Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
106. Sungkeman


__ADS_3

Sedangkan di luar, kedua orang tua Olive berdiri untuk menyambut para tamu undangan yang sudah mulai berdatangan.


Tak lama kemudian, penghulu datang. Pak Sanusi menyapanya dan mempersilahkannya duduk.


Di jam yang sudah ditentukan, acara ijab qobul pun di mulai. Yang bertepatan dengan tamu yang telah memenuhi kursi undangan.


Anggara di panggil ke depan untuk menghadap penghulu. Dengan langkah berat, ia berjalan menuju meja akad.


Penghulu memberikan beberapa informasi pada Anggara, sebelum akhirnya prosesi sakral itu dimulai.


Seluruh tamu undangan, menatap serius ke arah calon mempelai laki-laki. Sedangkan yang ditatap, justru menunjukkan wajah kurang bersahabat. Karena dipikirannya masih terbayang dengan Tsamara.


Ternyata tidak mudah bagi buaya seperti Anggara untuk melepas masa lajangnya.


Penghulu mengulurkan tangannya pada Anggara, lalu pria itu hanya membalas sekedarnya saja. Termasuk ketika mengucapkan kata ijab dan qobul. Sehingga membuat para tamu undangan menatap aneh padanya.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah." Balas mereka dengan tidak bersemangat pula, seperti pengantin prianya.


Setelah mendengar kata sah, kedua orang tua Olive mendekati putrinya yang masih duduk di ruang rias.


"Olive, ayo kita ke depan." Ajak mama.


"Hem, harusnya ini menjadi hari bahagia. Tapi malah semua terlihat tidak bersemangat." Gumam pak Sanusi.


"Olive bersemangat kok, pa." Sahut Olive cepat.

__ADS_1


"Tuh, suamimu. Mengucapkan ijab qobul saja, suaranya lembek begitu. Kurang lantang."


Olive yang berada di ruangan juga mendengar ikrar ijab qobul itu. Ia sedikit kecewa mendengar suara Anggara yang terkesan seperti tidak ikhlas.


Tapi tidak mengatakannya pada kedua orang tuanya. Ia tidak mau ada keributan di hari pernikahannya. Yang bisa saja membuatnya malu.


"Lantang kok, pa. Olive juga mendengarnya dari sini."


"Apa kamu sudah jatuh cinta beneran dengan dia? Sampai-sampai tumben sekali kamu membelanya."


"Sudahlah, pa. Jangan bahas itu dulu. Olive tidak mau ada keributan." Ujar mama menengahi.


Olive bangkit dari duduknya, lalu ia dan kedua orang tuanya berjalan menuju pelaminan.


Semua orang menatap ke arah mempelai wanita. Lalu mulai berkasak-kusuk membicarakannya.


Seingat kerabat dekat, tetangga dan beberapa rekan kerja melihat Olive yang begitu cantik, saat kepulangannya dari luar negeri.


Tapi kini dalam waktu kurang dari setengah tahun, wajahnya sudah berubah menjadi kurang cantik.


Anggara yang melihatnya juga tampak biasa saja.


Kini Olive sudah sampai di dekat Anggara, lalu duduk di kursi yang ada disampingnya. Setelah menandatangani dokumen pernikahan, Olive dipersilahkan mencium punggung tangan suaminya. Dan suaminya dipersilahkan untuk mengecup kening istrinya sambil menyematkan doa.


Kedua mempelai itu kini saling berhadap-hadapan dan melakukan apa yang telah diperintahkan oleh penghulu.


Tidak ada tatapan cinta disana. Yang ada justru perasaan jengkel, karena masing-masing pasangannya tidak mau bersikap romantis pada pasangannya.

__ADS_1


Setelah itu, kedua mempelai dipersilahkan duduk di kursi pelaminan. Lalu serangkaian acara dilanjutkan kembali.


Saat prosesi sungkeman, biasanya kedua orang tua dan mempelai akan terisak menangis. Tapi hal itu tidak berlaku untuk mereka. Karena mereka justru terlihat biasa-biasa saja.


"Anggara, kamu sudah menjadi suami anakku. Mulai sekarang, kamu harus bertanggung jawab penuh pada putriku. Jika kamu sampai menelantarkannya, lihat apa yang akan terjadi padamu." Ancam pak Sanusi, saat Anggara bersimpuh dihadapannya.


"Tenang saja, papa tidak salah pilih menantu. Anggara akan menjadi suami yang baik, asalkan Olive juga bisa menjadi istri yang baik."


"Anakku sejak dulu memang baik. Semua ini karena ulah mu. Sehingga membuat Olive harus cepat-cepat menikah."


"Terserah apa katamu saja, pa." Balas Anggara santai. Sehingga membuat pak Sanusi hatinya bergejolak. Wajahnya memerah menahan amarah.


Olive mendengus kesal, karena papa dan Anggara terlibat cekcok.


"Papa, Anggara, Sudah! Lihatlah, para tamu undangan sedang memperhatikan kita." Bisik mama.


Olive dan Anggara bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju kedua orang tua Anggara, dan bersimpuh dihadapan mereka.


"Olive, kamu harus menjadi istri yang baik bagi suamimu. Bantu dan dukung dia. Karena bagaimanapun juga, ia bekerja juga untuk mencukupi kebutuhan mu dan bayimu." Ucap pak Anwar.


"Bayiku? Bukankah bayiku, juga bayi mas Anggara juga. Karena kami sudah resmi menikah. Ingat ya pa, ma, yang minta duluan adalah mas Anggara. Lagian kamu jadi orang tua sudah tua, mau mati juga, kebanyakan ulah." Semprot Olive dengan wajah merah padam, menahan amarah.


"Kamu jadi anak mantu saja kenapa berani sekali?" Semprot mamanya Anggara.


"Bukan kah suami itu panutan? Kalau tadi mas Anggara melakukan hal itu pada kedua orang tua Olive. Sekarang Olive pun juga melakukan hal yang sama." Sahut Olive santai.


"Oh, jadi kamu mau balas dendam?" Kedua orang tua Anggara kompak bertanya.

__ADS_1


"Ya, pikir saja sendiri." Balas Olive santai.


__ADS_2