
Acara resepsi pernikahan di lanjutkan kembali. Yakni membasuh kaki suami dengan air kembang.
Tsamara bersimpuh di hadapan Thoriq yang tengah berdiri. Lalu dengan pelan gadis itu membasuh kaki suaminya tanpa rasa jijik. Dan terakhir membersihkan sisanya dengan tisu.
Acara membasuh kaki itu telah selesai. Thoriq membantu Tsamara berdiri dengan menarik tangannya pelan. Lalu keduanya duduk di kursi pelaminan.
Tak berselang lama, acara dilanjutkan dengan hiburan lagu-lagu nostalgia.
Saat itu di pakai oleh petugas catering untuk menyajikan hidangan pembuka bagi para tamu undangan. Yang terdiri dari minuman, cake dan buah-buahan.
Para tamu undangan yang ingin menyumbang lagu, juga dipersilahkan untuk maju ke depan.
Sebagian besar tamu yang gemar bernyanyi, tanpa pikir panjang langsung maju ke depan untuk memperlihatkan kemampuannya masing-masing.
Mereka bernyanyi dengan ciri khasnya masing-masing, sehingga menambah kesan semarak di saat itu.
Sambil mendengarkan iringan musik dan nyanyian, kedua pengantin itu berfoto dengan berbagai gaya.
Tentu saja gaya yang mereka lakukan berbeda dengan gaya saat keduanya melakukan foto prewedding. Karena saat prewedding, keduanya meminimkan sentuhan.
Meskipun begitu, hasil fotonya tetap bagus dan memiliki nilai estetika yang tinggi.
Sedangkan kali ini karena sudah sah, keduanya berfoto dengan banyak adegan sentuhan. Walaupun awalnya keduanya juga tampak malu-malu.
Mempelai pengantin tidak hanya berfoto berdua saja. Melainkan juga berfoto dengan anggota keluarganya dan rekan-rekannya.
Semua tampak bahagia menghadiri pesta pernikahan itu. Setelah semua tamu undangan menghabiskan hidangan pembuka, selanjutnya pelayan catering menyajikan menu main course.
Olive dan Anggara, adalah satu-satunya pasangan yang menunjukkan raut wajah masam sejak awal acara sampai pertengahan acara.
__ADS_1
Olive mengaduk-aduk makanan yang baru saja diterima, tanpa berniat untuk memakannya. Anggara pun juga melakukan hal yang sama.
Namun ketika melihat bestek daging sapinya jatuh dan tepat mengenai celananya, barulah ia sadar, jika ia telah membuang makanan enak itu.
Diam-diam Anggara pun mengambil bestek daging sapi di piring Olive. Setelah itu ia segera memakannya, sebelum menjadi korban kemarahannya lagi.
"Liv, kamu mau makan atau cuma mau mainan makanan?" Tanya Anggara, yang membuat perhatian Olive teralihkan.
"Dua-duanya. Sebelum makan memang makanannya harus di aduk dulu kan?"
Setelah Olive menatap Anggara, barulah ia menatap piringnya. Diam-diam ia mengamati antara piringnya, piring Anggara dan piring orang yang ada di dekatnya. Lalu mengernyitkan dahi.
"Lhoh, kenapa punyaku tidak ada bestek daging sapinya sendiri?" Gumamnya pelan, namun masih bisa di dengar oleh Anggara.
Pria itu tampak menyunggingkan senyum tipis, dan tentu saja tidak bakal mengaku jika dirinya lah yang mencurinya.
Dengan kesal Olive memakan nasinya. Tak perlu menghabiskan waktu lama, piringnya sudah bersih tak bersisa.
'Kalian sudah membuatku marah. Rasakan ini.' batin Olive geram.
Dan sungguh di luar dugaan. Setelah menghabiskan makanannya, Olive dengan sengaja menjatuhkan piringnya ke bawah. Sehingga piring itu pecah.
"Olive, kamu apa-apaan sih? Bikin aku jantungan saja. Kalau kamu di suruh ganti rugi memangnya mau?"
"Aku tidak sengaja, mas. Lagian itu urusan kecil kok. Mereka tidak akan tahu kalau aku yang menjatuhkan piringnya. Biar keluarga itu yang ganti rugi."
"Gila juga kamu ya."
"Mau bagaimana lagi, suamiku juga orang gila."
__ADS_1
"Kamu!" Anggara menunjuk wajah Olive dengan geram.
"Sudahlah, lupakan saja. Sekarang aku mau nambah makan lagi." Bisik Olive, tepat di telinga Anggara.
"Hah? Malu-maluin banget sih kamu. Masa mau nambah?"
"Memangnya kamu mau anak kita ileran? Lagian kalau tidak ada aku, kamu juga tidak bakal sampai sini."
Dengan bersungut-sungut kesal, Anggara melihat ke arah petugas catering. Lalu melambaikan tangan ke arahnya.
"Mas, dua lagi ya."
Petugas catering itu pun menganggukkan kepalanya, lalu memberikan dua porsi makanan pada Anggara.
"Nih, biar anak kita tidak ileran." Anggara menyerahkan seporsi menu main course pada Olive.
Ibu hamil itu menerimanya dengan wajah yang berbinar, lalu segera melahapnya. Anggara yang melihatnya geleng-geleng kepala.
"Ya ampun. Punya istri satu saja, makannya seperti Buto ijo. Awas saja kalau badannya sampai melar."
"Apa kamu bilang?" Olive memelototi Anggara.
"Halah, tidak usah kebanyakan apa-apa. Habiskan saja makanan mu." Ucap Anggara, lalu ia pun menghabiskan makanannya sendiri.
Kedua suami-istri itu sama saja. Sama-sama rakus soal makanan.
Tak berbeda jauh dengan kelakuan anaknya, pak Anwar dan istrinya juga minta tambah jatah makanan. Karena cita rasa masakannya yang sungguh sangat lezat.
Pak Abas dan Tsamara memang memesan yang terbaik dalam segala sesuatunya.
__ADS_1
Soal berapa besar budget yang dikeluarkan, pak Abas dan Tsamara tidak mempermasalahkannya.
Karena mereka juga ingin semua orang merasakan kebahagiaan yang tengah mereka rasakan. Berharap dengan berbagi kebahagiaan, kebahagiaan lainnya juga akan terus berdatangan menghampiri mereka.