu. Aku pamit mengantar Soffin ke sekolah dulu ya.]
[Iya, hati-hati di jalan.]
Tsamara tersenyum membaca pesan dari Thoriq, lalu bersiap mengantar adiknya ke sekolah.
Gadis itu memang membiasakan diri untuk meminta pendapat pada calon suaminya. Sebagai bentuk penghormatan padanya.
**
Sementara itu, setelah selesai berbalas pesan dengan Tsamara, Thoriq segera mengecek profil tentang perusahaan yang dimaksud calon istrinya.
Dua jam berselang, pria itu sudah mengantongi sejumlah informasi tentang perusahaan itu. Walaupun sebenarnya ia juga sudah tahu sedikit banyak tentangnya.
Setelah mendapat informasi itu, ia segera memberi kabar pada Tsamara. Gadis itu tersenyum lega, membaca balasan pesan dari Thoriq. Ia pun segera mengirim balasan pada pihak perusahaan Berlian yang menghubunginya.
**
Hanya butuh waktu satu jam, keduanya sudah sampai di perusahaan itu. Sesampainya di sana, mereka menuju bagian resepsionis.
Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, mereka duduk di lobby. Saat itu, beberapa orang yang melihat Tsamara, segera mendekatinya.
Mereka menyapa dan mengajak Tsamara berfoto bersama. Gadis itu tidak menyangka, jika akan mendapat perlakuan seperti itu dari masyarakat, setelah melakukan beberapa kali syuting. Rata-rata dari mereka adalah pembaca setia novelnya.
Thoriq yang ada didekatnya justru tidak ikut berfoto dan malah menjadi tukang fotonya.
Tak lama kemudian, seorang pria yang berpenampilan rapi mendekat ke arah Tsamara. Dia mengenalkan dirinya sebagai Rizal.
__ADS_1
Pria itu membubarkan kerumunan, dengan mengajak Tsamara menuju ruangannya. Tentu saja, Tsamara mengajak Thoriq ikut serta. Agar calon suaminya itu tahu, apa saja yang ia kerjakan. Walaupun Rizal sendiri, kurang suka jika calon suami Tsamara ikut serta.
Di dalam ruangan, Rizal mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk dan menjamunya. Lalu segera menyampaikan tentang kerjasama yang ia maksud. Yakni dengan menjadi brand ambassador produk sabun mandi dan pasta gigi.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Rizal, Tsamara melirik ke arah Thoriq. Pria itu menyunggingkan senyum padanya. Sehingga membuat Tsamara juga menyunggingkan senyum, karena merasa lega calon suaminya selalu mendukung apa yang dia lakukan.
**
Hari berlalu dengan cepat. Tanpa terasa, jika hari pernikahan Olive dan Anggara sudah di depan mata.
Di kediaman Olive, sudah berdiri tenda untuk menampung para tamu undangan. Terlihat tempat itu di design dengan warna biru muda.
Di dalam sudut ruangan yang berbeda, Anggara dan Olive tengah di make up.
Olive tersenyum lega, karena sebentar lagi ia akan menikah. Walaupun hatinya kurang yakin dengan pernikahannya, yang penting ia hamil dengan didampingi suaminya. Daripada harus menyandang gelar hamil tanpa suami.
Namun hal yang berbeda, justru terlihat di wajah Anggara. Pasalnya, sejak Tsamara sering diundang wawancara di stasiun televisi, ia jadi kesusahan bertemu dengannya.
Berulang kali ia mengirim pesan, tapi tidak ada balasan. Membuat hatinya tidak tenang dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Tsamara tidak mau lagi membalas pesannya.
Ia hanya bisa mengobati kerinduannya dengan melihat foto Tsamara.
"Mas, itu foto calon istri kamu ya? Cantik sekali. Seperti penulis yang terkenal itu dan menjadi brand ambassador banyak produk." Tanya wanita yang sedang memake-up Anggara.
"Iya." Balas Anggara singkat.
"Wah, kamu beruntung sekali mas." Ucap MUA dengan wajah yang berbinar.
__ADS_1
Anggara tersenyum jumawa, padahal dia sedang berbohong. Entah apa yang ada dipikirannya, hingga berbuat seperti itu.
Apakah mungkin obsesinya untuk mendapatkan Tsamara kian meningkat?