
"Mas, sekarang giliran kamu mandi." Ucap Tsamara, yang tiba-tiba sudah muncul dihadapan Anggara.
'Ampun Tuhan. Aku mau tobat. Kenapa Tsamara selalu saja membuat celana ku menjadi sesak? Dengan penampilannya yang sungguh menawan.' batin Anggara.
Tentu saja, tobatnya itu hanya tobat-tobatan. Bukan taubat yang sesungguhnya.
Tsamara memang sudah mandi. Saat ini ia mengenakan kaos berwarna marun dengan tulisan Kiss me, yang terletak di dadanya.
Ia juga mengenakan sebuah celana pendek berwarna grey. Kaki jenjangnya yang putih bersih terlihat sedap dipandang. Rambut hitam panjangnya yang masih basah, dibiarkan tergerai dengan indah.
Aroma wanginya menguar, sampai menusuk indera penciuman. Benar-benar membuat para laki-laki mati kutu.
"Mas?" Ulang Tsamara, dengan suara yang sedikit lebih keras. Sehingga membuyarkan lamunan Anggara.
"Eh, i-iya. Aku mandi dulu sebentar ya. Walaupun tidak ganti baju, setidaknya badan terasa segar." Anggara pun berjalan menuju kamar mandi.
Tsamara menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan anggun. Lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Lagi-lagi ia menyunggingkan senyum kemenangan.
Handphone Anggara terdengar bergetar. Penasaran, Tsamara pun melongokkan kepalanya untuk melihat. Tertera nama Olive yang memanggil.
Muncul sebuah ide di otak Tsamara. Ia menggeser tombol hijaunya. Bukannya menjawab, tapi Tsamara justru mengeluarkan suara deesaahaan-deesaahaan.
Cukup lama ia terus mengeluarkan suara seperti itu. Hingga akhirnya sambungan terputus. Tsamara segera menghapus panggilan masuk itu, lalu mengembalikan handphone Anggara ke tempatnya semula.
__ADS_1
Gadis itu tertawa cekikikan dan tentunya sangat puas. Karena berhasil mengerjai gadis yang dulu pernah menghina dirinya dan juga adiknya.
**
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Anggara mengguyur tubuhnya dengan air hingga berulang kali. Untuk mendinginkan otaknya yang sudah mengepulkan asap panas sejak tadi.
"Aku bisa gila selalu berdekatan dengannya. Aku harus segera menyatakan perasaan ku. Tsamara harus menjadi milikku. Tidak peduli kaya atau miskin. Yang penting hatiku puas." Teguh Anggara dalam hati.
Setelah puas mengguyur tubuhnya, Anggara segera keluar dari kamar mandi. Lalu berjalan menuju ruang tamu.
"Tsamara, kamu kenapa tertawa sendirian seperti itu?" Anggara mengernyitkan keningnya.
Tsamara terkejut ketika mendengar suara laki-laki itu. Buru-buru ia mengambil handphonenya, yang diletakkan di atas meja.
"Oh, novel ini toh. Ia ceritanya memang sangat lucu. Aku juga terkekeh setiap membacanya."
"Apa! Bukan kah kamu dulu tidak suka membaca, mas? Lalu sejak kapan kamu jadi hobby membaca novel?"
Tsamara mencondongkan wajahnya sedikit maju. Memindai wajah Anggara yang sangat memuakkan baginya.
"Awalnya dulu memang tidak suka. Tapi saat aku menemani Olive di salon, aku tak sengaja membaca novel itu di pengiklan. Ceritanya semakin menarik, akhirnya aku download aplikasinya. Agar bisa membaca sepuasnya. Bahkan aku ini pengikut setianya lho. Kalau dia publish novel baru, aku jadi yang pertama membaca. Pokoknya dia itu penulis terhebat sepanjang sejarah." Kekeh Anggara menceritakan kekonyolannya dalam membaca, dan berani dengan terang-terangan memuji penulisnya.
Tsamara tersenyum. Tidak menyangka, jika mantan calon suaminya yang dulu sangat membenci dirinya karena gendut, malah menjadi pengikut setianya.
__ADS_1
"Wah, sepertinya kita sama mas. Mengagumi seorang penulis sampai seperti itu. Tapi kamu tidak penasaran ya mas, dengan penulisnya? Kira-kira orangnya cantik atau jelek. Gendut atau kurus. Laki-laki atau perempuan."
"Tentu saja aku penasaran. Pasti dia lulusan terbaik di kotanya. Atau bahkan kuliah di luar negeri. Karena bahasanya bagus. Aku sampai hanyut dalam setiap untaian katanya."
"Oh, aku pikir penulisnya itu orang gabut mas. Ngga punya pekerjaan. Terus iseng menulis gitu." Ucap Tsamara pura-pura bodoh.
"Eh, mana bisa orang yang tidak menempuh pendidikan menulis sebagus itu. Kamu mimpi ya, mau menjadi penulis novel itu."
Anggara menunjuk hidung Tsamara, dan gadis itu buru-buru menepis tangannya.
"Iya sih, mas. Aku tuh memang bodoh. Apalagi juga tidak kuliah. Mana bisa menjadi penulis yang keren seperti itu." Ucap Tsamara pura-pura sedih.
'Biarin deh, pura-pura bodoh seperti ini di depan Anggara. Toh tidak mengurangi penghasilan ku dari menulis." bisik Tsamara dalam hatinya.
Terkadang, kita tidak perlu menunjukkan pada dunia bahwa, kita hebat. Biarkan apa yang kita kerjakan, hanya kita dan Tuhan saja yang tahu. Dengan demikian, hati menjadi tenang.
"Eh, mas. Ayo kita berangkat menjemput Soffin. Takut terlambat nih." Ucap Tsamara mengingatkan Anggara.
"Ayo." Balas Anggara dengan penuh semangat.
Keduanya berjalan keluar rumah, dan tak lupa Tsamara mengunci rumahnya.
"Mas, kamu pergi seharian bersama ku apa tidak khawatir ada yang mencari mu? Papa atau pacar mu misalnya."
__ADS_1
"Jangan khawatir. Semua aman." Anggara mengulas senyum, sambil menautkan ibu jari dan jari telunjuknya. Sebagai simbol Ok.