Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
151. Pulang


__ADS_3

Olive mempersilahkan mamanya duduk di ruang tamu. Lalu ia ke dapur untuk menyiapkan beberapa cemilan dan minuman.


Anggara sendiri membuka pintu rolling door bagasi, yang kini berfungsi sebagai tempat laundry. Setelah selesai, ia ikut bergabung dengan mama mertua dan istrinya yang tengah duduk di ruang tamu.


Mereka bertiga bercakap-cakap, meskipun tampak canggung.


Hampir tiga puluh menit, mamanya Olive di kontrakan. Ia pun pamit pulang, ketika teringat tujuan utamanya tadi pergi ke apotik, tapi malah belum jadi membeli obat yang di maksud.


Sebelumnya ia berpesan pada keduanya untuk terus menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga, rutin memeriksakan kandungan, dan berkabar dengannya jika terjadi sesuatu.


Olive dan Anggara menyimak baik-baik nasihat itu. Mereka sangat terharu, mama mau mengunjungi rumah kontrakannya yang terbilang sederhana dan cukup peduli dengannya.


Tak lupa mama memberikan uang cash pada Olive, untuk tambah-tambah biaya hidup. Karena ia tidak tahu berapa nomor rekening putri satu-satunya itu.


Selama ini, papanya Olive lah yang tahu berapa nomor rekeningnya. Karena selalu mentransfer uang padanya. Tapi setelah kejadian Olive pergi dari rumah, papanya tidak pernah lagi mengirim uang padanya.


Ketika mama bertanya berapa nomor rekeningnya, Olive juga enggan untuk memberitahukan. Karena ia tidak ingin merepotkan mamanya.


"Jaga diri baik-baik ya, sayang. Mama pasti akan sering-sering kesini, untuk mengunjungi kalian dan cucu mama tentunya." Ucap mama, saat berpelukan dengan Olive.


"Iya, ma. Olive pasti akan selalu menjaga diri." Balas Olive sambil mengurai pelukan. Setelah itu, pandangan mama beralih pada Anggara.


"Jaga anak dan cucu mama dengan baik. Kamu harus benar-benar bisa membuktikan ucapan mu."


"Iya, ma. Anggara akan berusaha."


Setelah berpamitan, mama pun keluar dari rumah kontrakan itu. Olive dan Anggara mengantarkannya sampai ambang pintu, dan menatap kepergiannya.


**


Sudah tiga hari Tsamara di rawat di rumah sakit. Selama itu juga Thoriq selalu setia berada di sampingnya.


Bu Husna dan pak Abas sebenarnya menyuruhnya untuk sesekali datang ke kantor. Tapi, pria itu menolaknya. Karena ia tidak ingin ketinggalan menyaksikan perkembangan istri dan calon bayinya.


Pagi itu, seperti biasa dokter mengecek kondisi Tsamara. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya. Karena pasiennya menunjukkan hasil yang bagus.


"Syukurlah, keadaan Bu Tsamara dan janinnya selalu mengalami peningkatan yang signifikan. Pendarahannya sudah berhenti sejak kemarin. Maka dari itu, hari ini saya mengijinkannya pulang."


Thoriq, pak Abas dan Bu Husna menghirup nafas lega, ketika mendengar penjelasan dokter. Setelah kepergian sang dokter, Bu Husna segera membereskan seluruh barang-barangnya dan bersiap pulang.

__ADS_1


Mereka sepakat untuk membawa Tsamara pulang ke kediaman Thoriq. Agar bisa lebih leluasa beristirahat di sana, tanpa harus kebrisikan dengan tingkah polah dan suara Soffin.


Thoriq mendorong kursi roda yang dinaiki Tsamara dengan hati-hati, sampai akhirnya mereka tiba di depan lobby rumah sakit.


"Thoriq, tolong jaga putri papa dengan baik ya." Pak


"Iya, pa. Thoriq akan berusaha menjaganya sebaik mungkin."


"Bagus, papa percaya padamu." Pak Abas tersenyum sambil menepuk bahu menantunya. Lalu pandangannya beralih pada besannya.


"Bu, titip putri saya ya."


"Kenapa harus berkata seperti itu sih, pak? Pasti saya akan menjaganya dengan baik. Karena dia adalah istri dari anak saya, dan sekaligus tengah mengandung cucu saya juga."


"Terima kasih bu, atas pengertiannya."


"Sama-sama, pak." Kedua besan itu saling melempar senyum, sebelum akhirnya mereka berpisah.


**


Sesampainya di rumah, Thoriq membantu Tsamara berpindah tempat, dari kursi roda ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati


"Kak, terima kasih selalu ada di sampingku setiap saat."


Setelah pulang dari rumah sakit, Tsamara hanya bisa beristirahat di atas tempat tidur. Untuk mengusir rasa bosannya itu, ia membaca artikel tentang cara menjaga kesehatan selama kehamilan.


Sedangkan suaminya yang telah selesai membersihkan diri, tertidur di sampingnya. Karena memang selama tiga hari di rumah sakit, ia tidak tidur sama sekali.


Tsamara sejenak melihatnya sambil menyunggingkan senyum, lalu mengusap lembut wajahnya.


**


Sebulan telah berlalu, Tsamara sudah kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Tapi tidak lagi mengantar jemput adiknya ke sekolah atau les. Karena papanya sudah menyuruh seorang sopir untuk mengantarkannya.


Soffin pun tidak lagi rewel dan menerima keputusan papanya dengan suka rela. Semua itu ia lakukan demi kakak tercintanya dan juga calon adik yang ada dalam kandungan kakaknya itu.


Tsamara lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca artikel, menulis novel, dan mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan seperti memasak.


**

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain, usaha Anggara dan Olive juga mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan.


Karena di tempat itu memang belum ada tempat laundry, maka banyak dari tetangganya yang menggunakan jasa laundry-nya.


Selain itu, hasil pekerjaan keduanya juga tergolong rapi dan wangi. Sehingga banyak orang ataupun tetangga yang menjadi langganannya.


Dalam seminggu sekali, mamanya Olive juga mengunjunginya. Tak lupa mamanya membawa oleh-oleh untuk anak dan menantunya.


Terkadang mamanya Olive membawakan sayur siap santap, sayur-sayuran yang masih mentah, cemilan, buah-buahan atau yang lainnya.


Seperti halnya pada pagi hari itu, setelah suaminya berangkat kerja, ia juga bersiap-siap untuk berangkat menuju rumah kontrakan Olive.


Mama memarkirkan mobilnya di dalam pelataran rumah kontrakan Olive. Setelah itu, ia pun melenggang masuk melalui tempat laundry.


Tanpa ia ketahui, seseorang tengah memperhatikannya dengan serius dari balik kaca mobil.


"Mama, yang ia lakukan di rumah itu? Apa ia mau laundry baju? Kalau iya, kenapa harus jauh-jauh datang kesini. Di sekitar rumah perasaan ada juga." Gumam laki-laki itu yang tak lain adalah pak Sanusi.


"Lhoh, itu kan Anggara, lalu dimana Olive? Jadi selama ini mama pergi diam-diam untuk menemui mereka?"


Cukup lama pak Sanusi melihat interaksi antara istri, anak dan menantunya yang terlihat akrab.


Sementara itu di dalam ruang laundry, setelah menyapa Anggara, mama berlalu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Anggara sendiri kembali melakukan pekerjaannya, menyetrika baju.


"Liv, kamu sedang memasak apa?" Tanya mama, ketika memasuki dapur dan melihat anaknya tengah berdiri di depan kompor.


"Mama, pagi-pagi sudah datang kesini sih?" Olive menoleh sejenak ke arah mamanya, lalu kembali melihat sayur yang baru ia tumis.


"Mama kesini sengaja mau nganterin sayur matang untuk sarapan. Pasti kalian sedang sibuk, jadi mana ada waktu untuk memasak. Di tambah lagi perutmu sudah semakin besar, pasti kamu juga sering kecapekan."


"Mama selalu saja begitu. Bagaimana Olive dan Anggara bisa hidup mandiri?"


"Bagi mama, dengan kalian jauh dari keluarga dan berusaha itu sudah bisa dikatakan hidup mandiri. Sekarang, matikan saja kompornya, kamu dan Anggara sarapan dulu."


"Iya, ma. Kebetulan ini juga sudah matang sayurnya."


Olive memindah sayur yang baru di masaknya ke piring saji. Mama pun membantunya menuang makanan yang baru ia bawa dari rumah ke piring saji juga.


Setelah itu Olive memanggil suaminya untuk sarapan pagi bersama.

__ADS_1


"Ya ampun, itu Olive? Perutnya sudah besar sekali." Gumam pak Sanusi, ketika melihat Olive masuk ke ruang laundry.


Mata pria itu berkaca-kaca, karena sudah dua bulan ia tidak bertemu dengan anaknya, dan tidak pernah lagi mengirim uang padanya.


__ADS_2