Gagal Menikah Gara-gara Gendut

Gagal Menikah Gara-gara Gendut
107. Malam pertama


__ADS_3

Setelah prosesi sungkeman selesai, kedua mempelai bangkit dari duduknya lalu berjalan bersama menuju kursi pelaminan.


Meskipun berjalan beriringan, keduanya terlihat tidak romantis sama sekali. Karena Anggara berjalan sedikit lebih cepat dari Olive. Padahal Olive sedang kesulitan berjalan, karena memakai kain jarik yang dililit kencang.


"Mas, kamu itu nyebelin banget sih. Harusnya kamu menungguku, bukan malah meninggalkan ku." Gerutu Olive sambil menepuk pelan paha Anggara.


"Meninggalkan mu bagaimana? Orang kita jalan sama-sama."


"Ingat ya, mas. Kita ini baru jadi ratu sehari, harus tampil mempesona dihadapan para tamu undangan."


"Iya-iya, bawel."


"Mas!" Olive menatap jengkel ke arah suaminya.


Tentu saja, keributan kecil dan mimik wajah yang tidak bisa dibohongi, sangat mencuri perhatian para tamu undangan.


"Sepertinya mereka tidak niat menikah. Gelagatnya saja seperti itu." Celetuk salah satu tamu undangan.


"Benar. Mungkin memang benar, keduanya menikah karena kecelakaan. Jadi melakukan ini karena terpaksa." Timpal yang lain.


Celotehan para tamu undangan, kembali terdengar lirih.


Setelah melewati satu persatu acara ijab qobul dan resepsi pernikahan, akhirnya acara itu selesai juga.


Satu persatu tamu undangan bangkit berdiri dan menyalami keluarga kedua mempelai. Mereka mengucapkan doa agar rumah tangganya bisa harmonis. Tak lupa juga, untuk memberikan amplop sumbangan.


Setelah acara benar-benar selesai, mereka masuk ke rumah. Olive dan Anggara berjalan menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas. Sesampainya di depan pintu, keduanya berdesakan ingin masuk duluan.


"Aku dulu." Ucap Anggara.


"Tidak bisa! Ini kamar ku, jadi yang masuk duluan ya aku." Bantah Olive.


"Hei, ingat. Kita ini sudah menikah, jadi kamarmu ya kamarku."

__ADS_1


"Iya, betul apa katamu. Tapi aku ini sedang hamil, dan ingin segera istirahat." Bantah Olive lagi, lalu mendahului masuk kamarnya. Dan diikuti oleh Anggara.


Keduanya bersamaan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Ih, apa-apaan sih kamu. Main dorong-dorong saja." Gerutu Olive sambil mendorong tubuh suaminya, yang ada disampingnya.


"Apaan sih, Liv. Nanti kalau aku jatuh gimana? Tempatnya tinggal sedikit."


"Sedikit bagaimana? Tuh, masih banyak." Olive menunjuk tempat tidur yang ada disamping Anggara.


Namun Anggara masih tetap tidak mengalah dan gigih mempertahankan tempatnya, sehingga membuat Olive terjatuh tepat di atas tubuhnya. Keduanya saling beradu pandang.


"Olive, ini kan malam pertama kita. Ayo kita lakukan hal itu sekarang." Ucap Anggara sambil menaik turunkan alisnya.


"Malam pertama? Malam pertama kita sudah lewat. Aku saja sudah hamil duluan." Sungut Olive kesal, lalu berniat menjauhkan tubuhnya dari atas badan Anggara. Tapi pria itu segera memeluknya erat.


"Tapi ini kan malam pertama kita sebagai pengantin baru. Ayolah Olive, kita nikmati waktu kita berdua."


Tentu saja tenaga Olive kalah kuat dengan Anggara. Sehingga kini wanita itu berada dibawah kukungan nya. Pria itu mulai membuka baju istrinya.


Namun Olive berusaha mempertahankannya, karena ia sangat capek dan benar-benar ingin istirahat.


Anggara dengan sekuat tenaga melepaskan tangan Olive yang menutup bajunya, dan akhirnya berhasil.


Pria itu segera melakukan aksinya. Untuk sesaat ia melupakan kecantikan Olive yang memudar. Asalkan kebutuhan batinnya terpenuhi. Karena terlanjur penampilannya amburadul, akhirnya Olive melayani juga keinginan Anggara.


Keduanya hanyut dalam malam pertama. Bahkan mereka tidak hanya melakukan sekali saja, tapi sampai berulang kali.


Setelah itu keduanya merebahkan diri di atas tempat tidur sambil memejamkan mata, karena merasa kelelahan. Bahkan peluhnya mengucur deras dari wajah dan tubuh mereka.


**


Keesokan harinya, sepasang pengantin baru itu bangun kesiangan. Karena saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh, barulah mereka menggeliat.

__ADS_1


Arghhh....


"Tubuhku sakit sekali." Rintih Olive, dan perlahan duduk.


Huam....


Anggara merentangkan kedua tangannya sambil menguap lebar sekali.


"Mas, bau mulutmu." Olive menutup hidungnya.


"Wajar saja dong, Olive. Kalau baru bangun tidur pasti bau."


Saat Anggara menoleh pada Olive yang masih polos, otak liarnya muncul lagi. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung menerkam Olive.


"Sebelum mandi, ayo kita satu ronde lagi." Ajak Anggara, lalu menghujani Olive dengan kecupan.


Meskipun seluruh tubuhnya terasa remuk, Olive tidak bisa berkutik. Pagi menjelang siang itu mereka hanyut bersama.


Ditengah-tengah keduanya sedang saling memuaskan, terdengar suara ketukan pintu.


"Duh, siapa sih itu? Mengganggu saja." Gerutu Anggara.


"Olive, kenapa kamu belum juga bangun? Ini sudah hampir siang. Kamu ngga sarapan pagi dulu?" Teriak mama, dari balik pintu.


"Sebentar ma, kami sedang produksi." Balas Anggara apa adanya.


"Mas!" Wanita itu lalu menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. Menyuruh suaminya untuk diam.


"Malu tahu." Imbuhnya.


"Kenapa harus malu? Papa dan mama dulu pernah mengalami hal ini juga kok."


Anggara pun kembali memacu gerakannya. Sedangkan mama yang berada di luar, geleng-geleng kepala karena sikap menantunya yang tidak tahu malu.

__ADS_1


__ADS_2