Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
119. Kecemburuan Anggara dan Olive


__ADS_3

Olive melajukan mobilnya sambil menggerutu sepanjang perjalanan pulang dari kediaman pak Abas.


Ia memaki Tsamara, seolah gadis itu merebut Thoriq darinya. Ia juga menghinanya dengan berbagai kata yang buruk dan tidak pantas untuk diucapkan.


Sama halnya dengan Olive, Anggara juga menggerutu sepanjang perjalanan pulang. Ia tidak terima jika Tsamara sebentar lagi akan menjadi milik Thoriq. Baginya yang pantas berdampingan dengan gadis itu, adalah dirinya.


Akhirnya, Olive sudah sampai di kediaman Anggara. Tak berapa lama kemudian setelah ia memarkirkan mobilnya di carport, terlihat mobil suaminya juga memasuki carport.


Setelah itu, pasangan suami-istri yang sering tidak akur hubungannya, keluar dari mobil yang berbeda secara bersamaan.


"Dari mana kamu?" Tanya Anggara pada Olive, dengan masih menunjukkan wajah yang sebal.


"Dari rumah mama." Sahut Olive tak kalah ketusnya, seperti sang suami.


Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu, meskipun keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah.


"Heran. Punya anak dan menantu kenapa sikapnya sama saja. Pulang-pulang wajahnya sudah seperti baju kusut yang tidak pernah di setrika. Padahal di sini ada papa dan mama, tapi tidak di sapa. Memang kami ini makhluk tidak kasat mata?" Gerutu mama, yang berada di ruang keluarga.


"Halah, mama seperti tidak tahu saja kebiasaan mereka. Meskipun di luar menunjukkan wajah seperti itu, tapi di dalam kamar mereka bagai lintah dan kulit manusia. Sulit untuk bisa di pisahkan." Balas papa santai, sambil mengganti channel televisi.


"Papa, pikirannya selalu saja seperti itu. Pasti Anggara juga seperti itu, karena menurun sikap papa. Iya kan?"


"Lhah, kok jadi papa yang di salahkan? Ya sudah, terserah mama saja deh."


**


Di dalam kamar, Anggara tampak memicingkan matanya. Ketika menyadari Olive memakai dress selutut berbahan glossy, yang biasanya di pakai untuk menghadiri suatu pesta.

__ADS_1


"Olive, kamu beneran dari rumah mama?"


"Iya lah. Memang mau dari mana lagi." Sahut Olive dengan tetap ketus.


"Kalau beneran ke rumah mama, kenapa kamu memakai dress seperti yang biasa di pakai untuk pergi ke pesta?"


Ibu hamil itu pun menghentikan gerakan tangannya, yang sedang menurunkan resleting dress-nya. Lalu memutar badannya dan menatap Anggara.


"Katanya kamu juga dari tempat teman, kenapa memakai jas seperti orang habis menghadiri acara penting?" Balas Olive tak mau kalah.


Anggara seketika mati kutu, karena istrinya juga menaruh rasa curiga padanya.


"A-aku dari rumah teman kok. Beneran deh."


"Sama, aku juga dari rumah mama. Lagian tahu istrinya hamil, malah tidak ditemani dan di suruh berangkat sendiri. Sungguh tega. Suami macam apa kamu?"


Olive melepas bajunya dan dengan gerak cepat, melemparkannya ke arah Anggara dengan kesal. Kemudian wanita itu berlalu menuju kamar mandi.


"Rasakan pembalasan ku nanti." Gumamnya lagi, sambil berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Olive mengguyur tubuhnya dari pucuk kepala, agar kepalanya yang panas kembali dingin. Karena sejak tadi ia begitu kepanasan melihat pujaan hatinya memperlakukan Tsamara dengan begitu istimewa.


Setelah puas mandi dan kepalanya terasa cukup dingin, Olive keluar dari kamar mandi. Ia begitu terkejut, ketika tiba-tiba seseorang memeluknya dengan erat.


"Anggara!" Olive memekik dengan keras, ketika melihat siapa orang yang mengejutkannya.


"Kenapa kehadiran mu seperti setan? Hingga membuatku hampir pingsan." Gerutu Olive, sambil berusaha melepaskan pelukan Anggara.

__ADS_1


"Enak saja, kamu bilang aku setan. Orang ganteng begini."


"Lepaskan! Aku mau segera tidur."


"Tidur bagaimana? Harusnya kamu paham, kalau aku sudah seperti ini, tandanya mau apa."


"Mau apa? Mau gendong aku?"


"Ampun. Punya bini satu saja, otaknya lemot banget." Anggara menepuk jidatnya.


Tanpa harus menjelaskan, ia segera menggendong tubuh Olive dan meletakkannya di atas tempat tidur.


**


Di dalam kamar samping, mama dan papa geleng-geleng kepala mendengar keributan yang terjadi di dalam kamar Anggara. Pasalnya kamar itu memang tidak di sertai dengan pengedap suara.


"Mama heran, kenapa dua bocah itu hobi sekali bertarung setiap hari. Tidak siang, tidak malam, tidak pagi selalu saja itu yang mereka lakukan. Lama-lama mama bisa gila mendengarkan suara mereka. Kalau begitu, lebih baik mama pindah kamar saja. Biar bisa tidur dengan nyenyak."


Mama pun berniat keluar kamar, tapi tahannya di tahan oleh pak Anwar.


"Tunggu, ma. Papa ikut." Pak Anwar meraih handphone yang ada di atas nakas, dan berlalu mengikuti istrinya.


Keduanya pindah tidur di kamar tamu.


"Lebih baik mulai besok kita pindah di sini saja, pa."


"Iya, papa setuju. Kalau kita masih bertahan di kamar lama, papa juga bisa gila seperti Anggara. Setiap hari akan minta jatah sama mama."

__ADS_1


"Bukan papa yang ketularan Anggara. Tapi Anggara lah yang ketularan papa. Sudah tua dan mau punya cucu, masih saja seperti pengantin baru sikapnya."


"Mama tahu saja. Itu tandanya papa beneran sayang dengan mama." Pak Anwar mencolek-colek dagu istrinya, sambil tersenyum genit.


__ADS_2