Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
131. Unboxing


__ADS_3

Thoriq mengecup kening istrinya cukup lama, sambil merapalkan doa di malam pertama dengan lirih. Tsamara memejamkan matanya dan mengikuti apa yang diucapkan suaminya dalam hati.


Setelah itu perlahan Thoriq menurunkan kecupannya ke arah bibir, dan berhenti di sana sekian menit. Sebelah tangannya merapatkan badan Tsamara agar lebih menyatu dengan badannya. Sedangkan tangan yang satunya, mulai bergerilya.


Jangan di tanya bagaimana perasaan keduanya saat itu. Nervous, deg-degan campur aduk menjadi satu, karena itu adalah pertama kalinya mereka melakukan hubungan suami-istri.


"Apakah sakit?"


Thoriq menghentikan aktivitas bibir, ketika Tsamara mulai terengah-engah. Dengan pelan, gadis itu menggelengkan kepalanya.


Tentu saja ia tidak akan mengatakan yang sebenarnya, karena ia benar-benar ingin memuaskan suaminya. Sekalipun ia harus menahan rasa sakit.


Thoriq kembali membelai wajah cantik Tsamara, lalu mulai melakukan aksinya yang lain.


Walaupun keduanya belum pernah sekalipun melihat film dua satu plus, tapi berdasarkan insting dan naluriahnya, keduanya bisa saling melayani dan memuaskan.


Hingga akhirnya tibalah pria itu menancapkan pusaka kebanggaannya, ke palung Mariana milik Tsamara. Hal itu membuatnya memejamkan matanya kuat, karena menahan rasa sakit.


"Apakah sakit?" Tanya Thoriq lagi, melihat wajah Tsamara yang memerah. Namun wanita itu sekali menggelengkan kepalanya. Ia akan tetap menahan rasa sakit itu demi suaminya.


"Kamu berbohong ya?" Tsamara membuka mata perlahan, karena mendengar suaminya bertanya seperti itu. Lalu kembali menggelengkan kepalanya.


"Dosa lho, kalau berbohong."


"Em, menurut buku yang aku baca, malam pertama memang akan terasa menyakitkan. Tapi aku akan tetap berusaha melayani suamiku dengan sebaik mungkin."


Thoriq membelai wajah Tsamara dengan lembut, tidak menyangka jika istrinya sebaik itu. Rela menutupi rasa sakitnya demi menyenangkan hatinya.


"Kalau begitu, kita sudahi dulu saja permainan ini. Aku kasian melihat mu seperti itu." Thoriq hendak menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh Tsamara, tapi gadis itu segera menahannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lakukan saja. Kalau di tunda-tunda melulu, mungkin aku akan mengalami rasa sakit yang lebih lama dari ini."


"Kamu yakin?"


Tsamara mengukir senyum dan menganggukkan kepalanya. Thoriq pun membalas senyumannya sambil mengecup kening istrinya. Lalu mulai memacu gerakannya.


Berulangkali pria itu menerobos palung Mariana, tapi ia begitu kesulitan. Bahkan nafasnya sudah terengah-engah dan peluh menetes membanjiri tubuhnya. Selama itu juga Tsamara memejamkan matanya karena menahan sakit.


Hingga akhirnya setelah sekian jam berjuang, Thoriq berhasil menerobos palung terdalam di dunia itu. Yang membuat Tsamara seketika membelalakkan matanya lebar, karena ngilu merasakan robekan di bagian bawah sana.


Sedangkan Thoriq, untuk sesaat pria itu berdiam diri sambil mengatur nafas dan mengumpulkan kekuatannya.


"Maafkan aku, jika malam ini perbuatan ku begitu menyakitimu. Semoga benih yang aku semai di rahimmu, akan tumbuh jadi anak yang sholih dan sholihah." Bisik Thoriq, lalu mulai memacu gerakannya. Sedangkan Tsamara hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menahan rasa pedih.


Puncak kenikmatan akhirnya keduanya dapatkan. Seulas senyum menghiasi wajah mereka, karena sama-sama melepas keperawanan dan keperjakaan pada orang yang sangat di cintai.


Setelah selesai, Thoriq menjatuhkan dirinya tepat di samping Tsamara. Ia menutup matanya perlahan, membayangkan surga dunia yang baru saja dilaluinya bersama istri tercinta.


Untuk sesaat Tsamara tidak berani bergerak, karena merasa robekan di bagian intinya terlalu lebar. Ia pun akhirnya ikut memejamkan matanya.


Namun belum sempat Tsamara tidur pulas, Thoriq sudah mengguncang bahunya pelan.


"Ada apa, kak? Mau lagi?" Tanya Tsamara, sambil membuka matanya dengan susah payah. Thoriq menyunggingkan senyum tipis sambil menggeleng.


"Sudah cukup untuk malam ini. Sekarang kita bersihkan dulu bagian itu, sebelum tidur."


Tsamara menganggukkan kepalanya, lalu pelan-pelan bangkit dari tidurnya.


"Tunggu! Biar aku bantuin." Ucap Thoriq, sambil memakai piyamanya.

__ADS_1


Ia menahan Tsamara untuk tidak turun ranjang lebih dulu, karena melihatnya mendesis kesakitan. Setelah itu ia memungut baju istrinya yang ia buang ke sembarang arah, lalu memakaikannya.


"Eh, kak. Tapi aku belum pakai celana panjang ku." Tsamara seketika menahan selimut yang di singkap suaminya.


"Di pakai nanti saja, aku bantuin kamu membersihkan diri."


"Eh, tidak usah kak. Jorok, malu tahu."


"Apanya yang jorok? Bukannya tadi habis aku obok-obok? Masa habis aku pakai, terus aku biarkan begitu saja tanpa membersihkannya?"


Setelah itu Thoriq mengangkatnya dan membawanya menuju kamar mandi. Ia benar-benar membersihkan tubuh istrinya dengan seksama, menyekanya dengan air hangat pelan-pelan agar tidak menimbulkan rasa sakit yang berlebih. Tsamara benar-benar bahagia, memiliki suami sepertinya.


Setelah badan keduanya kembali bersih, Thoriq mengambil baju ganti untuk istrinya dan tak lupa memakaikannya. Ia sengaja mengenakan daster selutut agar tidak melukai organ intim wanita.


Selanjutnya Thoriq membopong lalu mendudukkan di kursi depan meja rias. Karena ia akan merapikan tempat tidur yang berantakan akibat ulahnya.


Ia tertegun, ketika melihat bercak darah yang cukup banyak menempel di sprei. Tanpa pikir panjang, ia menarik selimut itu dan menggantinya dengan yang bersih.


Semua itu tentu tak luput dari pantauan Tsamara. Entah sudah yang ke berapa kalinya di malam itu, ia tersenyum karena mendapat perhatian yang lebih dari suaminya.


"Nah, sekarang sudah rapi kembali. Ayo kita istirahat." Ajak Thoriq sambil berjalan menghampiri istrinya.


"Terima kasih, kak. Kamu memang benar-benar pria yang baik dan penuh pengertian."


"Jangan terus-terusan memujiku. Takutnya nanti jadi sombong."


Setelah itu, Thoriq kembali mengangkat Tsamara dan meletakkan pelan di atas ranjang tempat tidur king size nya.


Kemudian ia merebahkan diri di dekat Tsamara dan melingkarkan tangan di perut istrinya.

__ADS_1


"Malam ini, adalah malam yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Karena berhasil mengambil mahkota dari wanita yang lemah lembut seperti dirimu." Thoriq mencubit gemas hidung Tsamara, lalu mendaratkan kecupan di pipinya.


Tsamara tidak mampu lagi membalas ungkapan cinta dari suaminya, selain hanya tersenyum. Hening sekian waktu berlalu, sampai akhirnya keduanya terlelap tidur.


__ADS_2