
Sore harinya, para asisten rumah tangga itu benar-benar berkunjung ke rumah kontrakan majikannya. Mereka ingin membuktikan sendiri, kenyataan nya.
Apakah majikan mereka sudah berhasil kurus atau belum. Jika hal itu benar, mereka akan sangat senang sekali.
Mereka pun berangkat bersama dengan mengendarai mobil milik majikannya. Tentunya mereka sudah ijin terlebih dahulu pada majikan besarnya, yakni pak Abas. Untuk membawa mobil mereka keluar sebentar.
Setelah semuanya siap, mobil pun meluncur di kediaman pak Abas yang baru. Ketika sudah sampai di rumah kontrakan, mereka terpaku dan terkejut, karena melihat rumah yang ditempati majikannya berbanding terbalik dengan kediamannya sendiri.
"Kok, pak Abas dan anak-anaknya bisa betah sih tinggal di tempat seperti ini?" Cetus salah satu asisten rumah tangga.
"Iya. Bahkan rumah yang mereka tinggali sekarang, tidak ada apa-apanya dengan rumah yang sebenarnya ya."
"Mereka memang majikan Ter the best, pokoknya. Mana ada coba, punya hunian mewah, malah lebih memilih hidup di rumah kontrakan. Kalau kita mah, sebaliknya. Pilih yang hunian mewahnya dong." Kekeh salah satu asisten rumah tangga di ujung kalimatnya.
"Itu tandanya kamu orang yang serakah. Untung yang punya rumah mewah bukan kamu." Cetus yang lain. Sehingga membuat mereka terkekeh cukup lebar.
"Ah, sudah-sudah. Ayo kita segera turun. Gitu saja pakai acara berantem." Ucap pak sopir menengahi perdebatan para asisten rumah tangga. Karena, jika diteruskan, sampai besok pagi mungkin belum selesai.
Mereka pun segera turun dari mobil. Dan berjalan menuju teras rumah.
Salah satu dari mereka mengetuk pintu, karena di rumah itu memang tidak ada bel. Dan tak lama kemudian, pintu itu terlihat dibuka.
"Bibi, Pak Ujang, pak Juki. Ada apa kalian kesini?"
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan, para asisten rumah tangga dan security yang berjumlah lima orang lima orang itu, justru menatap penampilan majikannya dari atas sampai bawah. Lalu kembali ke atas.
Mereka benar-benar takjub dengan penampilan gadis belia yang ada dihadapannya saat ini. Sangat cantik dan memesona. Jauh berbeda dengan yang dulu.
"Non, Tsa-tsamara?" Ucap salah satu bibi. Karena takut jika yang ada dihadapannya bukan lah majikannya.
"Iya, bi. Ini Tsamara. Memangnya bibi lupa ya dengan wajah aku. Oh iya, dari tadi kenapa pertanyaan Tsamara belum di jawab? Ada apa kalian datang kemari?"
"Siapa, Tsa." Teriak pak Abas dari dalam.
Mereka menoleh ke arah pak Abas yang berdiri di dekat ruang keluarga.
"Oh, ternyata kalian ya. Ada apa kalian datang kemari? Yuk masuk." Ajak pak Abas ramah.
"Iya, bi. Ayo masuk ke dalam. Jika kalian ada masalah, kita bisa bicarakan baik-baik." Ucap Tsamara. Ia pun mundur selangkah, agar para asisten rumah tangganya bisa masuk ke dalam rumah.
"Permisi non." Ucap pak Juki sang sopir. Tsamara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Saat masuk ke dalam rumah, para asisten rumah tangga itu juga dibuat melongo. Karena penampilan rumah kontrakan itu sangat sederhana. Tidak ada barang-barang berharga seperti Gucci, hiasan foto atau yang lainnya.
"Silahkan duduk, bi." Tawar Tsamara dengan ramahnya, yang menyadarkan para asisten rumah tangga itu dari lamunannya. Mereka pun mengulas senyum, lalu segera duduk di sofa ruang tamu.
"Eh, iya non. Maaf jika kedatangan kami jadi mengganggu tuan dan non."
__ADS_1
"Tidak mengganggu, bi. Malah kami merasa senang, karena sudah lama, tidak bertemu kalian juga. Memangnya ada apa?" Tanya pak Abas, ketika laki-laki itu sudah menyandarkan punggungnya di sofa ruang tamu. Dan para asisten rumah tangganya sudah duduk rapi dihadapannya.
Para asisten rumah tangga itu saling siku menyiku. Tidak mau berbicara duluan. Karena merasa tidak enak.
"Tsamara buatkan minum untuk kalian dulu ya." Pamit Tsamara sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, tidak usah non. Kedatangan kami hanya ingin memastikan, bahwa apa yang mereka katakan tentang non benar adanya." Cetus salah satu asisten rumah tangga.
Tsamara menghentikan langkahnya, lalu menoleh menatap mereka.
"Apa maksudnya, bi?" Tanya Tsamara polos, karena memang tidak tahu kemana arah pembicaraan para asisten rumah tangganya itu.
Pak Ujang, sebagai Security dan orang yang melewati kejadian tadi pagi, langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, kepada majikannya.
Tsamara dan papanya terkekeh, ketika mendengar penjelasan dari asisten rumah tangganya itu.
"Apa? Mereka meminta foto bersama ku?" Ulang Tsamara tak percaya.
"Betul, non. Tapi saya sedikit beralibi, bahwa non Tsamara sedang sibuk pemotretan di luar kota. Jadi tidak mungkin pulang." Jelas security, yang membuat mereka terkekeh.
"Ternyata kamu bisa usil juga ya dengan orang lain." Ucap pak Abas pada pak Ujang security di rumahnya.
"Habis, saya jengkel. Melihat semua orang mencemooh non Tsamara. Giliran sudah langsing badannya, pagi-pagi gangguin orang santai, cuma buat minta foto bareng sama non Tsamara." Cetus security, yang membuat mereka kembali tergelak.
__ADS_1