Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
109. Kejutan dari Pak Abas


__ADS_3

Kini acara resepsi pernikahan di rumah Anggara di gelar. Ia dan istrinya sudah sampai di kediamannya kemarin sore.


Saat pagi sampai sore, keduanya ikut menyalami tamu yang hadir. Setelah itu, mereka ke kamar untuk membersihkan diri.


Kali ini Anggara mandi terlebih dahulu. Sedangkan Olive yang merasakan badannya begitu capek, langsung tertidur pulas di atas tempat tidur.


"Walah, kerbaunya malah ngorok sih." Gumam Anggara sambil membersihkan rambutnya dengan handuk, dan berjalan mendekati Olive.


"Hei, Olive." Pria itu membangunkan istrinya sambil menggoyangkan tubuhnya.


Setelah berulang kali, barulah Olive terbangun dari tidurnya yang sangat nyenyak.


"Apaan sih, mas?" Tanyanya dengan suara parau sambil mengucek matanya.


"Apaan-apaan. Kita ini sebentar lagi mau di rias. Ayo cepetan mandi." Anggara melemparkan handuknya, dan tepat mengenai wajah Olive.


"Huh. Menyesal aku menikah denganmu. Romantis cuma di awal saja. Seterusnya selalu buat aku makan hati." Setelah menggerutu, Olive bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamar mandi.


"Salah sendiri, kenapa juga mau menikah denganku." Gumam Anggara.


**


Setelah selesai mandi, keduanya mulai di rias. Kali ini keduanya memakai pakaian internasional. Anggara memakai tuxedo dan Olive memakai gaun yang panjang dan lebar.


Seharusnya, keduanya memakai pakaian internasional itu saat di kediaman Olive. Tapi karena MUA lupa menyiapkan kostumnya, jadi yang terbawa oleh mereka adalah pakaian adat Jawa.


Olive merasa pernikahannya dengan Anggara, begitu di penuhi dengan liku-liku yang tidak enak. Sehingga membuat kepalanya berdenyut nyeri.


Bayangkan saja, dari proses persiapan sampai pada hari H, semuanya tidak ada yang beres sama sekali.

__ADS_1


Mencari WO yang sangat susah dan justru nyasar ke gedung angker, kesusahan mencari jasa catering, Anggara salah menulis alamat rumahnya, dan kini malah turun hujan yang deras.


"Wah, hujan deras. Kesempatan kita bisa melewati malam kedua, Olive." Seloroh Anggara sambil menaikkan sebelah alisnya. Tapi istrinya tidak terlalu menanggapi.


Ibu hamil itu justru takut, jika hujan yang turun dengan deras, menjadi penghalang bagi tamu undangan untuk datang.


"Mas, pikiran kamu kenapa mesuum sekali sih?"


"Hei. Harusnya kamu bersyukur, aku memberikan nafkah batin padamu sampai tumpah-ruah, di saat kecantikan wajahmu mulai memudar. Kalau kamu tidak mau ya sudah, aku bisa jajan di luar." Sahut Anggara dengan sombongnya.


"Huh. Makan hati aku, menikah dengan mu." Gerutu Olive sambil menghentakkan kakinya.


Mereka pun kembali ribut, hingga kedua orang tua Anggara datang menghampiri keduanya.


"Anggara, Olive. Kenapa kalian berdua ribut-ribut seperti itu? Malu tahu." Ucap mama.


"Ini nih, ma. Olive..."


"Ayo, kita ke depan." Ajak mama.


Pasangan suami-istri muda itu, bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengikuti papa dan mama untuk mengikuti acara yang sebentar lagi akan di mulai.


**


Di tempat lain, Tsamara juga tengah bersiap-siap. Ia akan menghadiri pesta pernikahan Anggara dan Olive, bersama dengan keluarga besarnya dan Thoriq.


Meskipun tidak diundang, mereka tetap akan datang. Mereka akan membungkam mulut sombong keluarga itu dengan hal yang tak terduga.


Tsamara memakai gaun buntung lengannya, dan panjangnya sampai mata kaki berwarna merah menyala, dan terdapat belahan sampai di atas paha.

__ADS_1


Rambut hitam legamnya di sanggul rapi, bibirnya di poles dengan lipstik yang senada dengan warna bajunya. Parfumnya harum dan begitu memanjakan indera penciuman. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia keluar kamar.


Papa dan kedua adiknya pun juga terlihat keluar kamar, dan sudah berpenampilan rapi. Mereka saling memuji penampilan anggota keluarganya.


Tak lama kemudian, terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah. Bergegas Tsamara mengecek siapa yang datang.


Belum sempat pintu di ketuk, Tsamara sudah membuka pintunya. Thoriq tertegun menatap penampilan Tsamara yang sungguh menggoda. Hingga tak sadar tangannya masih terangkat ke atas.


"Kak Thoriq." Ucap Tsamara sambil menyunggingkan senyum.


"Ka-kamu, sudah siap?"


"Sudah. Kami sudah siap semua. Tunggu sebentar ya, kak. Aku mau panggil keluarga ku dulu."


Setelah berkata seperti itu, Tsamara segera berlalu masuk rumah. Sedangkan Thoriq masih terdiam menatap calon istrinya. Beberapa hari saja ia tak bertemu dengannya, terlihat begitu berbeda.


"Apakah aku akan menikahi bidadari?" Gumam pria itu.


Tak lama kemudian, Tsamara sudah kembali ke depan bersama dengan anggota keluarganya. Mereka pun berangkat bersama dengan mengendarai mobil Thoriq.


Thoriq dan pak Abas duduk di kemudi depan, sedangkan Tsamara dan kedua adiknya duduk di kemudi belakang.


**


Menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya rombongan itu tiba di tempat acara. Terlihat mobil-mobil yang terparkir rapi di sepanjang jalan menuju tempat acara. Bergegas mereka turun dari mobil dan berjalan beriringan.


Suara musik menggema begitu keras, dan berbaur menjadi satu dengan suara hiruk-pikuk para tamu undangan, yang telah memenuhi tempat acara.


Kedua orang tua Anggara yang tengah menyalami tamunya, begitu terkejut dengan kehadiran rombongan pak Abas. Apalagi dalam rombongan itu ada gadis cantik dan begitu bersinar di antara yang lain, yakni Tsamara. Mata pak Anwar seketika berbinar.

__ADS_1


"Hei, Abas. Aku kan tidak mengundangmu. Kenapa kamu berani-beraninya datang ke acara ini. Ingat, kami hanya menyediakan kursi untuk tamu dalam jumlah terbatas." Ucap pak Anwar dengan sombong, ketika pak Abas mengulurkan tangan hendak bersalaman dengannya.


__ADS_2