Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
60. Malangnya nasib Anggara


__ADS_3

"Hai kak." Sapa Soffin pada Tsamara, saat ia hendak masuk mobil.


"Hai juga, Sof. Buruan masuk gih, sebentar lagi mau hujan." Titah Tsamara.


Bocah kecil itu pun segera membuka pintu mobil bagian belakang, lalu masuk. Matanya membulat melihat, beberapa bungkus es yang ada di jok kecil antara dua kursi kemudi depan.


"Wow, mendung-mendung seperti ini minum es sih?" Celetuk Soffin.


"Di luar mendung, di dalam panas. Kamu anak kecil tidak usah banyak tanya, kalau mau ambil saja." Tegas Anggara.


Dia memang tidak bisa bersikap lemah lembut pada anak kecil, jauh berbeda Thoriq. Pria itu sangat humble dan bisa nyambung ketika berbicara dengan siapa saja.


Sepanjang perjalanan pulang, Anggara lebih banyak adu mulut dengan Soffin. Karena keduanya sama-sama keras kepala. Sedangkan Tsamara, ia hanya diam saja sambil melihat perdebatan itu.


"Besok aku antar sekolah lagi ya." Ucap Anggara sebelum Soffin dan Tsamara turun.


"Tidak perlu. Kalau kamu terus mengantar jemput kami, bisa telat dong kamu tiba di perusahaan. Apalagi, kamu hari ini juga tidak masuk kerja kan?"


"Itu kan perusahaan milik sendiri. Mau berangkat atau bolos, tidak ada yang bakal memarahi. Santai saja." Ucap Anggara penuh jumawa.


"Benar juga apa katamu. Tapi aku tidak enak dengan pacar mu. Bagaimana kalau dia mengetahui kamu sedang mengantar Soffin sekolah, dan ada aku juga?"


"Tenang, itu bisa di atur." Balas Anggara santai.

__ADS_1


Tsamara menyunggingkan senyum, mendengar balasan dari pemuda dihadapannya. Ia benar-benar tidak percaya, bisa mencintai lelaki seperti Anggara.


Ternyata Anggara itu adalah laki-laki yang tidak baik. Jika dulu ia pernah menangisi karena pernikahan dengannya batal, kali ini ia justru merasa sangat bersyukur.


Karena ternyata Anggara adalah tipe laki-laki yang tidak bisa setia. Pemuda itu pernah mencintai Tsamara yang berbadan ramping, lalu pindah pada Olive, dan kini mulai menunjukkan tanda-tanda menyukai Tsamara lagi.


Benar-benar laki-laki yang plin-plan, dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya.


"Bagaimana Soffin?" Tsamara melempar pertanyaan pada adiknya. Anggara pun menoleh menatap adik dari gadis yang mulai kembali dicintainya.


Sesaat Soffin diam sejenak, sebelum memindai wajah kakaknya dan Anggara. Tsamara terlihat menganggukkan kepalanya, Soffin yang paham langsung ikut menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Okay, aku setuju besok di antar Anggara lagi." Ucap Soffin sambil tersenyum, dan memperlihatkan deretan giginya yang di gigit ulat.


"Hei, bocah kecil. Kamu itu harus sopan sama orang yang lebih dewasa darimu. Jangan cuma panggil nama saja, tapi harus ada embel-embel nya. Kak Anggara, begitu."


Anggara benar-benar geram dengan tingkah adiknya Tsamara. Kalau saja bocah itu bukan adik dari wanita yang kembali dicintainya, atau saat Tsamara tidak ada, pasti dirinya sudah menempeleng, mencubit, memukul atau tindakan anarkis lainnya.


Tsamara dan Soffin sekali lagi berpamitan pada Anggara. Pemuda itu berusaha agar terlihat baik-baik saja, dengan menyunggingkan senyum.


Kakak beradik itu akhirnya turun dari mobil. Anggara melambaikan tangan pada keduanya. Mereka pun membalas dengan hal yang sama.


Anggara pun segera melajukan mobilnya, keluar dari komplek rumah kontrakan yang mungil-mungil seperti rumah kurcaci.

__ADS_1


Sejak tadi ia belum membuka handphonenya sama sekali. Akhirnya ia pun merogoh handphone dan mengecek satu persatu akun media sosialnya.


Ia membulatkan matanya, ketika melihat deretan panggilan masuk dari Olive dan juga papanya. Seketika ia mengusap wajahnya kasar.


Pasti kedua orang itu akan melakukan tindakan anarkis padanya, karena tidak segera menjawab panggilan teleponnya.


Kini Anggara bingung, jalan mana yang harus ditempuh. Menemui Olive dulu, atau papanya dulu.


Karena bagaimana pun juga, ia harus tetap berada di samping Olive, untuk berjaga-jaga jika Tsamara menolaknya. Selain itu, Olive juga adalah anak orang kaya. Dan ia belum mendapatkan bagian dari kekayaan keluarga Olive.


Tapi di sisi lain, papanya tentu akan menghukumnya, dan mencoret namanya dari daftar ahli waris, jika dia berbuat seenaknya sendiri. Padahal Anggara adalah anak satu-satunya.


Papanya lebih ikhlas perusahaannya jatuh ke tangan keponakannya atau saudaranya yang lain. Jika Anggara masih berbuat sesuka hati.


Pemuda itu pun menarik nafas panjang dan mengeluarkan pelan-pelan. Lalu memilih membelokkan mobilnya ke perusahaan papanya.


Tak sampai setengah jam, ia sudah tiba di pelataran perusahaan papanya. Dengan cepat ia menginjakkan kakinya di lobby, lalu memencet tombol lift berulang kali. Berharap cepat sampai ruangannya.


Setelah pintu lift terbuka, ia berlari kecil menuju ruangannya. Tatapan aneh para karyawannya dari mulai turun dari mobil, sampai memasuki ruang kerjanya, tidak ia perhatikan.


Anggara duduk di kursi kebesarannya, sambil menghirup nafas lega. Karena berhasil masuk ke ruangannya dengan selamat.


Meskipun sudah ada AC, tetap saja ia masih terasa kepanasan. Akhirnya ia mengibaskan map yang ada di atas mejanya, untuk memberi angin di wajahnya.

__ADS_1


Brak...


Pintu ruangan Anggara terbuka dengan keras. Sehingga membuat pria itu tersentak kaget, map yang ada di tangannya seketika terjatuh dan mulutnya menganga.


__ADS_2