Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
65. Rasa yang lain


__ADS_3

"A-aku juga lupa kak. Tentang produk ini mungkin." Tsamara mengulas senyum sambil menunjuk deretan produk perawatan wajah.


"Ah, iya benar itu." Thoriq mulai menjelaskan satu persatu tentang produk perawatan wajahnya. Sedangkan Tsamara mulai berkonsentrasi mendengarkannya.


"Jadi bagaimana, apakah kamu tertarik untuk menjadi brand ambassador nya?" Tanya Thoriq, setelah selesai menjelaskan.


Ia menatap lekat wajah gadis dihadapannya, yang memang sudah cantik sejak lahir.


Namun karena ia biasa berkutat dengan kesibukan layaknya ibu rumah tangga, dan tidak pernah keluar rumah, maka menyebabkan wajahnya dulu pernah tidak terawat.


"Baiklah, kak. Aku mau menerima tawaran mu ini."


"Terima kasih, Tsamara. Oh iya, kamu mau mengambil paket yang mana?"


"Aku bingung kak jika di suruh memilih. Karena aku memang jarang memakai kosmetik dan sejenisnya."


"Baiklah, kalau begitu. Team ku akan melakukan pengecekan pada wajahmu, sebelum kamu memilih paket perawatan yang kamu inginkan. Sebentar, aku akan menghubungi mereka."


Thoriq berjalan menuju meja kerjanya, dan terlihat sedang menelepon karyawannya. Setelah panggilan berakhir, Thoriq membukakan pintu ruangannya yang di ketuk dari luar.


Terlihat sekretarisnya datang membawa nampan berisi dua cangkir coklat dingin dan kripik rumput laut, yang cara menggorengnya dengan menggunakan deep friyer, jadi rendah minyak.


Ia meletakkan di meja depan Tsamara, dan mempersilahkan untuk menikmatinya. Gadis itu tersenyum ramah menerima tawaran sang sekretaris.


Setelah menikmati minuman dan sedikit cemilan, telepon di ruang kerja Thoriq berbunyi. Laki-laki itu berjalan dengan langkah lebar untuk mengangkatnya.


"Okay baiklah, kami akan segera kesana." Ucap Thoriq memutus sambungan telepon itu.

__ADS_1


"Tsa, ayo kita ke laboratorium. Untuk mengecek jenis kulit mu."


Tsamara bangkit berdiri, lalu berjalan beriringan dengan Thoriq. Menuju ruangan yang di maksud.


Sesampainya di laboratorium, Thoriq memperkenalkan Tsamara pada team kru nya. Walaupun sebenarnya team kru itu juga sedikit sedikit sudah mengenal Tsamara. Tapi, belum tentu Tsamara mengenal mereka.


Setelah berbasa-basi sejenak, Tsamara di persilahkan duduk. Satu orang berdiri dihadapan gadis itu sambil membenarkan letak alat untuk mengecek kondisi wajah. Sedangkan yang satunya mendekatkan apa saja yang temannya butuhkan.


Tsamara tampak terdiam, dengan bola mata yang bergerak memperhatikan apa yang dikerjakan kedua laki-laki yang ada dihadapannya.


Hampir setengah jam, akhirnya selesai juga pengecekan jenis kulit Tsamara. Dan team kru telah mendapatkan hasilnya. Mereka pun menjelaskan pada direktur dan Tsamara, bahwa jenis kulit nya normal cenderung sedikit berminyak.


Team laboratorium membolehkan memakai produk yang normal atau pun yang berminyak. Tapi hasilnya akan lebih bagus jika rutin menggunakan produk yang berminyak terlebih dahulu. Barulah setelah berjalannya waktu bisa di ganti dengan produk untuk jenis kulit normal.


Setelah mendapat penjelasan dari team laboratorium, Thoriq mengajak Tsamara kembali ke ruang kerjanya.


Saat melewati meja sekretaris, Thoriq memintanya untuk membuat surat kontrak perjanjian kerjasama.


Setelah itu, ia dan Tsamara kembali masuk ke dalam ruangannya. Thoriq mempersilahkan Tsamara untuk melanjutkan menikmati sajian yang telah disediakan. Sedangkan ia sendiri, memasukkan paket yang di pilih Tsamara tadi, ke dalam paper bag.


Sekretaris Thoriq benar-benar bekerja dengan sepenuh hati dan giat. Dalam waktu tak kurang dari lima menit, ia telah membawa surat kontrak perjanjian yang di minta direkturnya ke ruangannya.


Thoriq meneliti hasil kerja sekretarisnya, sebelum akhirnya menyerahkan Tsamara untuk ditandatangani.


"Terima kasih, kamu sudah mau membantuku dengan bekerja sama dengan ku." Thoriq mengulurkan tangannya, dan keduanya saling berjabat tangan sembari melempar senyum terindah mereka.


"Akan aku kabari lagi jadwal untuk pengambilan foto nya."

__ADS_1


"Terima kasih, kak. Sudah mempercayai ku untuk mengambil pekerjaan ini."


"Sama-sama. Aku yakin kamu bisa mengerjakan tugas mu dengan baik."


Cukup lama keduanya berbincang-bincang. Hingga hari sudah beranjak siang. Tsamara melihat jam yang ada di handphonenya, yang telah menunjukkan pukul dua belas siang.


"Kak, aku pamit dulu ya. Mau menjemput Soffin."


"Aku ingin makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang bersama sekalian menjemput Soffin?"


Sesaat Tsamara berpikir, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Keduanya berjalan beriringan menuju lobby.


"Kamu kesini membawa mobil?" Tsamara mengangguk.


"Tumben sekali." Thoriq terkekeh.


"Semua juga gara-gara Anggara. Kalau saja dia tidak berjanji mengantar Soffin ke sekolah, aku tidak akan menunggunya sampai akhirnya adikku justru terlambat. Karena ia tidak datang. Alasannya sih, ketiduran."


"Apa hubungan kalian kembali dekat?" Tsamara kembali menganggukkan kepalanya.


Ada yang berdenyut nyeri di hati Thoriq, ketika Tsamara mengangguk, menanggapi ucapannya.


"Aku hanya ingin bermain-main dengannya dulu. Untuk membalaskan rasa sakit di hati ini."


"Hati-hati, jangan bermain api. Jika tidak ingin terbakar." Ucap Thoriq mengingatkan.


Entah kenapa ia tidak rela jika Tsamara berdekatan dengan Anggara. Walaupun alasannya adalah untuk balas dendam.

__ADS_1


__ADS_2