
Tsamara berjalan menuju ke toilet. Ia melirik Anggara dan Olive yang tengah menikmati makan siangnya dengan tidak bernafsu. Karena keduanya saling diam dan muka di tekuk.
Anggara mengangkat kepalanya, dan melihat Tsamara tengah menatapnya. Gadis itu terpaksa menyunggingkan senyum. Anggara pun membalasnya dengan senyuman.
'Pasti Tsamara masih tidak bisa melupakan pesona ku. Ada laki-laki yang lebih tampan, eh tetap saja melirik ku.' batin Anggara jumawa.
"Sayang, aku pamit ke toilet dulu ya." Pamit Anggara pada Olive. Padahal pacarnya itu belum mengiyakan, tapi ia sudah kabur duluan.
Hanya ada dua toilet di restoran itu. Anggara menunggu Tsamara keluar dari toilet dengan berdiri di depan pintu. Satu pintu perlahan terbuka, dan Anggara berharap yang keluar Tsamara.
Tapi yang keluar, bukan Tsamara. Melainkan laki-laki melambai. Ya laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan.
"Hai, ganteng. Kamu sedang menunggu ku ya."
Dengan gemas laki-laki melambai itu menarik hidung Anggara dengan kuat. Sehingga kedua badan mereka menyatu.
Anggara syok untuk yang pertama kalinya merasakan di pegang oleh makhluk jadi-jadian. Hingga badannya bergetar.
Tak lama kemudian, Tsamara keluar dari toilet. ia terkejut melihat hal itu. Dan tak lama kemudian, ia terkikik.
Mendengar suara tawa Tsamara, laki-laki melambai itu menoleh menatapnya. Gadis itu seketika menghentikan tawanya.
Anggara yang merasa kesadaran makhluk jadi-jadian di hadapannya berkurang, segera menyentak kepalanya. Sehingga hidungnya terlepas dari tangan makhluk itu.
Tsamara merasa takut juga ditatap oleh makhluk dihadapan Anggara, sehingga ia berniat hendak lari. Tapi di cegah oleh oleh makhluk itu.
"Hei, tunggu."
"I-iya. Ada apa ya." Tanya Tsamara sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Kamu model obat pelangsing itu kan?" Tsamara menganggukkan kepalanya, pada makhluk jadi-jadian itu.
Si makhluk jadi-jadian itu mendekati Tsamara, lalu memegang badannya. Tentu saja hal itu membuat Anggara dan Tsamara terkejut.
"Wow, badan mu sungguh luar biasa indah. Aku juga ingin memiliki badan seperti mu. Tapi, apakah benar kamu dulu gendut dan sekarang langsing karena meminum obat itu?"
Tsamara merasa sedikit lega. Ternyata makhluk jadi-jadian itu tidak marah padanya. Tapi justru bertanya tentang hal lain.
Tsamara mengangkat dagu dan berusaha menyunggingkan senyum pada makhluk jadi-jadian itu, lalu dengan tegas menjawab iya.
Si makhluk jadi-jadian itu menoleh ke arah Anggara, lalu menyuruhnya pergi. Dan saat membentak itu, suara bass nya muncul. Sehingga membuat Anggara membeliak matanya, lalu segera berlari keluar.
Tsamara cukup takut, karena makhluk dihadapannya mengeluarkan suara aslinya. Tapi ia berusaha untuk tenang. Ya, kunci menghadapi segala sesuatu adalah, tenang.
"Kamu jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu." Ucap si makhluk jadi-jadian dengan suara yang kembali lembut. Tsamara menganggukkan kepalanya.
'Bukankah dia laki-laki? Kenapa menyebut dirinya perempuan? Oh iya, dia kan fifty-fifty (setengah-setengah)'. Tsamara bermonolog.
Gadis itu menyunggingkan senyum tipis. Selain untuk menghilangkan rasa nervous, juga agar terlihat ramah pada orang lain.
Ia mengingat bahwa dirinya adalah seorang brand ambassador. Jadi harus mampu membuat orang lain percaya padanya.
"Bisa kak. Asal kakak mengikuti petunjuk penggunaannya dengan baik. Dan ditambah dengan olahraga yang teratur. Agar langsing nya dapat, sehatnya juga dapat." Tsamara kembali mengulas senyum, setelah selesai menjelaskan.
Si makhluk jadi-jadian itu menganggukkan kepalanya.
"Bisakah aku memesan pada kamu? Lihatlah perut ku sangat bergelambir. Pelanggan ku kurang puas melihat badan ku. Jadi sepi deh orderan ku bulan ini. Sampai-sampai omset ku menurun drastis." Keluh makhluk jadi-jadian itu.
Tsamara ingin tertawa, tapi takut dosa. Dia pikir jual badan seperti jual rempeyek. Pakai acara omset menurun.
__ADS_1
"Bisa kak. Tapi sekarang aku tidak bawa produknya."
"Ya sudah, kapan kita bisa bertemu?"
"Em, mungkin besok siang. Atau kamu mau ikut aku ketemu sama owner nya."
"Hah, memangnya owner nya ada waktu luang untuk bertemu dengan ku?"
"Ayo, ikut aku." Ucap Tsamara sambil berlalu meninggalkan toilet. Si makhluk jadi-jadian itu menyunggingkan senyum, lalu berjalan mengekor Tsamara.
Thoriq dan Soffin terkejut melihat Tsamara datang bersama seorang laki-laki melambai.
"Hai." Sapa makhluk jadi-jadian itu, pada Thoriq dan Soffin.
"Wah, inikah kak owner-nya? Tampan sekali?"
Si makhluk jadi-jadian itu menowel dagu Thoriq. Tapi secepat kilat pemuda itu menghindar.
"Kak, kalau sama owner harus punya attitude." Ucap Tsamara, ia merasa tak suka jika ada yang berani memegang Thoriq.
"Oh benar juga. Siapa tahu dapat diskonan." Kekeh si makhluk itu lagi.
"Maaf kak Thoriq. Aku membawanya kesini, karena ia ingin membeli suplemen diet mu."
"Iya. Itu obat bisa kan untuk membuat badan ku langsing dan meliuk-liuk seperti kakaknya ini?"
Tangan si makhluk jadi-jadian itu menowel dagu Tsamara. Thoriq membulatkan matanya. Ia tak suka Tsamara di pegang oleh laki-laki lain.
"Jangan lakukan itu!" tegas Thoriq.
__ADS_1