Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
115. Romansa pernikahan Olive dan Anggara


__ADS_3

Setelah selesai menghitung uang sumbangan, pak Anwar menyimpan uang itu di brankas kamarnya.


"Lumayan ya, pa. Kita dapat laba empat puluh tujuh juta dari hasil menikahkan anak kita. Tanpa harus repot-repot mengurus segala sesuatunya." Ucap mama dengan binar bahagia.


"Betul, ma. Uangnya bisa di pakai untuk membeli sesuatu."


"Tapi, hitungannya kok ganjil gitu ya pa. Kalau tambah tiga juta lagi, kan jadi genap lima puluh juta. Bisa di pakai untuk membeli perhiasan mama."


Wajah pak Anwar berubah tidak enak, karena ia sudah menyembunyikan uang tiga juta itu. Tapi kalau tidak disembunyikan, tentu uangnya akan habis di pakai untuk membeli perhiasan istrinya.


"Pa, kenapa wajah papa jadi seperti itu?" Mama menatap curiga pada suaminya.


"Jadi seperti apa? Masih tetap tampan kan?" Pak Anwar mengusap wajahnya, dan sedikit melempar gurauan.


"Seperti tegang begitu."


"Halah, mama ada-ada saja." Pak Anwar pura-pura terkekeh, untuk menutupi kecemasannya.


"Ma, bagaimana kalau uang itu di bagi dua saja. Untuk mama dan untuk papa."


"Memang papa minta uang, untuk apa?"


"Ya untuk pegangan saja."


"Kalau untuk pegangan, seratus atau dua ratus juga cukup. Toh papa juga masih mengurus perusahaan, pasti dapat laba banyak juga kan?"


"Untuk servise mobil butuh uang yang tidak sedikit, ma."


"Bukan kah bulan kemarin, mobil papa bari di servise?"

__ADS_1


Pak Anwar menelan saliva, karena jika sudah berhadapan dengan istrinya, ia bakal kalah. Sehingga perlu memutar otak lebih keras.


"Ya sudah, kalau mama tidak mau memberi."


Setelah merapikan uang, mereka berjalan menuju dapur. Menghitung uang sumbangan, selain menguras perasaan juga menguras tenaga. Jadi keduanya ingin makan siang.


"Waduh duh duh. Kalian kekenyangan ya?" Tanya mama, ketika melihat anak dan menantunya tengah duduk santai sambil memegangi perutnya. Bahkan piring kotor juga masih tergeletak di meja.


"Kalian menghabiskan rendangnya?" Tanya mama lagi, sambil melihat mangkok tempat rendang yang sudah habis isinya.


"Tinggal sedikit, daripada mubadzir ya kami habiskan saja." Balas Anggara.


"Ya ampun. Rendang semangkok di bilang sedikit? Padahal harusnya itu cukup sampai makan malam nanti lho." Gerutu mama, dengan raut wajah masam.


"Ish, itungan banget sih. Makanan kalau sudah habis ya sudah, tidak usah di ungkit-ungkit lagi. Kalau mau makan, ya masak lagi." Cerocos Olive panjang lebar.


"Perut sudah lapar, masih di suruh masak." Cicit mama kesal.


"Ya sudah, kalau tidak mau repot-repot memasak. Biar Olive dan mas Anggara keluarkan lagi. Ayo, mas." Olive bangkit berdiri sambil menggandeng tangan suaminya.


"Main keluar keluarkan segala, memang bisa?" Sungut pak Anwar kesal.


"Ya bisalah, tapi dalam wujud yang lain." Olive terkekeh di ujung kalimatnya.


Anggara pun juga ikut terkekeh, karena tahu apa maksud ucapan istrinya. Sedangkan mama dan papa berdecak kesal sambil geleng-geleng kepala.


"Punya anak dan menantu kenapa sama saja sih?"


"Betul, ma. Tahu gitu dulu kita tetap paksa saja, Anggara menikah dengan Tsamara. Gadis itu tambah cantik dan pasti tetap sopan."

__ADS_1


"Papa bicara seperti itu tulus dari hati, atau ada maksud lain?"


"Dua-duanya, ma."


"Apa! Papa kelewatan." Mama memukul tangan papa yang hendak menuang nasi ke piringnya, hingga tumpah.


"Eh, papa tidak sengaja ma. Sudah jangan banyak marah, nanti cepat tua. Ayo, kita makan saja."


Akhirnya mama juga mengikuti gerakan pak Anwar, mengambil nasi dan sayur yang ada. Keduanya tampak menikmati makan siang dengan lahap.


Setelah kenyang barulah keduanya menyadari, jika piring kotor anak dan menantunya masih tergeletak di atas meja.


"Waduh, mereka benar-benar kelewatan. Habis kenyang, terus tidak mencuci piring. Perlu di kasih pelajaran. Terutama si Olive. Di rumah mertua seperti itu tingkahnya."


**


Tanpa terasa, satu Minggu sudah Olive dan Anggara menjadi sepasang suami-istri.


Keduanya sering terlibat cekcok, karena apa yang mereka pikirkan tidak sejalan. Mereka sudah banyak mengetahui keburukan pasangannya masing-masing.


Apalagi Olive, yang selalu makan hati karena Anggara selalu menghina wajahnya yang mulai terlihat tidak cantik dan tidak menarik lagi.


Sedangkan Anggara, juga semakin jengkel dengan Olive. Karena istrinya itu tidak mau berdandan sama sekali.


Padahal ia juga memiliki banyak alat make up. Sehingga tak jarang pria itu harus mengoleskan lipstik di bibirnya secara paksa.


Namun, meskipun keduanya sama-sama jengkel dan saling melempar kata-kata pedas, tetap saja Anggara akan selalu meminta haknya untuk dilayani.


Sedangkan Olive yang awalnya tidak mau melayani, jika sudah di serang oleh Anggara, pasti juga akan luluh. Keduanya, tidak memandang waktu. Entah itu pagi, siang atau malam, akan selalu bertempur.

__ADS_1


__ADS_2