
Farah dan Soffin penasaran dengan cincin yang diberikan oleh Thoriq pada kakaknya. Keduanya pun akhirnya mendekati Tsamara.
"Mana coba lihat, kak." Ucap Farah sambil menarik tangan Tsamara dan melihatnya dengan seksama.
"Wow! Indah sekali. Pasti harganya mahal." Ucap Farrah dengan penuh kekaguman, sambil menatap benda kecil yang tampak indah berkilauan.
"Iya, cantik sekali." Imbuh Soffin.
Mereka kagum, karena Thoriq rela memberikan sesuatu yang tidak sedikit maharnya pada Tsamara. Sehingga gadis itu merasa begitu menjadi wanita yang spesial.
"Apa Thoriq melamar mu tadi, Tsa? Mengingat dia memberikan sesuatu dengan harga yang tak bisa dikatakan murah."
"Iya, pa."
"Oh, syukurlah. Papa senang sekali mendengarnya."
"Apa itu artinya kak Tsa akan menikah dengan kak Thoriq?" Tanya Soffin penasaran.
"Ya iyalah, Sof. Masa begitu saja tidak tahu?" Farah menoyor kepala adiknya.
"Aduh! Kak Farah." Sungut Soffin karena kesal. Tapi kedua kakak dan papanya justru menertawakan dirinya.
"Kapan Thoriq akan melamar mu, Tsa?"
"Dia akan bicarakan dulu dengan mamanya, pa."
"Semoga secepatnya ya, kak. Soffin sudah ngga sabar nih, serumah dengan kak Thoriq. Pasti tambah seru. Karena teman laki-lakinya ngga cuma papa saja."
Cetus Soffin yang membuat mereka terkekeh.
**
Sepanjang perjalanan pulang, Thoriq tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia sangat bahagia ketika Tsamara mau menerima lamarannya.
__ADS_1
Pria itu memang tidak ingin berpacaran, ingin langsung menikah saja. Karena ia sudah mengenal Tsamara cukup lama. Dari gadis itu masih berbadan gendut, sampai sekarang sudah seperti Dewi Fortuna.
"Ya Allah, semoga Tsamara adalah jodoh dunia dan akhirat ku." Gumamnya sambil fokus menyetir.
Tak lama kemudian, Thoriq sudah sampai di rumah. Dengan pelan ia memutar anak kunci, lalu membuka pintu ruang tamu.
Ia berjalan dengan pelan, karena tak ingin mengganggu ibu dan asisten rumah tangganya yang mungkin sudah tidur.
"Thoriq!" Seru Bu Husna, yang sudah berdiri dibelakang anaknya.
"Mama?"
Thoriq memutar badannya dan melihat mamanya sudah berada dibelakangnya. Pria itu mendekat dan mengecup punggung tangan ibunya.
"Kamu baru pulang?"
"Iya, ma. Kok belum tidur?"
"Mama bisa saja." Thoriq tersenyum tipis.
"Oh iya, bagaimana acara mu tadi? Berjalan lancar kan?"
"Lancar banget, ma. Dan akhirnya Tsamara mau menerima lamaran Thoriq, ma." Pria itu berbinar sekali wajahnya, saat mengatakan hal itu.
"Alhamdulillah, syukurlah sayang. Mama sangat senang mendengarnya."
**
Sementara itu, di tempat lain.
Anggara tengah memandangi satu persatu foto Tsamara dalam galeri handphonenya. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya sambil menelan saliva, karena tidak tahan dengan pesona Tsamara.
Bagaimana tidak, gadis itu sudah berubah menjadi sangat cantik dan begitu seksi. Semua foto-fotonya dengan mudah untuk diakses. Karena Tsamara sudah menjadi salah satu brand ambassador yang cukup terkenal. Beberapa kali ia juga diundang untuk mengisi acara sosial. Dan dia menjadi motivatornya.
__ADS_1
"Tsamara, kenapa kamu berubah menjadi cantik sekali seperti ini? Badanmu sungguh membuatku tidak bisa tidur. Andaikan waktu bisa diputar, pasti aku akan tetap mau menikahimu.
Tapi tenang saja Tsamara, tidak apa-apa jika dulu kita pernah gagal menikah. Karena pangeran mu ini akan datang untuk menikahimu di saat yang tepat. Kamu harus percaya itu.
Aku akan menjadikan mu istri keduaku. Dan kita berdua bisa hidup bersenang-senang dengan harta Olive yang melimpah itu.
Pasti kamu akan sangat senang dan bersyukur, karena ada pangeran yang setampan dan sekaya diriku. Mau menerima mu yang sudah jatuh miskin." Gumam Anggara, dengan tingkat percaya diri diatas rata-rata.
**
Di tempat yang lain, Olive tengah mengurung diri di kamarnya. Semenjak ia tahu jika dirinya tengah mengandung anak Anggara. Dia begitu dilanda stress.
Bagaimana tidak? Ia belum seratus persen menikmati kebahagiaannya sebagai seorang muda-mudi. Tapi, sudah hamil duluan. Dan sebentar lagi ia harus mengurus anaknya.
"Olive, ayo makan nak." Ucap mama sambil mengetuk pintu kamarnya.
"Olive masih kenyang, ma."
"Ingat, ada anak dalam perutmu."
"Anak-anak terus, yang diucapkan mama. Kalau Olive kelaparan terus anaknya meninggoi ya ngga apa-apa. Justru malah bagus itu." Celoteh Olive.
Akhirnya mau tidak mau, ia beranjak dari ranjang tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya.
"Syukurlah, akhirnya kamu keluar juga nak. Ayo kita makan sama-sama."
Mama mengurut dada sambil menyunggingkan senyum. Ia merangkul bahu Olive, dan mengajaknya berjalan bersama menuju ruang makan.
"Ingat, sayang. Kamu sudah mau menjadi ibu, tidak boleh bersedih. Nanti anakmu juga bakal ikutan sedih. Harus bahagia."
"Tapi, ma. Olive takut dengan papa. Dia marah sekali dengan Olive."
"Kamu harus bisa menaklukkan hati papa lagi. Dengan menguras harta Anggara."
__ADS_1