
"Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu, pasti gara-gara pesan dari anaknya pak Anwar ya." tebak pak Sanusi, ketika melihat anaknya, yang memegang handphone sambil tersenyum.
"Tahu nggak, pa. Anggara itu baik banget lho. Kemarin Olive batu dibelikan tas merk Gantungan Kunci seharga seratus juga lebih." Olive yang tadi duduk santai di atas kursi ruang kerjanya, kini mencondongkan tubuhnya ke arah papanya yang ada didepannya.
"Apa itu tandanya kamu mulai menyukainya? Atau kamu menyukainya karena dia royal padamu?"
Olive menarik tubuhnya, lalu menyandarkan di kursinya lagi.
"Awalnya tidak tertarik. Tapi semakin kesini, Olive mulai ada rasa dengannya, pa. Dia cukup tampan, dan sangat royal."
"Lalu, bagaimana dengan Thoriq? Kemana dia? Apa kalian sudah tidak berhubungan lagi? Bagaimana kalau pacar mu itu sampai tahu hubunganmu dengan, Anggara?" cerca pak Sanusi ke anaknya.
Ketika mengingat nama Thoriq, sebenarnya hati Olive selalu bergetar. Tapi, ia adalah pria yang sulit untuk ditaklukkan.
Olive merasa sangat terbakar cemburu, ketika melihatnya justru bisa dekat dengan Tsamara dan adiknya. Padahal jika dibandingkan dengan dirinya, Tsamara itu tidak ada apa-apanya.
Tsamara memiliki badan gendut sampai lipatan badannya terlihat jelas, kulitnya yang kusam, rambut yang di kuncir asal, dan wajah yang polos tanpa riasan.
Berbeda jauh dengan Olive yang memiliki badan langsing, kulit putih bak lantai keramik, rambutnya tergerai indah, dan wajah yang selalu tampil cantik, karena tak pernah berhenti memoleskan make up.
Olive yakin, pasti si gendut itu menggunakan jampi-jampi, makanya Thoriq bisa dekat dengannya.
__ADS_1
Tapi untuk mendekatinya kembali, ia merasa sudah sedikit malas. Lebih baik, berada di dekat Anggara. Pria yang selalu memberikan apa yang dia minta.
Termasuk siang itu, laki-laki itu akan mengantarkannya menuju salon langganannya.
Di tengah keheningan karena Olive tengah melamunkan dua pria itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk." titah, pak Sanusi.
Olive pun tampak kelabakan, ketika mendengar suara keras milik papanya. Hingga ia memperbaiki posisi duduknya.
Muncul seorang pria dari balik pintu yang terbuka itu. Pria itu mengurai senyuman, ke arah Olive dan papanya. Lalu berjalan mendekat.
"Siang, pak. Siang, Olive." sapanya terlihat sopan. Lalu mengulurkan tangannya pada orang yang di sapanya tadi.
Sejak pandangan pertama, pak Sanusi memang terlihat tidak menyukai pria itu. Karena ia tidak becus saat melakukan presentasi.
Tapi, anaknya justru malah sering jalan bareng dengannya. Membuat pak Sanusi tidak bisa apa-apa. Karena anaknya juga terlihat nyaman dengannya.
"Hai. Ayo kita berangkat sekarang." ajak Olive dengan penuh semangat, sambil menyambar tas kerjanya.
Ia sengaja mengajak Anggara buru-buru keluar meninggalkan tempat kerjanya, agar papanya tidak melulu menanyakan tentang Thoriq.
__ADS_1
"Pa, kami berangkat dulu ya." Olive mengecup pipi kanan dan kini papanya. Terlihat begitu bersemangat. Lalu giliran, Anggara yang bersalaman dengan pak Sanusi.
Keduanya berjalan meninggalkan ruang kerja Olive. Pak Sanusi menatap punggung keduanya, yang menghilang di balik dinding ruangan.
"Kamu masih cantik, kenapa harus pergi ke salon?" tanya Anggara, ketika mobil sudah melaju.
"Ke salon itu kan tidak menunggu jelek dulu, Anggara."
Setelah sampai salon, tampak mobil yang berjejer memenuhi pelatarannya. Untung saja, Olive sudah booking hari dan jam. Jadi ia tidak harus mengantri.
Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan ketika memasuki salon. Keduanya segera di sambut oleh karyawan salon dengan ramah.
"Kamu duduk di kursi tunggu dulu saja ya, mas. Tuh tempatnya." Olive menunjuk kursi yang berderet di dekat pintu masuk.
"Okay." balas Anggara singkat, sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, yang cukup ramai. Ia pun duduk di kursi tunggu sambil membuka aplikasi handphonenya.
Sedangkan Olive duduk di depan meja rias, siap untuk melakukan berbagai macam treatment. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Anggara yang tampak sibuk dengan handphonenya. Ia tersenyum tipis, karena laki-laki itu setia menemaninya saat ke salon.
'Hem, enak juga ya kalau punya teman laki-laki secare dia. Tapi, dia itu benaran suka sama aku ngga sih? Kalau suka, kenapa ngga ada pernyataan cinta? Paling tidak aku dikasih cincin berlian atau apalah. Sebagai tanda keseriusannya. Sepertinya nanti aku harus bertanya. Agar jelas statusnya. Kalau cuma dijadikan teman tapi mesra, juga tidak apa-apa. Asalkan semua permintaan ku harus dituruti.' batin Olive tersenyum smirk.
Anggara masih betah memegang handphonenya. Semua akun media sosialnya, tak luput dari pantauan nya. Termasuk akun wajah buku, yakni Facebook.
__ADS_1
Di saat membuka akun itu, ia terus menggulir layarnya ke bawah. Sampai akhirnya ia membaca sebuah iklan lewat dari novel.
Tertarik, ia pun membaca cuplikan isi novel tersebut. Ia terkekeh ketika selesai membacanya. Karena semakin tertarik, akhirnya ia mengunduh aplikasi novel online itu. Demi bisa melanjutkan membacanya.