
Karena Anggara dan Olive tidur sudah larut malam, akhirnya keduanya bangun pun juga kesiangan. Sekitar pukul sepuluh pagi, barulah keduanya menggeliat bangun.
Hal yang pertama keduanya lakukan, adalah memegang perut yang terasa melilit karena kelaparan.
"Liv, kamu masak sana dong." Titah Anggara.
"Kenapa harus aku? Kamu saja yang masak." Sengit Olive.
Keduanya belum bisa menghapus seluruh kebiasaannya selama ini, yang sering semena-mena dengan pasangannya. Untuk sesaat keduanya lupa, jika mereka terdampar di tempat itu, karena niat ingin berubah.
"Hei. Bukankah kita semalam pergi dari rumah, dengan niat untuk berubah?" Olive mengingatkan setelah memindai keadaan sekitar yang tampak jauh berbeda dengan kamarnya.
Anggara pun melakukan hal yang sama, ia memindai keadaan sekitar dan barulah menyadari tentang ucapannya semalam.
Ternyata buat untuk berubah, tidak selamanya mudah. Anggara yang biasanya bangun tidur tinggal makan, kini harus berusaha terlebih dahulu.
Pria itu bangkit berdiri, dan mencari keberadaan roti yang semalam ia beli. Setelah menemukannya, ia membawa ke kamar.
"Makan ini dulu untuk sarapan. Habis itu baru kita membersihkan tempat ini dan menyiapkan segala sesuatunya agar lebih nyaman."
Olive menurut saja dengan perkataan suaminya. Karena pantang baginya untuk pulang, setelah semalam memutuskan untuk pergi.
Setelah keduanya menghabiskan makanannya, lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar.
Mereka membersihkan rumah dengan menyapu dan mengepel. Memasukkan baju-baju ke dalam almari.
Itu saja sudah membuat keduanya kecapekan. Sehingga mereka memutuskan untuk istirahat sejenak.
Hari sudah siang. Setelah beristirahat sejenak dan membersihkan badan, keduanya pergi ke supermarket terdekat untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dan untuk mencari makan.
Kali ini Olive memakai paket perawatan, produk dari Thoriq, yang diberikan oleh Anggara sebagai salah satu barang-barang seserahan.
Setelah memastikan penampilannya rapi, keduanya keluar rumah. Anggara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil memperhatikan kanan dan kiri bahu jalan. Olive pun melakukan hal yang sama.
Sesampainya di supermarket, keduanya menuju market store. Untuk membeli barang-barang kebutuhan sehari seperti sembako.
"Liv, beli ini ya." Anggara memperlihatkan sekotak susu ibu hamil.
__ADS_1
Selama ini keduanya memang tidak begitu memperhatikan kondisi kandungannya. Olive tertegun melihat perhatian yang Anggara tunjukkan, lalu menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih." Ucap Olive sambil tersenyum tipis.
Setelah memasukkan barang-barang yang dibutuhkan, Anggara mengajak keluar.
"Kenapa kita tidak makan di food court saja?"
"Olive, uangku menipis tahu." Bisik Anggara, agar tidak ada orang yang mendengarnya.
Dengan bersungut-sungut kesal, Olive mengikuti langkah Anggara yang keluar dari supermarket itu. Lalu keduanya memasuki mobil dan bergerak menuju rumah makan Padang yang tak jauh dari pusat perbelanjaan tadi.
"Liv, kira-kira kita mau usaha apa ya, untuk bertahan hidup?" Ucap Anggara disela-sela aktivitas makannya.
Olive pun melambatkan kunyahannya sambil sejenak berpikir, dan tak lama kemudian ia mengedikkan bahunya.
"Aku juga tidak tahu. Kamu saja yang memikirkannya. Bukankah kamu sebagai kepala rumah tangga? Jadi harus bertanggungjawab penuh dong."
"Iya, tapi otakku baru buntu. Tidak bisa untuk berpikir. Kalau kamu punya ide, tidak masalah kan, kalau disampaikan ke aku. Siapa tahu aku cocok."
"Aku juga sama, masih stuck ide."
**
Dan di tempat seberang yang jauhnya melebihi ribuan kilometer. Thoriq dan Tsamara turun dari pesawat. Keduanya masih mengenakan piyama.
Hal itu menjadi pusat perhatian bagi orang-orang disekitarnya. Tapi keduanya terkesan cuek.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan keduanya. Lalu mereka pun masuk ke dalamnya.
Kendaraan roda empat itu, akan mengantarkan keduanya ke penginapan yang ada di kota Maldives.
Maldives merupakan nama dari suatu pulau yang letaknya masih di kawasan Asia sehingga terjangkau dari Indonesia.
Pulau Maldives dan sekitarnya memang sering dijadikan tempat favorit bagi pasangan yang ingin berbulan madu setelah menikah.
Selain itu, di kota itu masih memegang teguh keyakinan seperti yang di anut oleh Thoriq. Sehingga keduanya akan tetap aman saat makan. Karena makanannya di jamin halal.
__ADS_1
Meskipun Tsamara tidak pernah mengatakan, jika dirinya ingin pergi ke luar negeri atau mengunjungi tempat lain dalam rangka bulan madu, tapi Thoriq sebagai seorang pria yang ingin berkorban dan menunjukkan rasa cintanya pada pasangan, nekat melakukan hal itu.
Pria itu ingin menciptakan pengalaman berbulan madu dan menikmati waktu berdua, dengan orang yang sangat dicintainya. Tanpa ada seorang pun yang menganggu.
Kepulauan Maldives ini sendiri, sebenarnya terdiri dari banyak pulau kecil yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Maka dari itu pemandangannya sangat indah.
Setelah hampir dua jam perjalanan, keduanya akhirnya tiba di penginapan yang di maksud. Mereka berjalan beriringan sambil menyeret kopernya dan masuk ke dalam hotel.
Thoriq telah mengurus seluruh biaya administrasinya. Sehingga saat keduanya tiba, sudah disambut ramah oleh resepsionis.
Bahkan mereka dipersilahkan minum jus nanas, sebagai minuman pembuka. Setelah itu, keduanya di antar oleh resepsionis menuju ke penginapannya.
Tsamara merasa tidak nyaman, karena sang resepsionis memakai pakaian yang lebih tertutup dan berwarna gelap. Sehingga berulang kali ia menarik ujung lingerie. Namun percuma saja, bajunya tidak akan bertambah panjang.
Sesampainya di dekat penginapan, Tsamara kembali di buat terkejut. Deretan rumah yang terbuat dari kayu, dan berjejer rapi di tepi pantai, deretan pohon kelapa, hijaunya pepohonan, birunya air pantai yang berbalut dengan warna cream dari pasir, sungguh memanjakan mata.
Dan, deretan rumah-rumah itulah yang akan menjadi tempat keduanya menginap untuk beberapa hari ke depan.
Setelah kepergian resepsionis, Tsamara merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambutnya yang panjang, dan membuat bajunya juga ikut bergerak-gerak. Ia merasakan sensasi udara pantai yang begitu menyegarkan.
Thoriq melihat Tsamara, lalu tampak menyunggingkan senyum. Ia memeluknya dari belakang dan mengecup tengkuk lehernya, sehingga membuatnya membuka matanya.
"Apa kamu menyukainya?"
Tsamara menoleh dan menatap lekat wajah suaminya.
"Tentu saja, kak. Aku sangat menyukainya. Terima kasih telah memberiku kejutan seindah ini."
"Sama-sama, sayang."
Thoriq mendekatkan wajahnya, ingin mengecup bibir Tsamara. Namun wanita itu segera menghalanginya dengan telapak tangan.
"Malu di lihat orang."
"Maaf. Kalau begitu, ayo kita ke penginapan. Agar tidak malu di lihat orang." Ajak Thoriq sambil berbisik.
__ADS_1
Tsamara tahu apa yang diinginkan suaminya. Sehingga ia menyunggingkan senyum tipis.