Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
87. Pertemuan di supermarket


__ADS_3

Hari libur nasional, keluarga Tsamara ingin pergi ke supermarket. Untuk membeli beberapa barang yang dibutuhkan malam nanti. Karena Thoriq akan datang untuk melamarnya. Kini mereka tengah bersiap-siap.


Tsamara memakai t-shirt berwarna putih dan hot pants berwarna hitam. Kaki jenjangnya dibungkus sepatu kets berwarna putih.


Sedangkan rambut hitamnya, diikat kebelakang seperti kuncir kuda. Bibir tipisnya dioles dengan lipmate warna nude. Dia berpenampilan natural, tapi terlihat sangat cantik dan segar.


Setelah memastikan penampilannya rapi, ia keluar dari kamarnya. Ternyata semua anggota keluarganya sudah siap, dan kompak memakai t-shirt berwarna putih, celana warna hitam semua.


"Kita tidak janjian, kenapa bisa kembaran?" Celetuk papa sambil terkekeh.


Keempat orang itu tampak bersemangat berangkat menuju pusat perbelanjaan itu.


**


"Ya ampun, mama. Mengagetkan saja sih?" Ucap Anggara sambil mengusap dadanya.


Ketika ia keluar kamar, dan melihat mamanya sudah berdiri diambang pintu kamarnya.


"Anggara, kamu sudah rapi sekali. Mau kemana? Tolong benarkan talang air yang bocor dong." Pinta mama, tanpa mengindahkan pertanyaan anaknya.


"Haduh. Papa kemana sih, ma? Anggara mau keluar dengan Olive nih, ma."


"Kenapa kamu sering sekali keluar dengan gadis itu sih?"


"Ya wajar saja dong, ma. Kita kan mau menikah, harus sering bertemu."


"Halah nanti kalau sudah menikah, setiap hari juga bakalan sering bertemu. Lebih baik, kamu sekarang ikut mama. Benarkan talang airnya yang bocor dulu. Baru nanti boleh pergi." Mama menarik pergelangan tangan anaknya.


"Eh, mama. Apa-apaan sih?" Anggara berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman mamanya.

__ADS_1


Dengan menggerutu kesal dan setengah hati, pria itu mencoba memperbaiki talang airnya yang rusak.


Hampir satu jam, ia memperbaiki talang air itu. Kini pekerjaannya itu telah selesai. Dan bersiap menuju ke rumah Olive.


**


Sementara di tempat lain, Olive juga tengah bersiap-siap.


Kali ini ia tidak membutuhkan waktu lama saat bersiap-siap, karena akhir-akhir ini ia memang jarang dandan. Termasuk hari ini, ia juga tidak memoles wajahnya.


Kini ia tengah duduk di dekat jendela kamarnya. Tidak biasanya calon suaminya itu lama sekali datangnya.


Karena bosan menunggu, akhirnya ia kembali membaca novel. Setiap kali membaca novel itu, ia selalu terkekeh sendiri. Menyadari betapa bodohnya tokoh laki-laki yang ada dalam novel itu.


Di tengah asyiknya ia membaca novel, tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Dengan malas ia bangkit dari rebahan nya.


"Oh, iya bi. Olive akan kesana."


Gadis itu berjalan ke arah meja, untuk mengambil tas dan handphonenya. Lalu keluar untuk menemui Anggara.


"Kenapa cepat sekali datangnya? Kamu kangen dengan aku ya?" Ucap Olive dengan penuh rasa percaya diri, sambil mendekat ke arah Anggara duduk.


"Hah?" Anggara cengo.


Perasaan ia sudah satu jam memperbaiki talang bocor. Ditambah dua puluh menit perjalanan. Harusnya Olive akan mengoceh panjang. Tapi hal itu justru tidak terjadi.


"Apa semenjak kamu hamil? Otakmu pindah ke perut? Aku sudah telat hampir satu setengah jam, kenapa kamu tidak marah? Dan justru bertanya seperti itu?"


"Oh, ya? Bukan otakku pindah ke perut, tapi aku berhasil menjadi wanita yang sabar dalam menghadapi godaan syaitan yang luar biasa." Balas Olive santai.

__ADS_1


"Apa! Jadi kamu mengatai ku syaitan?" Anggara mulai meradang.


"Tenang. Kalau kamu bukan syaitan, ya tidak usah marah. Betul tidak? Ya sudah, yuk buruan berangkat."


Olive mendaratkan kecupan di pipi Anggara, lalu melingkarkan tangannya di lengan pria itu. Sehingga percikan api amarah tadi seketika padam. Ia membalas kecupan Olive, lalu bangkit berdiri.


"Hem, anakku juga keganjenan sih. Makanya hamil duluan." Gumam mamanya Olive, yang kebetulan melihat adegan kissing singkat itu.


**


"Olive, aku perhatikan kenapa akhir-akhir ini kamu jarang make up? Terlihat pucat tahu ngga." Protes Anggara, saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju supermarket di kota itu.


"Aku hanya malas saja, mas."


"Kamu itu anaknya direktur utama lho. Sebentar lagi juga akan menikah denganku. Masa malas make up?


Tidak boleh begitu. Kamu harus senantiasa menjaga penampilanmu. Agar semua orang memuji penampilanmu. Dan aku juga yang kecipratan pujiannya.


Apa kata orang nanti, jika seorang Anggara yang tampan dan begitu gagah, memiliki istri buruk rupa?"


"Tenang, nanti kamu belikan aku make up saja. Biar aku semakin bertambah cantik."


"Okay. Demi popularitas, akan aku lakukan."


'Gampang sekali sih mengambil hati calon suamiku.' batin Olive tersenyum puas.


Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di supermarket itu.


Tak berbeda dengan mereka, Thoriq dan mamanya juga tengah jalan berdua ke supermarket. Untuk membeli apa saja yang diperlukan menjelang acara lamaran nanti malam.

__ADS_1


__ADS_2