Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
33. Niat buruk Anggara


__ADS_3

"Silahkan tuan putri." ucap Anggara dengan penuh kelembutan, pada Olive.


Ia mempersilakan gadis itu turun dari mobil. Karena sudah sampai di restoran. Tangannya terulur, dan Olive menyambutnya dengan meletakkan satu tangannya di atas tangan milik laki-laki dihadapannya, dan diiringi senyuman terbaiknya.


Kini keduanya berjalan memasuki restoran dengan langkah pelan, dan anggun, seperti putri raja.


Keduanya kembali mencuri perhatian, karena penampilannya yang tampak menonjol diantara yang lain. Hal itu membuat keduanya semakin percaya diri.


Bahkan tak ragu mereka menyunggingkan senyum pada beberapa pasang mata yang melihatnya. Tingkahnya sudah seperti anak presiden yang sedang menikah.


Sehingga mereka yang tadi sempat memandang takjub ke arah keduanya, kini justru terkikik pelan. Agar pasangan Anggara dan Olive tidak mendengar.


Mereka pun duduk di bangku kosong yang terletak di bagian tengah. Agar semua orang bisa dengan leluasa memandang apa yang keduanya lakukan. Keduanya benar-benar haus pujian.


Tak berselang lama, setelah keduanya duduk, seorang waiters datang membawakan buku menu. Sejenak keduanya mengamati aneka menu makanan dan minuman yang disajikan di restoran itu.


Anggara lebih memilih menyamakan menu makanan dan minumannya dengan Olive. Agar terkesan lebih romantis. Setelah itu waiters pun berlalu pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.


Sambil menunggu pesanannya datang, Anggara kembali mengulang momen meminta Olive menjadi pacarnya.


Bahkan ia mengulurkan sebuah kotak bludru warna navy yang ia ambil dari kantong jasnya. Lalu membukanya.


"Olive, mau kah kamu menjadi pacar ku? Jika kamu mau, maka ambil cincin ini. Tapi jika tidak, ya sudah, jangan di ambil cincinnya."

__ADS_1


Olive yang tadi senyum-senyum sendiri, saat mendengar kalimat Anggara yang belakangan membuat senyum diwajahnya memudar.


Ia pikir, diterima atau tidak cintanya, tetap akan mendapatkan cincin emas yang indah sekali bentuknya itu.


Akhirnya, gadis itu pun mengangguk sambil tersenyum manis. Anggara begitu kegirangan. Ia melompat bahagia, seperti anak kecil yang mendapat permen.


Olive sedikit malu dengan tingkah Anggara yang tampak kekanak-kanakan. Bahkan saat menoleh ke kiri dan kanan, beberapa pasang mata kembali melihat ke arahnya dan terkikik geli karena tingkah absturd nya.


"Mas, di lihat orang. Malu tahu." protes Olive sambil mengerucutkan bibirnya. untuk memasangkan cincin di jari telunjuknya.


Laki-laki itu melakukan sesuai dengan permintaan gadis didepannya dengan baik. Keduanya saling melempar senyum, lalu berfoto bersama untuk mengabadikan momen indahnya.


Tak berselang lama, seorang waiters datang, membawakan pesanan mereka. Aroma yang keluar dari makanan yang ada di depan keduanya, sungguh membuat perut keduanya semakin keroncongan. Keduanya segera mencicipi hidangan itu.


Makan malam romantis itu akhirnya selesai. Anggara kembali mengantar Olive untuk pulang.


Dan, ketika sudah sampai rumah, Anggara memberanikan diri untuk mengecup sesuatu yang menarik hatinya, yakni bibir Olive.


Olive memejamkan matanya, bersiap menerima sesuatu yang akan membuat keduanya berdebar jantungnya.


Anggara tersenyum lebar, lalu melakukan apa yang diinginkannya. Semakin lama, semakin membuat keduanya menggelinjang tak karuan. Karena naluri kelaki-lakian pria itu mulai muncul dan begitu kuat.


"Olive!"

__ADS_1


Sebuah suara yang begitu mengejutkan keduanya. Siapa lagi kalau bukan suara milik papanya Olive, pak Sanusi.


Kedua insan yang tengah di mabuk asam urat itu segera melepas kecupan mereka. Dan tampak salah tingkah. Hingga Anggara garuk-garuk kepala yang berketombe.


Keduanya segera turun, lalu menghadap pak Sanusi. Anggara mengucapkan terima kasih pada papanya Olive, karena sudah mengijinkan untuk makan malam bersama.


Tak banyak bercakap-cakap, Anggara pun segera pamit pulang. Olive dan papanya menatapnya sampai bayangan mobilnya tak kelihatan. Lalu segera masuk ke rumah.


**


Olive menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasa senang, hingga senyum-senyum sendiri. Karena Anggara memperlakukannya dengan baik. Romantis sesuai dengan keinginannya.


Tak hanya itu saja, ia bahkan juga sering mendapatkan barang-barang berharga dan branded dari pria itu. Olive pun semakin senang.


Perlahan-lahan otaknya menginterupsi untuk mulai menyingkirkan nama Thoriq dari dalam hatinya. Karena gadis itu ingin memiliki seorang pasangan yang tidak hanya tampan saja, tapi juga kaya dan royal. Mau memberikan apa saja sesuai dengan keinginannya.


**


Sementara itu, Anggara juga melakukan hal yang sama. Yakni menghempaskan tubuhnya di atas ranjang tempat tidur. Badannya terlentang, dan pandangannya menerawang di atas langit-langit kamar.


Ia sangat senang, bisa mencicipi bibir Olive yang tampak menggemaskan itu. Ia juga senang, karena senjatanya tadi sempat turn on, hanya karena melakukan kecupan maut bersama pacar barunya itu.


Melintas sebuah ide crazy dalam benaknya. Tidak hanya sekedar menginginkan kecupaan bibir saja, tapi ia juga ingin sesuatu yang lebih jauh dari itu. Pasti rasanya akan jauh lebih nikmat. Ia pun menunjukkan seringai jahat.

__ADS_1


__ADS_2